Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram

Takdir Mubram yaitu ketentuan Allah yang sudah pasti dan tidak dapat diubah.

Contoh: kematian seseorang, datangnya Hari Kiamat, jodoh dan jenis kelamin.

Dalam masalah hidup dan mati manusia sama sekali tidak bisa merencanakan. Umur tidak dapat diperpanjang maupun di perpendek, apalagi sampai menolak kematian.

Dalam Alqur'an Allah SWT telah menjelaskan:

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram

"Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.

Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka menyatakan ini, dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan "ini dari engkau (Muhammad)."

Katakanlah, semuanya datang dari sisi Allah."

Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun) ?" (Q.S. an-Nisa [4] : 78).

Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan:

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram


"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang dikehendaki Allah." "Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (Q.S. Yunus [10] : 49).

Jadi takdir mubram itu pasti terjadi. Tidak ada kekuatan yang dapat menolaknya.

Setinggi apa pun ilmu manusia tidak mengalahkan ilmu Allah SWT,

secanggih apa pun teknologi manusia tidak mengalahkan teknologi Allah,

dan setinggi apa pun kekuasaan manusia tidak bisa mengalahkan kekuasaan Allah SWT.

Baca: Pengertian Qada dan Qadar.

PENGERTIAN QADA DAN QADAR

PENGERTIAN QADA DAN QADAR

Qada adalah keputusan atau ketentuan Allah SWT terhadap semua makhluk-Nya atas segala sesuatu apa yang akan terjadi di dunia maupun di akhirat.

Qadar adalah segala ketentuan Allah SWT yang telah terjadi.

Atau kalau kita mau mengatakannya secara singkat. Qada adalah ketetapan Allah SWT atas makhluk-Nya sebelum terjadi, sedangkan Qadar adalah pelaksanaan dari ketetapan tersebut.

Qada  dan Qadar biasa disebut takdir.

Hal ini sudah dijelaskan dalam Surah al-Hadid ayat 22 bahwa tidak ada sesuatu kerusakan (bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak pula yang menimpa diri kamu melainkan telah sedia ada di dalam kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.

Jadi, apa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi pada diri kita sudah ada ketentuan dari Allah. Allah sudah merencanakan semuanya.

Hukum Alam atau hukum sebab akibat memang ada. Tetapi tidak mustahil bila qada dan qadar Allah tidak sesuai dengan hukum alam.

Karena Allah Maha Berkehendak dan Maha Pemberi Keputusan.

Di sisi lain Allah menghargai usaha yang dilakukan manusia. Cuma manusia tidak tahu apakah takdirnya tetap atau dapat berubah.

Oleh karena itu pada dasarnya takdir itu ada dua macam, yaitu: takdir mubham (pasti dan tetap) dan takdir mualaq (dapat berubah dengan ikhtiar).

Baca juga : Hukum Mengucapkan Sayyidina Saat Bershalawat.

Demikianlah pengertian qada dan qadar kami kutip dari buku Akidah Akhlaq untuk Mts kelas IX. Semoga bermanfaat.

HUKUM MENGUCAPKAN SAYYIDINA SAAT BERSHALAWAT

HUKUM MENGUCAPKAN SAYYIDINA SAAT BERSHALAWAT

Bagaimana sebenarnya hukum mengucapkan "sayyidina" pada shalawat kepada Nabi saw., terutama dalam shalat?

Melafazkan kata sayyidina dalam bacaan shalat maupun di luar shalat menurut Ahlussunnah wal Jama'ah sunnah dan dianjurkan. Kata-kata sayyidina atau tuan atau yang mulia seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat.

Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Banjuri menyatakan:

الأولى ذكر اسيادة لأن ألأ فضل سلوك ألأدب

"Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi saw), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada beliau)." (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal. 156).

Pendapat ini didasarkan pada hadis Nabi Saw :

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Saya adalah sayyid (penghulu) anak Adam pada Hari Kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafa'at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa'at." (Shahih Muslim, 4223).

Hadis ini menyatakan bahwa Nabi saw menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad Saw menjadi sayyid hanya pada Hari Kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia di dunia dan akhirat.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani: "Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad saw di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadis 'Saya adalah sayyidnya anak cucu Adam di Hari Kiamat.'

Tapi Nabi saw menjadi sayyid keturunan Adam di dunia dan akhirat." (Dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169).

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi saw membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad saw sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan.

Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat. Maka mengucapkan kata sayyidina ketika menyebutkan nama Nabi saw adalah dianjurkan untuk memuliakan dan menghormati Nabi saw dan juga untuk mendudukkan posisi Nabi sebagaiamana yang seharusnya.

Sedangkan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi saw melarang mengagungkan beliau dan juga hadis ketika beliau ditanya tentang bagaimana membaca shalawat kepada beliau yang dijawab dengan Allahumma Shalli ala Muhammad tanpa embel-embel "Sayyidina" dimaksudkan untuk kita tidak mengkultuskan Nabi saw sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani / Kristen yang menuhankan Nabi Isa as.

Sedangkan tidak ditambahnya kata sayyidina oleh Rasulullah saw sendiri dalam bacaan shalawat itu karena Rasulullah saw sendiri dalam bacaan shalawat itu, karena Rasulullah saw orang yang sangat rendah hati  sehingga kalau beliau menyebutkan sendiri namanya tentu saja tidak diembel-embeli dengan kata sayyidina.

Jadi setiap ungkapan harus disesuaikan dengan yang berkata dan situasi kondisi pernyataannya. Seseorang tentu menjadi tidak etis menyebutkan dirinya dengan sebutan yang memuliakan diri sendiri, tapi bagi orang lain maka menjadi baik, bahkan dianjurkan ketika menyebutkan orang lain,

apalagi seperti halnya Nabi saw yang merupakan makhluk yang paling mulia haruslah dengan sebutan yang sesuai dengan kemuliaan dan ketinggiannya di sisi Allah swt.

Kalau Allah saja memuliakan sebutan Nabi Muhammad saw, bagaimana dengan kita yang merupakan umatnya ?

Demikan juga salah satu masalah yang juga dipersoalkan adalah menggunaka kata maulana kepada Ulama atau tuan guru, seperti Maulana Syaikh dan lain-lain, maka hukumnya adalah boleh bahkan dianjurkan sebagai bentuk memuliakan dan menta'zhimkan ulama dan guru. Hal ini sejalan dengan semangat ayat al-Qur'an:

"Allah mengangkat (memuliakan) orang-orang yang beriman dan ahli ilmu (ulama) beberapa derajat.."

Allah swt yang maha agung dan maha mengetahui sangat menghargai orang-orang yang beriman dan ahli ilmu, maka bagi kita tentu akan lebih wajib memuliakan mereka.

Bukankah kita mengetahui ajaran-ajaran agama kita dengan baik dan benar karena jasa para ulama dan tuan guru. Oleh sebab itu memuliakan mereka dengan menyebut dengan kata-kata yang menunjukkan penghormatan menjadi satu keharusan.

Ini bukan berarti mengkultuskan, karena apa yang kita lakukan adalah sebatas memberikan penghormatan yang layak untuk mereka. (DR. H. Salimul Jihad, M.Ag).

Baca juga: Tanya Jawab Tentang Islam

Komentar Ilmuwan Barat Tentang Kehebatan Alquran

Berikut ini, beberapa komentar ilmuwan Barat tentang kehebatan Alquran :

Komentar Ilmuwan Barat Tentang Kehebatan Alquran
DR. Maurice Bucchaeli
Dr. Maurice Bucchaeli, seorang dokter ahli bedah dan cendekiawan kenamaan dari Prancis mengatakan, “Alquran adalah kitab paling sempurna yang disampaikan Tuhan kepada seluruh manusia.”

Bosworth Smith, seorang ilmuwan Inggris ternama, dalam buku The Life of Muhammad, menyatakan, “Salah satu keistimewaan dalam sejarah manusia yang tidak pernah bisa dicapai oleh manusia lain adalah fenomena Muhammad yang dalam satu periode berhasil merintis tiga hal paling agung dan tindakan paling mulia. Ia adalah penyokong umat, kekuasaan pemerintah, dan agama. 

Padahal, ia adalah seorang yang buta huruf. Kendati tidak memiliki kemampuan tulis – baca, ia datang membawa kitab berisi ayat-ayat yang mengandung nilai-nilai sastra yang tinggi, mencakup kumpulan hukum, ajaran tentang shalat dan juga agama sekaligus.”

Menurut Gibbon, Alquran dapat diterapkan dalam hukum Samudera Aquainus Atlantik hingga sungai Lujanis. Sebab, Alquran tidak hanya membicarakan pokok-pokok agama, melainkan juga sumber hukum yang meliputi hukum pidana dan perdata, serta hukum lain yang berkenaan dengan setiap segi kehidupan umat manusia. 

Hukum yang terkandung dalam Alquran merupakan konvensi hukum yang paling sempurna. Ajaran yang dibawa Muhammad bersifat menyeluruh bagi seluruh manusia. Hukum-hukumnya bersifat universal – meliputi urusan-urursan yang besar hingga yang kecil. 

Inilah ajaran yang menggucangkan dunia dengan hukum-hukumnya. Alquran adalah sumber dan sekaligus metode hukum. Belum ada seorang oun yang mampu menyamainya di jagad ini.”

Carlyle berujar, “Alquran adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Isayarat kebenaran, keagungan, dan ketulusan etekad termasuk diantara keunggulan Alquran yang dapat saya tangkap. Alquran adalah keutamaan paling utama dan sekaligus terakhir.

Di dalamnya terkandung beragam jenis hukum. Sebauah kitab yang – menukil salah satu ayatnya – bisa dikatakan, ‘Berlombalah, wahai para pesaing,’ karena begitu banyak keutamaan yang terkandung di dalamnya.”

Komentar Dr. M. Ahnu, konsulat Jepang untuk mesir, lain lagi. Ia menyatkan, “Bila kaum Muslim di belahan Timur maupun Barat berpegang teguh dengan apa yang terkandung dalam Alquran, kemajuan peradaban mereka pasti akan segera tercapai, baik dalam kehidupan sosial, budaya, agama, maupun politik.

Alquran merekomendasikan seluruh hukum terdahulu hingga yang paling kontemporer sekalipun. Inilah sebuah kitab universal yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh pelosok dunia.

Kata Ahnu lagi, melalui Alquran terjemahan bahasa Inggris, saya mencoba menelaah seluruh kandungan Alquran.  Betapa saya mengagumi kandungannya yang juga berisi hukum-hukum dan berbagai aturan kemasyarakatan.

Lebih kagum lagi ketika melihat kepedulian umat Islam pada ajaran agamanya yang begitu tinggi. Seandainya mereka terus menyandarkan diri pada Alquran , tidak diragukan lagi bahwa mereka bisa menggapai apa yang mereka harapkan.”

Edmund Burk, seorang ahli hukum adal Inggris, berpendapat bahwa undang-undang yang dibawa Muhammad adalah aturan menyeluruh yang mengatur seluruh lapisan manusia – mulai dari raja hingga rakyat jelata.

Alquran merupakan kodifikasi hukum yang mengatur sistem peradilan, sistem perundang-undangan yang sangat agung yang tidak ada dalam undang-undang mana pun di dunia ini.

Gowth mengatakan, “Setiap kali pandangan kami tertuju pada Alquran, ada semacam rasa takut bercampur khawatir. Namun, dari rasa inilah kami merasakan sensibilitas yang tidak kami dapatkan dalam kitab-kitab lainnya.

Alquran memang termasuk kitab suci yang memiliki kepekaan dan perasaan yang agung. Alquran menghidupkan dan mempengaruhi jiwa pembacanya dalam stiap generasi dan zaman.”

David Burt menyatakan bahwa Alquran merupakan aturan sosial kemasyarakatan, hukum perdata, perdagangan, undang-undang perang, sistem pemerintahan dan, di atas segalanya, juga undang-undang langit yang agung.

Dalam pandangan William Muir, seluruh keterangan Alquran bersifat alami dan membuktikan adanya pertolongan Allah atas manusia.

Sementara itu, Gibbon berpendapat bahwa hukum Islam adalah hukum yang universal – mencakup berbagai macam hukum dari ujung kepala hingga telapak kaki, karena ia berdiri di atas kebijaksanaan yang dihasilkan oleh akal yang paling luas ilmu dan pengetahuannya tentang kehidupan manusia.

Menurut Bernard Shaw, kerajaan Inggris harus mengikuti hukum Islam sebelum abad ini berakhir. Seandainya Muhammad diutus pada zaman modern yang sarat dengan ajaran diktatorisme, ia pasti sepenuhnya berhasil mengeluarkan manusia dari krisis global ini dan mengayomi manusia menuju kesejahteraan dan perdamaian.

Demikianlah beberapa kesaksian para ahli dari Barat  tentang kebenaran dan keutamaan kitab suci Al-quran turun dari Allah yang Maha Mulia untuk seluruh umat manusia.

  
Sumber:

Rahasia-Rahasia Ibadah – by. Syaikh Ali Ahmad al-Jurjawi.

JANGAN MEREMEHKAN DOSA SEKECIL APAPUN

JANGAN MEREMEHKAN DOSA SEKECIL APAPUN

Jangan Pernah Meremehkan Dosa - Sebagai manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah dan juga cepat berkeluh kesah menyebabkan manusia selalu saling menjalin hubungan sesuai dengan tingkat pada tataran kebutuhan mereka.

Dalam berbagai pergaulan ini tentunya terjadi beberapa perselisihan dan pertentangan yang menyebabkan timbulnya ketidak harmonisan. Pertentangan ini mungkin juga bisa terjadi tanpa disadari oleh manusia.

Menyakiti perasaan orang lain dalam bentuk apapun jelas merupakan perbuatan yang dapat menyebabkan orang yang berbuat itu menanggung dosa. 

Pola pikir yang terbentuk selama proses pergaulan dan penyerapan ilmu pengetahuan yang terbentuk dari luar dirinya, terkadang atau bahkan sering kali menyebabkan manusia terjerumus menentang dan membantah apa-apa yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya. 

Jelas perbuatan ini dosa besar yang dapat menyebabkan pembantah-pembantah tersebut menjadi kufur.

Tingkatan dosa yang timbul sebagai efek pergaulan inipun bermacam-macam, ada yang dikelompokkan sebagai dosa-dosa kecil dan ada yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok dosa besar, seperti membunuh, berzina, dan bermabuk-mabukkan.

Sangat penting untuk kita pahami, semua dosa itu, baik dia kecil maupun dia besar adalah kemaksiatan yang pastinya mendapat siksa, kecuali jika Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun menghendakinya lain. Siksa yang diterima bagi pelaku dosa juga bertingkat-tingkat sesuai dengan kecil – besarnya dosa yang dilakukan.

Karena itu, tidak sepatunya manusia meremehkan dosa sekecil apapun. Ketahuilah, sikap meremehkan seperti itu merupakan bentuk kesombongan yang tidak patut untuk dilakukan sebagai seorang hamba yang sangat lemah dan memiliki ketergantungan yang sangat besar di hadapan Allah SWT.

Sebab lain kenapa manusia tidak boleh meremehkan dosa-dosa walau itu hanyalah dosa kecil menurut anggapan manusia, sebab setiap orang yang melakukan kemaksiatan berarti ia meninggalkan perintah Allah dan meninggalkan perintah Allah adalah suatu persoalan yang besar, sebab hak Allah untuk ditaati adalah demikian besarnya.

Hal-hal itulah yang harus dipahami oleh setiap orang beriman yang menghendaki kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat kelak, bahwa kita tidak boleh memiliki sikap meremehkan terhadap kemaksiatan-kemaksiatan tersebut.

Adapun dosa-dosa yang terlanjur dilakukan, disengaja maupun tidak, kecil atau besar, maka Allah Maha Pengampun dan mintalah magfirah-Nya selalu setiap saat serta balaslah dosa-dosa itu dengan memperbanyak perbuatan baik dan amal salih. 

Sebab Rasul-Nya sendiri, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksum (bebas dari dosa) memohon ampunan setiap harinya sebanyak 70 kali kepada Allah Ta’ala dan pada riwayat yang lain 100 x sehari. Apakah kita yang tidak lepas dari tanggungan dosa-dosa ini, walaupun dosa kecil, tidak pantas memohon ampun lebih banyak dari itu setiap harinya?


Demikianlah, semoga artikel yang berjudul Jangan Meremehkan Dosa Sekecil Apapun ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi penulis di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Sahabat, Maksiatmu Diujung Imanmu

Sahabat, Maksiatmu Diujung Imanmu

Sahabat, janganlah terkecoh dengan judul ini, karena yang aku maksud tetap saja masalah iman dan maksiat, walaupun kalimat ini, maksiatmu diujung imanmu, sedikit banyak ada benarnya sahabat.

Sahabat, ketahuilah iman itu lekat dengan kalbu, dikenal betul oleh hati. Karenanya dia selalu betah berada di dalam hati. Tapi dia harus diucapkan dengan lisan, dan dipraktekkan dengan seluruh anggota tubuh supaya dia sempurna makrifat bersamamu.

Iman itu sahabat, bahan bakar yang menggelorakan semangat dan gairah yang menggerakkan jiwa dan jasmani untuk mencapai cita-citanya yang sangat suci dan abadi, ampunan, kasih sayang, dan surga.

Sahabat, iman itu memiliki pokok, juga dia punya cabang

Berlari dari pokok maka sama halnya dengan menerjunkan diri ke jurang neraka karena telah berlaku kafir duluan.

Jika engkau tergelincir dari cabang maka sudah pasti pada dirimu melekat suatu gelar yang tidak mungkin enak untuk didengar, yakni pelaku maksiat.

Karena itu kawan, kenallah dengan keduanya. Ketahuilah betul-betul mana pkok, mana cabang, supaya langkah kecil Anda tidak gamang.

Yang pokok dari iman itu, makrifat, tashdiq, dan iktiqad yang mesti diyakini. Terlepas salah satu dari ketiganya, melekatlah pada diri kekafiran. Na'udzubillah !

Sedangkan yang termasuk dari cabangnya itu, ditujukan kepada sesuatu yang jika ditinggalkan. Pelakunya tidak dinyatakan kafir, tetapi ia telah berbuat kemaksiatan sebab lalai sama perintah agama.

Sahabat, agar tidak terpeleset dari yang cabang ini, jagalah selalu shalat fardhu dan kewajiban-kewajiban lain, yang telah dibebankan oleh agama kepadamu.

Sahabat, katanya para ulama, para ustadz, iman adakalanya bertambah dan ada pula kalanya berkurang pada diri setiap insan.

Ketahuilah, iman bertambah dan juga berkurang terletak pada cabang, bukan pada pokok.

Karena kalau terjadinya di pokok bukan lagi disebut berkurang tapi sudah tercerabut dari akarnya yang kuat di hati. Sudah tidak pantas lagi disebut sebagai seorang beriman.

Lagi pula, sebagaimana kata Imam Asy-Syafi'i rhm., " Tidaklah mungkin iman itu bisa bertambah lagi di pokok, sebab ia wajib menyakini secara keseluruhan sehingga dengan itu ia bisa disebut beriman."

Maka penambahan dan pengurangannya hanyalah letaknya di cabang iman. Maka tetaplah ia beriman walaupun ia telah maksiat.

Saudaraku kaum muslimin sekalian, janganlah lidahmu tergesa-gesa menghukumi saudara seimanmu musyrik

Janganlah lidahmu terlalu cepat menghukumi saudaramu seiman kafir, lantaran dia berbeda paham denganmu.

Karena ketahuilah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah telah bersepakat bahwa kaum mukminin, tidak diragukan lagi keimanannya saat ini. Yang diragukan adalah keimanan yang akan diberi pahala kelak, sebab hal itu tergantung pada akhir kehidupan kita.

Orang tidak akan ada yang tahu bagaimana akhir dari kehidupannya kelak. Apakah dipenutup usianya dia berada dalam keadaan fasik, berbuat maksiat atau bahkan murtad. Duh, kita berlindung kepada Allah Yang Maha Kasih dari semua keburukan-keburukan ini.

Orang yang murtad -na'udzubillah - maka tidaklah diakui keimanannya sebelum dia murtad. Maka kalau dia mati, sementara dia masih berada dalam kemurtadan, maka dihukumlah matinya mati kafir.

Aduh alangkah sengsaranya kelak, menjual agama demi beberapa kesenangan yang fana di dunia. Berapa lamakah kita bisa hidup bergelimang kesenangan di dunia ini? Pada akhirnya maut tetap mendatangi kita.

Lantaran akhir hidup yang diragukan keadaannya inilah Sang Imam besar kita mengatakan, "Dalam konteks inilah kita lalu mengatakan: 'Insya Allah kita ini orang-orang beriman,' dan menahan diri untuk tidak mengatakan: 'Kita ini betul-betul orang-orang yang beriman.'

Sebab, ucapan yang kedua ini mengesankan kepastian yang bakal kita alami di akhir hayat kita yang bisa menjerumuskan kita dalam kekeliruan.

Ahlus Sunnah selamanya menahan diri untuk melontarkan kalimat-kalimat yang mengandung makna yang keliru dan juga terhadap pernyataan-pernyataan yang mengesankan kekeliruan seperti itu. Barang siapa yang sadar terhadap dirinya, niscaya tidak akan menentang pendapat ini."'

Sahabat, adapun orang mukmin yang mati dalam keadaan fasik, sedangkan dia belum sempat bertobat dari dosa-dosanya, maka keputusannya terserah kepada Allah SWT. Dia berhak untuk menyiksanya dan berhak pula untuk mengampuninya. Kalaupun pun ia kelak disiksa, maka itu adalah sebagai penebus dari semua dosa-dosanya.

Si pendosa disucikan dengan dibakar api di dalam neraka, setelah semua dosa yang melekat ditubuhnya luruh - lamanya tergantung dari dosa yang ditanggung - maka dia diangkat dari neraka, dimandikan dengan air telaga yang suci, lalu diberikan dengan segala kelezatan surgawi. Semua itu lantaran karena masih ada iman kecil yang masih melekat ketika ajalnya tiba.

Kawanku, orang beriman yang mati dalam keadaan fasik atau dalam keadaan bermaksiat. Tidaklah akan hilang iman-nya lantaran dosa-dosa maksiatnya itu. Ini karena karunia Allah yang sangat besar bagi kita semua orang-orang beriman. Keimanan hilang hanyalah disebabkan oleh dosa kufur.

Allah Swt. telah berfirman:

"Sesungguhnya Allah itu tidak memberikan ampunan terhadap orang yang musyrik kepada-Nya, tetapi memaafkan dosa yang selain itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya."

Rasul kita yang suci juga telah bersabda:

"Tidak akan kekal di dalam neraka orang yang di dalam kalbunya terdapat keimanan seberat dzarrah."

Sahabat, sah saja berkumpul keduanya -keimanan dan kemaksiatan - pada diri seseorang sebab dosa-dosa selain kufur itu tidak bertentangan dengan iman dan tidak pula bisa menghilangkannya. Demikian pulalah yang menjadi ijma' Ulama Salaf yang saleh.

Ia tetap mukmin karena keimannya dan fasik karena kemaksiatannya. Orang-orang mukmin yang berzina, membunuh, dan mencuri, tetaplah disebut sebagai orang-orang mukmin.

Lihatlah firman Allah mengenai orang-orang yang berbuat maksiat itu..

Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, ditetapkan atasmu qishas...."

Qishas itu adalah pembalasan yang setimpal atas dosa yang dilakukan seseorang di atas dunia ini. Dan lihatlah ayat itu, Allah tetap menyebut orang-orang yang melakukan pembunuhan tersebut sebagai orang-orang beriman atau mukmin.

Sahabat renungkanlah ini, hukum murtad itu sudah jelas dalam syariat Islam, dan sama sekali tidak bisa disamakan walau sekecil apapun dengan hukum orang-orang yang melakukan kemaksiatan.dalam hal keimanan.

Sahabat, orang murtad itu sama hukumnya dengan orang-orang kafir, bahkan lebih keji lagi. Karena ia ingkar setelah percaya/beriman, berbeda dengan orang yang memang sudah kafir sejak lahirnya.

Orang-orang murtad sebagaimana halnya dengan orang-orang musyrik dan orang-orang kafir akan kekal dalam siksanya di api jahannam, sementara itu orang-orang mukmin yang bermaksiat kalaupun dia disiksa tidak akan kekal di dalam api neraka.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kasih dan sayang-Mu, ampunilah semua dosa-dosa kami, dosa-dosa kelalaian dan dosa-dosa maksiat yang mungkin telah kami lakukan.

Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khotimah dan kumpulkanlah kami kelak kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang beriman dan telah beramal saleh. Amin Yaa Rabbal 'aalamiin.

Saran: Di antara buku yang bagus untuk dibaca dan dikaji tentang masalah ini adalah Kitab Fikhul Akbar karya Imam Asy Syafi'i rhm.

Baca juga: Wahai Saudaraku yang Lalai, Sadarlah!

Wahai Saudara-Saudaraku yang Lalai, Sadarlah!

Wahai Saudara-Saudaraku yang Lalai, Sadarlah!

Wahai saudara-saudaraku yang lalai, sadarlah! Wahai pecandu dosa, sudahi dan insyaflah! Demi Allah, adakah manusia yang lebih buruk daripada penyembah hawa nafsu?

Siapakah yang lebih rugi daripada orang yang menjual akhirat untuk dunia?

Mengapa kelalaian menguasai hati kalian?

Mengapa kalian biarkan kebodohan menutupi aib diri kalian?

Bukankah kalian melihat pedihnya kematian bergerak di sekitar kalian, kedatangannya begitu nyata, isyaratnya telah tiba, petakanya menghanguskan berbagai alasan, panahnya menembus diri kalian, dan takdirnya menghunjam ubun-ubun kalian?

Hingga kapan?

Sampai Kapan?

Mengapa kalian masih berpaling dan diam?

Apakah kalian ingin hidup abadi?

Mustahil, demi Tuhan. Kematian selalu mengintai. Tidak ada yang lolos, entah ayah atau anak.

Karena itu, sungguh-sungguhlah mengabdi kepada Tuhan.

Tinggalkanlah seluruh dosa, mudah-mudahan Dia melindungi kalian.

Muhammad ibn Quddamah menceritakan:

Bisyr ibn al-Harits bertemu dengan seorang laki-laki yang mabuk. Lelaki itu memeluknya seraya berkata, “Wahai Tuan Abu Nashr.” Ia membiarkan orang tersebut memeluk dirinya sampai puas. Ketika orang itu pergi, kedua mata Bisyr berlinang air mata.

Ia berkata, “Orang yang mencintai orang lain karena menyangka ada kebaikan padanya bisa jadi selamat, sementara orang yang dicinta tidak mengetahui nasibnya sendiri.”

Selanjutnya ia berdiri di depan pemilik buah. Ia lama menatap. Aku bertanya, “Wahai Abu Nashr, ada buah yang kau inginkan?

Ia menjawab, “Tidak. Aku hanya berpikir, jika kepada pemaksiat saja Dia memberi, apalagi kepada orang yang menaati-Nya. Apakah gerangan makanan dan minuman yang Dia berikan untuknya di surga nanti?”

Wahai saudaraku, sampai kapankah pelalai tidur?

Tidakkah pergantian malam dan siang membangunkannya?

Di manakah para penghuni istana dan kemah?

Demi Tuhan, kematian telah berputar-putar di atas dan mengintai mereka laksana burung dara mengintai biji.

Makhluk tidak akan kekal ketika lembar catatan telah dilipat dan pena telah mengering.

Biarlah diriku menangis dan meratap dalam derasnya kucuran air mata

Biarkanlah aku meratap karena takut diri yang lemah ini binasa

Ke mana aku berlindung dan kemana hendak beranjak?

Siapa yang bisa menolongku bila dipanggil membawa dosa?

Betapa panjang duka dan derita bila berada di Neraka Jahim dan tersiksa

Seluruh keburukan tampak begitu nyata

Neraca telah dekat dan api pun telah menyala

Dengan baiknya harapanku kepada-Nya semoga Tuhan berkenan memberiku karunia

Dan dengan rahmat-Nya memasukkanku ke surga

Tidak ada amal yang bisa kujadikan asa selain cinta kepada keturunan Hasyim, Thaha serta para sahabat dan keluarganya yang terjaga.

Rasulullah saw. bersabda, “Pada Hari Kiamat didatangkan orang yang telah mengumpulkan harta dari yang halal dan menggunakannya untuk yang halal. Ia diseru, ‘Berdirilah untuk dihisab!’ Ia dihisab atas setiap hartanya sekecil apa pun; dari mana didapat dan ke mana dikeluarkan.”

Nabi saw. melanjutkan, “Wahai manusia, apa yang kau lakukan terhadap dunia? Halalnya dihisab dan haramnya disiksa.”

Janganlah merasa aman dengan kebaikan dunia

Kebaikan dunia adalah sumber kerusakan

Janganlah gembira dengan harta yang kau dapat

Padanya terdapat kebalikan dari apa yang diinginkan.

Seorang arif bercerita:

Menjelang wafat, Abd Yazid al-Busthami menangis lalu tertawa. Tak lama berselang, seseorang bertemu dengannya dalam mimpi.

Ia ditanya, “Mengapa engkau menangis dan tertawa sebelum mati?”

Ia menjawab, “Ketika sedang sekarat, Iblis terlaknat mendatangiku dengan berkata, ‘Wahai Abu Yazid, engkau telah melepaskan jaringku.’ Aku pun menangis kepada Allah SWT.

Selanjutnya malaikat turun dari langit seraya mengabarkan, ‘Wahai Abu Yazid, Tuhan berfirman kepadamu: Jangan takut dan jangan sedih! Bergembiralah dengan surga!’ Aku pun tertawa lalu meninggalkan dunia.”

Aku berdiri sementara air mataku berlinang

Hatiku risau karena mengkhawatirkan keputusan

Setiap yang bersalah binasa oleh dosanya. Ia hina, sedih, terpejam, dan penuh penyesalan

Wahai Tuhan, dosaku begitu besar

Engkau mengetahui apa yang ku adukan

Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Kuasa

Maha Pemurah, Maha Pemaaf, dan Maha Pemberi ampunan.

Wahai saudaraku, betapa banyak hari kau lewati dengan menunda tobat. Betapa banyak sebab membuatmu abai akan kewajiban. Betapa sering telingamu mendengar tanpa takut oleh ancaman.

Menjelang wafatnya, Jabir ibn Zayd ditanya, “Apakah yang kau inginkah?” “Melihat wajah al-Hasan,” jawabnya. Mendengar itu al-Hasan segera datang menemui Jabir lalu bertanya, “Wahai Jabir, bagaimana kondisimu?”

Ia menjawab, “Aku merasa ketentuan Allah tidak bisa ditolak. Wahai Abu Said, sampaikanlah kepadaku sebuah hadis yang kau dengar dari Rasulullah saw.” Al Hasan berkata, “Wahai Jabir, Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Seorang mukmin di sisi Allah selalu berada dalam kebaikan.

Jika bertobat, Allah menerimanya, jika meminta maaf, Allah memaafkannya, dan jika minta ampun, Allah mengampuninya. Tanda semua itu adalah hawa dingin yang ia rasakan di hati sebelum ruh keluar.’”

Jabir berseru, “Allahu Akbar! Aku merasa hatiku dingin.” Ia lalu berdoa, “Ya Allah, aku mengharap pahala-Mu. Wujudkanlah prasangkaku ini serta lenyapkanlah rasa cemas dan takutku!”

Ia kemudian mengucapkan syahadat dan meninggal dunia. Semoga Allah Swt. meridainya.

Konon, Dawud al-Tha’i bertobat karena ia melewati pekuburan, mendengar senandung lirih tangisan dari dalam kubur:

Kesedihan bertambah setiap siang dan malam

“Mengapa bersedih padahal engkau adalah kekasih?”

Ia tetap berduka hingga Allah membangkitkan makhluk-Nya


Pertemuan dengan-Mu tidak diharap kala Engkau sudah dekat.

Baca artikel sebelumnya: Wahai Pendawam Kesalahan dan Kedurhakaan.