HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN

Hubungan Alquran dan kemajuan IPTEK Modern


Beberapa orang yang masih dangkal pemahaman keislamannya menganggap alquran itu tidak lebih dari sekedar buku yang cukup hanya dibaca saja untuk mendapatkan pahala membacanya. 

Alquran bukanlah solusi untuk pemecahan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Tidak dapat dikonfrontasikan dengan penemuan dan pengetahuan modern, karena hal itu sia-sia dan menghabiskan waktu. 

Demikianlah kata “si penentang itu” yang menganggap hukum manusia di atas segala-galanya, bahkan lebih rasional dari hukum Tuhan.

Ketahuilah, anggapan yang demikian itu salah dan sangat keliru. Bukalah alquran dan telitilah kandungan ayat demi ayatnya, niscaya engkau akan menemukan bahwa alquran itu sangat logis dan rasional. 

Segala problema hidup, tidak hanya dari sudut rohani saja – semua ada solusinya yang terbaik di dalam alqur'an.

Dalil-Dalil Alquran Tentang Keutamaan Ilmu


Mari kita lihat beberapa dalil, bahwa anggapan orang-orang tersebut itu salah.

1. Ketika Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. maka ayat yang pertama kali turun adalah Q.S Al-'Alaq [96] ayat 1 – 5.

HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN

001. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

002. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

003. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

004. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

005. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat ini memerintahkan bagi Nabi untuk membaca dan belajar. 

Jelas sekali Islam sangat menghargai pengetahuan (akal) sehingga ayat yang pertama kali turun bukan perintah untuk melakasanakan ibadah seperti shalat dan puasa, atau ibadah lainnya.

2. Adam as. Diangkat sebagai khalifah di muka bumi bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya. 

Karena Adam as lebih berpengetahuan dibandingkan daripada makhluk Allah yang lainnya. Allah SWT membekali Nabi Adam as, berbagai pengetahuan (akal) yang jauh lebih banyak dari malaikat sekalipun, hingga dengan kemuliyaan Adam ini, 

Allah swt memerintahkan para malaikat dan iblis sujud (memberikan penghormatan) kepada Adam. Lihat Alquran surat Al-Baqarah ayat 31 – 33.

HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN

031. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"

032. Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

033. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: -

"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

3. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berpengetahuan dibandingkan orang-orang lainnya. Meninggikan derajatnya berlipat-lipat di atas orang-orang tidak beriman lagi bodoh. Ini menandakan bahwa ilmu pengetahuan sangat dipandang tinggi dalam Al-Qur'an.

4. Bukti lain. Untuk menjadi pemimpin dalam Islam, harus ada dua syarat yang dipenuhi, yaitu ilmu yang tinggi dan fisik yang sehat (Lihat surat al-baqarah ayat 247).
HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN
5. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar posisi-posisi dalam suatu pekerjaan dipegang oleh orang yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Jadi pekerjaan dipegang menurut keahliaannya. Bahkan Allah lebih menghargai orang yang shalat dua rakaat dengan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan orang yang beribadah 1.000 rakaat tanpa ilmu pengetahuan.

6. Pada abad pertengahan, Yang merajai ilmu pengetahuan adalah Islam, orang-orang Kristen Eropa pun berguru kepada mereka. 

Itu terjadi ketika umat Islam pada waktu itu berpegang teguh kepada Alquran, ketika mereka mulai banyak meninggalkan ajaran Islam tiba-tiba mereka menjadi orang yang terbelakang dalam pengetahuan di salip oleh orang-orang yang sebelumnya menjadi murid mereka.

Rasulullah saw bersabda:

"Kelak akan datang suatu masa di mana kalian akan menjadi seperti makanan di atas piring yang dihadapi oleh orang-orang yang kelaparan. Maka para sahabat ra bertanya: Apakah karena jumlah kita sedikit saat itu ya Rasulullah?

Jawab Nabi SAW: Bahkan jumlah kalian sangat banyak. Tetapi kalian terkena penyakit "wahn"! Tanya para sahabat ra : Apa itu "wahn" ya Rasulullah ? Jawab Nabi SAW : Kalian cinta dunia dan takut mati."

Baca juga Komentar Ilmuwan tentang Quran

Lalu bagaimana sistem Allah menurunkan ilmunya kepada umat manusia?

Secara ringkas kita dapat gambarkan sistem Allah menurunkan ilmunya tersebut, yaitu melalui jalur formal dan jalur non formal.

Melalui jalur formal, seperti melalui wahyu (QS 3/38); kepada para Rasul (QS. 42/53); Ayat Qauliyah (QS. 55/1-2, 96/1); fungsi sebagai pedoman hidup (QS 3/19,85); kebenaran mutlak (QS. 2/147, 4/153).

Sedangkan melalui jalur non formal, antara lain: melalui pemikiran (QS. 90/5); langsung pada manusia (QS. 2/31, 55/4); Ayat Kauniyah (QS. 3/190, 41/53); fungsi sebagai sarana hidup (QS. 11/81); kebenarannya relatif dan akumulatif (QS. 10/38).

Kedua jalur itu diperuntukkan untuk manusia agar beribadah kepada Allah SWT (QS. 51/56).


Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan Dalam Islam



Sekarang kita telah tahu, betapa Islam sangat menghargai dan memperhatikan ilmu pengetahuan dan betapa kita sebagai umat Islam diwajibkan oleh Allah SWT terus belajar dan menggali berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kapasitas yang ada pada setiap diri manusia.

Islam pun telah mengatur dan menggariskan kepada umatnya supaya menjadi umat yang terbaik, baik itu dalam ilmu pengetahuan maupun, dalam peribadatannya kepada Allah SWT maupun hubungannya dengan sesama manusia agar tidak sampai salah jalan dan tersesat.

Untuk itu sebagai seorang muslim hendaknya ilmu-ilmu yang akan digali dan didapatkan bersumber dari, sebagai berikut:


1. Al-Qur'an dan as-Sunnah


Al-Qur'an dan as-Sunnah adalah pokok dari segala ilmu pengetahuan. Karena itu diwajibkan bagi setiap orang Islam mendasarkan ilmunya dari kedua sumber ini. 

Karena keduanya langsung dari Allah SWT dan dalam pengawasan-Nya. Karena itu keduanya terjaga dari kesalahan dan terbebas dari segala kepentingan apa pun.

Kewajiban mengambil ilmu dari keduanya telah dijelaskan oleh Allah SWT melalui Al-Qur'an Surat 12 ayat 1-3 dan menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal (QS. 33/21).


2. Alam semesta


Allah SWT dalam berbagai firman-Nya telah memerintahkan kita untuk merenungkan dan memikirkan segala kejadian alam semesta (QS. 3/190-192) dan mengambil berbagai hukum serta faedah darinya.

Karena segala kejadian dalam alam semesta ini adalah sunnatullah dan Al-Qur'an datang dari Allah, maka di antara keduanya terdapat kesesuaian dan keselarasan yang pasti. 


Di antara ayat-ayat yang telah dapat dibuktikan oleh pengetahuan modern adalah:



a. Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS. 41/11).

b. Ayat tentang urutan pencipataan (QS. 79/28-30): Kegelapan (nebula dari kumpulan H dan He yang bergerak pelan), adanya sumber cahaya akibat medan magnetik yang menghasilkan panas radiasi termonuklir (bintang dan matahari), 

pembakaran atom H menjadi He lalu menjadi C lalu menjadi O baru terbentuknya benda padat dan logam seperti planet (bumi), panas turun menimbulkan kondesasi baru membentuk air dan baru mengakibatkan adanya kehidupan (tumbuhan).

c. Ayat bahwa bintang=bintang merupakan sumber panas yang tinggi (QS 86/3), matahari sebagai contoh tingkat panas pada lapisan terluarnya mencapai 6000 derajat Celsius.

d. Ayat tentang teori ekspansi kosmos (QS 51/47).

e. Ayat bahwa planet berada pada sistem tata surya terdekat (sama'ad-dunya) (QS. 37/6).

f. Ayat yang membedakan planet sebagai pemantul cahaya (nur/kaukab) dengan matahari sebagai sumber cahaya (siraj) (QS 71/16).

g. Ayat tentang gaya tarik antar planet (QS. 55/7).

h. Ayat tentang revolusi bumi mengedari matahari (QS. 27/88).

i. Ayat bahwa matahari dan bulan memiliki waktu orbit yang berbeda-beda (QS 55/5) dan garis edar sendiri-sendiri yang tetap (QS 38/40).

j. Ayat bahwa bumi ini bulat (kawwara-yukawwiru) dan melakukan rotasi (QS 39/5).

k. Ayat tentang tekanan udara rendah di angkasa (QS 6/125).

l. Ayat tentang akan sampainya manusia (astronaut) ke ruang angkasa (in bedakan dengan lau) dengan ilmu pengetahuan (sulthan) (QS 55/33).

m. Ayat tentang jenis-jenis awan, proses penciptaan hujan es dan salju (QS 24/43).

n. Ayat tentang bahwa awal kehidupan dari air (QS 21/30).

o. Ayat bahwa angin sebagai mediasi dalam proses penyerbukan (pollen) tumbuhan (QS 15/22).

p. Ayat bahwa pada tumbuhan terdapat pasangan bunga jantan (etamine) dan bunga betina
(ovules) yang menghasilkan perkawinan (QS 13/3).


q. Ayat tentang proses terjadinya air susu yang bermula dari makanan (farts) lalu diserap oleh darah (dam) lalu ke kelenjar air susu (QS 16/66), perlu dicatat bahwa peredaran darah baru ditemukan oleh Harvey 10 abad setelah wafatnya nabi Muhammad SAW.

r. Ayat tentang penciptaan manusia dari air mani yang merupakan campuran (QS 76/2), mani merupakan campuran dari 4 kelenjar, testicules (membuat spermatozoid), vesicules seminates (membuat cairan yang bersama mani), prostrate (pemberi warna dan bau), Cooper & Mary (pemberi cairan yang melekat dan lendir).

s. Ayat bahwa zyangote dikokohkan tempatnya dalam rahim (QS 22/5), dengan tumbuhnya villis yang seperti akar yang menempel dpada rahim.

t. Ayat tentang proses penciptaan manusia melalui mani (nuthfah) è zygote yang melekat ('alaqah); segumpal daging/embryo (mudhghah); dibungkus oleh tulang dalam misenhyme ('idhama); tulang tersebut dibalut oleh otot dan daging (lahma) (QS 23/14).

3. Diri manusia

Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses penciptaannya, baik secara fisiologis/fisik (QS 86/5) maupun psikologis/jiwa manusia tersebut (QS 91/7-10).

4. Sejarah

Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya melalui lembar2 sejarah (QS 12/111). 

Jika manusia masih ragu akan kebenaran wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh, Hud, Shalih, Fir'aun, dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya dibenarkan dalam sejarah hingga saat ini.


Pembagian Ilmu yang Wajib di Pelajari



Ilmu yang wajib dipelajari menurut pandangan Islam dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Kelompok Ilmu yang fardhu 'ain.

Ilmu fardhu 'ain maksudnya semua ilmu yang wajib dipelajari sebagai seorang muslim, sebagai konsekwensi jika belum mengetahui dan tidak mau dipelajari maka yang bersangkutan berdosa, seperti aqidah, ibadah, tazkiyah-nafs dan lain-lain.

Kewajiban menuntut kelompok ilmu ini karena demi kehidupan pribadinya selamat di dunia dan di akhirat, dan agar kehidupan bermasyarakat juga terjaga dan berjalan dengan baik.

2. Fardhu kifayah

Setiap ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian orang pada suatu kaum, jika tidak ada seorangpu yang mempelajarinya maka berdosa seluruh kaum itu. Contohnya adalah ilmu-ilmu alam, sosial, hadis, tafsir, bahasa Arab, dan lain-lain.

Hal ini sangat sesuai dengan kondisi kebutuhan manusia, karena ilmu jenis ini tidak harus
dipelajari oleh semua orang (berbeda dengan kelompok ilmu pertama diatas), melainkan Islam menghargai spesialisasi sesuai dengan disiplin ilmu yang diminati oleh masing-masing orang.



Arah Pengembangan Ilmu



Allah SWT menggariskan secara tegas tentang arah pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam, sehingga kaum muslimin dalam kegiatan belajar dan mengajar tidak boleh sama sekali keluar dari garis ini,yaitu :

1. Bahwa Ilmu pengetahuan yang dipelajari semata untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT (QS 22/65, 16/14, 14/32-34).


Bukan untuk mendapatkan pujian orang, bukan pula untuk tujuan-tujuan yang rendah seperti sekedar untuk mencari uang, popularitas, jabatan, dan sebagainya.

2. Bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajari tidak boleh menimbulkan kerusakan pada diri sendiri, orang lain dan alam semesta (Qs. 7/56). 


Hendaknya orang yang menuntut ilmu itu sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa semua ilmu yang merusak, membahayakan dan menghancurkan itu haram dalam Islam. Karena itu Rasulullah SAW bersabda : "Tidak boleh membahayakan orang lain dan tidak boleh pula menentang bahaya."

3. Bahwa ilmu pengetahuan itu bukan ilmu yang memisahkan atau mengkotak-kotakan antara Ilmu dan agama (sekuler). 


Karena dalam Islam tidak ada yang namanya ilmu untuk ilmu atau seni untuk seni, yang dapat mengakibatkan (menjadi alasan) mereka merasa terbebas dari segala aturan dan norma agama.

Dalam agama Islam semua ilmu, seni, politik, hukum dan segala aspek kehidupan seorang muslim tidak bisa dan tidak boleh lepas dari tatanan yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Kalau tidak demikian maka keislamannya sangat patut dipertanyakan (QS 4/65).



Tanda-tanda Ilmuwan Muslim (Ulil Abab)



Bagi seorang intelektual Islam wajib mempunyai ciri-ciri atau karekteristik sebagai berikut:


1. Bersungguh-sungguh belajar (QS 3/7). Dia harus sadar hakikat segala aktifitasnya bahwa kehidupannya adalah dalam rangka pengabdian semata kepada Allah SWT, karena itu dia berupaya mengoptimalkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk maksud yang mulia demi meningkatkan taraf hidup kaum muslimin.


2. Selalu berpihak pada kebenaran (QS 5/100). Seorang muslim sangat menyadari bahwa ilmu yang bermanfaat yang didapatnya itu kesemuanya dari sisi Allah SWT. 


Allah-lah yang telah mengajarinya dan membuatnya bisa mengenal alam semesta ini. Sehingga sebagai konsekuensinya, maka ia haruslah berpihak kepada kebenaran yang telah diturunkan Allah SWT, tidak peduli ia harus berhadapan dengan para oportunis, dan tidak peduli walaupun yang berpihak kepada kebenaran itu sangat sedikit. 

Karena ia tahu bahwa saat menghadap Allah SWT kelak, masing-masing akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan walaupun kecil (QS 99/7-8).

3. Kritis dalam belajar (QS 39/18). Hendaknya dia selalu bersikap kritis pada setiap ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, tidak menerimanya secara mentah-mentah, kecuali dengan diuji kebenarannya. 


Mengingat keabsahan ilmu itu bersifat relatif dan kebenarannya bisa berubah sesuai dengan kemajuan pengetahuan manusia. 

Seperti yang sering terjadi dalam ilmu pengetahuan modern mengenai sebuah teori. Bisa saja sebuah teori pada suatu masa benar, tapi pada suatu waktu yang akan datang teori itu akan tergantikan dengan yang diaggap lebih benar. 

Tentu saja hal ini berbeda dengan kebenaran al-Qur'an yang bersifat absolut karena ia diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui akan kebenaran.

4. Menyampaikan ilmu (QS 14/52). Wajib baginya jika dia telah menuntaskan pelajarannya untuk mengamalkan dan menyampaikan ilmunya itu kepada orang lain. 


Dia harus yakin bahwa mengajarkan ilmu kepada orang lain, maka pahalanya di sisi Allah SWT tidak akan putus-putus sebagai amal jariyahnya walaupun dia sudah meninggal dan dia harus sadar bahwa menyembunyikan ilmunya maka kelak di Hari Penghisaban akan dituntut pertanggungjawabannya.

5. Sangat takut pada Allah SWT (QS 3/173). Dengan ilmu yang dimilikinya ketakwaannya atau perasaan takutnya semakin kuat kepada Allah SWT. 


Karena hanya orang yang memiliki ilmu pengetahuan saja yang takut kepada Allah SWT. 

Ketakutan ini muncul karena dengan semakin banyaknya ilmu yang dimilikinya, maka semakin banyak rahasia alam semesta ini yang tersingkap baginya dan semakin yakinlah ia akan kebenaran semua firman Allah SWT dalam kitab-Nya. 

Bukan sebaliknya, semakin pandai maka semakin jauh ia kepada Allah SWT, jika demikian halnya maka dia termasuk golongan su'ul ulama (alim jahat).

6. Bangun diwaktu malam (QS 39/9). Sebagai konsekwensi keilmuwan yang dimilikinya maka keyakinannya akan kebenaran semakin membuatnya bersemangat untuk menambah ibadahnya kepada Allah SWT. 


Bukan ibadah fardhu saja yang dilaksanakan dengan baik tapi juga menambah ibadah-ibadah sunnahnya untuk memperoleh keridhaan Allah SWT. 

Ibadahnya ditambah lagi dengan ibadah malam atau qiyamul-lail, sebab dia tahu bahwa sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dilakukan waktu malam (QS 32/16).

Alhamdulillah, akhirnya artikel yang berjudul Hubungan Qur'an dan Kemajuan IPTEK Modern  ini selesai juga dan semoga bermanfaat bagi kita sekalian.

Jangan lupa lihat Fungsi Al-Qur'an


Catatan:



Artikel ini aslinya berjudul Qur'an dan IPTEK ditulis oleh Ir. Nabiel Musawa, saya dapat dalam format PDF dan mungkin telah diposting pada AlDakwah.com (saya tidak tahu kapan tepatnya). 

Saya di sini hanya menyalinnya dengan beberapa perubahan pada susunan kalimatnya tanpa merubah maksud yang terkandung di dalamnya, supaya tidak terkesan pingin enaknya saja :D. Insya' Allah.

Setelah itu saya beri judul yang sedikit berbeda dengan aslinya, dengan judul Hubungan Alquran dan Kemajuan IPTEK Modern seperti yang anda lihat. 

Harapan saya, semoga penulis dan saya yang menyalin serta siapa saja yang mungkin terlibat dalam tulisan ini, termasuk para pembaca mendapat ridha dan pahala di sisi Allah SWT. Amin.

Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Kepada Qadha dan Qadar serta Manfaat Mengimani keduanya

Perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qadha dan Qadar

Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Kepada Qadha dan Qadar Serta Manfaat Mengimani keduanya

Percaya adanya qadha dan qadar Allah swt. merupakan bentuk keimanan seorang Muslim terhadap salah satu dari rukun iman yang lima.

Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Kepada Qaha dan Qadar


Kemudian keimanan yang sudah kita yakini, haruslah dapat kita buktikan dalam setiap aktifitas kehidupan sehari-hari. Ini adalah bentuk pengamalan dari keyakinan itu. Jadi tidak hanya diucapkan atau dihayati saja.

Berikut ini beberapa bentuk bukti keimanan terhadap qadha dan qadar Allah swt. yaitu:

a. Berjiwa qana’ah yakni sikap rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang.

b. Berani menghadapi persoalan hidup karena yakin semua yang dialami adalah ujian dari Allah swt.

c. Senantiasa berprasangka baik kepada Allah swt ketika menghadapi kesulitan hidup.

d. Memiliki keberanian dalam berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan karena yakin bahwa hidup dan mati ada pada kuasa Allah swt.

e. Memiliki jiwa yang tenang, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik 

f. Cukup tenteram hidupnya karena merasa bahwa dirinya selalu dekat dengan Allah swt.

g. Mampu mengendalikan dirinya disaat duka maupun suka.

Manfaat Iman Kepada Qadha dan Qadar


Adapun Manfaat Iman Kepada Qadha dan Qadar, antara lain:

a. Sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah swt dan tawakkal

b. Pandai bersyukur dan tidak mudah sombong. Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan selalu mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt kepada dirinya.

c. Yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah swt. maka orang yang percaya qadha dan qadar Allah swt akan menerima dengan kelapangan hati atas segala yang menimpa dirinya.

Demikianlah uraian singkat tentang Perilaku yang Mencerminkan Keimanan kepada Qadha dan Qadar serta Manfaat Mengimani Keduanya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi admin dan para sidang pembaca yang mulia sekalia.

Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?

Siapakah Para Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang beliau riwayatkan dari Allah Azza wa Jalla yang berfirman,

من عادى لى وليا فقد اذنته بااحرب, وما تقرب الي عبدي بشيء احب الي
مماافترضته عليه, وما يزال عبدى يتقرب الي بالنوافل حتى احبه, فءذا
 أحبته كنت سمعه الذي يبصر به, ويده التي يبطش بها, ورجله التي يمشي
بها, وان سألني لأعطينه, و لءن استعاذني لأعيذنه

(Man ‘aadaa lii wa liyyan faqod aadzantuhu bilharbi, wa maa taqorraba ilaiya ‘abdii bisyai-in ahabba ilaiya mimmaftaradhtuhu ‘alaihi, wa maa yazaalu ‘abdii yataqorrabu ilaiya binnawaafili hattaa uhibbahu, faidzaa ahbabtuhu kuntu syam’ahulladzii yasma’u bihi, wa basharahulladzi yubshiru bihi, wayadahullatii yabthisyu bihaa, wa rijlahullatii yamsyii bihaa, wa in sa-alanii la’ukthiyannahu, wa la-inista’adzanii la-u’iidzannahu).

Artinya: “Siapa memusuhi wali-Ku, Aku mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.  Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku  dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya dimana ia mendengar dengannya, Aku menjadi matanya dimana ia melihat dengannya, Aku menjadi tangannya dimana ia bertindak dengannya, dan Aku menjadi kakinya dimana ia berjalan dengannya. Jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, Aku pasti memberi permitaannya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Hadis Qudsi di atas menyatakan kepada kita keutamaan wali Allah di sisi-Nya dan di sisi manusia. Bahwa kita tidak boleh membenci dan memusuhi wali-wali Allah tersebut. Siapa yang membenci mereka maka Allah dan Rasul-Nya akan membenci orang-orang yang membenci itu.

Bahkan dikatakan, siapa membenci wali-wali Allah maka amal ibadah yang dilakukannya itu tidak bermakna di mata Allah Azza wa Jalla. Maka barangsiapa yang ibadahnya mau diterima oleh Allah dan mendapat cinta-Nya maka hilangkanlah semua kebencian dan ketidaksenangan dari dalam hati terhadap para wali Allah itu.

Mereka (para wali) diberikan keutamaan seperti itu, karena kecintaan mereka dan semangat mereka malakukan segala amal ibadah kepada-Nya, dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan (baik yang wajib maupun sunnah) dan menjauhi semua yang dilarang-Nya, sehingga Allah mencintai mereka dan memberikan mereka karomah-karomah yang tidak diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang lain.

Siapakah wali-wali Allah itu?

Setiap orang mukmin dan bertakwa adalah wali Allah Ta’ala, hanya saja tingkatan mereka berbeda tergantung kepada ketakwaan mereka, dan keimanan mereka. Siapa saja yang iman, dan ketakwaannya sempurna, maka kedudukannya di sisi Allah Tinggi, dan karomahnya lengkap.

Pemimpin para wali adalah para rasul, dan para nabi, dan sesudah mereka adalah kaum mukminin.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat 62 sampai 64 sebagai berikut:


Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Dalam QS. Ali Imran ayat 37, Allah Ta’ala berfirman:


Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


“Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’.”

Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadis-hadis serta berita-berita yang beredar di kalangan umat Islam yang memberitakan tentang keberadaan dan keutamaan para wali Allah ini beserta karomah-karomah yang dianugerahkan Allah kepada mereka.

Karena itu sebagai Muslim harus beriman bahwa Allah Ta’ala mempunyai wali-wali dari hamba-hamba-Nya yang Dia pilih untuk beribadah kepada-Nya, menjadikan mereka taat kepada-Nya, memuliakan mereka dengan memberikan cinta-Nya kepada mereka, dan memberikan karomah-karomah-Nya kepada mereka.

Mari kita mencintai para wali Allah dan para ulama yang benar (bukan ulama setan), jauhkanlah prasangka buruk kepada mereka dan kalau ada yang tidak disukai hilangkanlah kebencian itu dari dalam hati, kemudian tancapkanlah dalam hati kecintaan kepada mereka, karena Allah dan Rasul pun mencintai dan membanggakan mereka. 

Ingatlah kebencian kepada mereka itu dapat menjadi sebab semua ibadah yang kita lakukan tidak diterima oleh Allah. Bukankah Allah akan memerangi mereka yang membenci wali dan ulama-Nya.

Kemudian supaya kita juga mendapatkan cinta dari Allah, mari kita amalkan hadis qudsi di atas. Lakasanakan semua kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan oleh agama dengan sebaik-baiknya. Seperti shalat fardlu lima waktu, puasa ramadhan, menunaikan najar dan sumpah yang telah kita ucapkan dan segala amal ibadah yang menjadi sebab tertentu menjadi ibadah wajib.

Tapi kita harus sadar ibadah wajib ini tidak cukup untuk mendapatkan cinta dari Allah, sebab ibadah wajib atau fardlu merupakan kewajiban yang dipaksakan oleh agama dan harus kita jalankan. Karena itu Allah masih hanya mencintai sebatas ibadah yang kita lakukan.

Untuk mendapatkan cinta dari Allah secara sempurna, maka kita harus banyak dan terus menerus mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan ibadah-ibadah sunnah (setelah menyelesaikan yang fardlu) hingga Allah menganugerahkan cinta-Nya kepada kita. 

Ibadah sunnah itu banyak seperti shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, bersedekah dan masih banyak lagi.

Baca HIKMAH SHALAT SUNNAH


Untuk bisa melaksanakan semua itu, Hanya kepada Allah jualah kita memohon pertolongan dan kemantapan hati. Semoga Allah Yang Mahapenyayang dan Mahapengasih memberikan pertolongan dan menancapkan himmah atau ketetapan hati yang kuat kepada kita untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.

NIAT DALAM SHALAT

NIAT DALAM SHALAT

Dalam shalat, niat merupakan salah satu rukun baik pada shalat fardlu maupun dalam shalat sunah.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya (semua) perbuatan (amal) itu sangat bergantung (kesahihannya dan kesempurnaannya) kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuatu yang (sesuai) dengan niatnya......" (HR. Imam Bukhari, hadis sahih).

Niat harus dihadirkan atau dicangkam dalam hati bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Menurut pendapat tiga Imam Madzhab lain, boleh mendahulukan niat atas takbir dalam selang waktu yang pendek. 

Sangat penting untuk diketahui, setiap orang yang hendak mengerjakan shalat, wajib memperhatikan kesucian tubuh, pakaian dan tempat shalatnya (dikerjakan dalam keadaan suci), sudah masuk waktu (untuk shalat fardlu) dan menghadap kiblat. Kemudian melakukan niat shalat yang hendak dikerjakannya itu dan mengucapkan takbir.

Kalau salah satu dari hal-hal tadi yang kita sebutkan tidak dilakukan, niscaya tidak memadai atau tidak sah shalatnya.

Hal-hal wajib dalam melakukan niat shalat fardlu, adalah:

1. Qoshdul fi'li, artinya harus atau wajib menyengaja melakukan shalat. Ini dimaksudkan untuk memisahkan perbuatan shalat dengan perbuatan-perbuatan lain di luar shalat. Itu sebabnya kalau sudah masuk dalam shalat tidak boleh mengerjakan hal-hal lainnya yang bukan gerakan dan ucapan shalat. Kalau ini tetap dilakukan dengan sengaja maka batallah shalatnya.

2. Ta'yiin, artinya pernyataan jenis shalat. Misalnya kalau lagi melaksanakan shalat dhuhur maka ta'yiin-nya adalah shalat dhuhur bukan salat yang lainnya.

Jika ada yang berniat dengan menyebutkan kefardluan secara umum tanpa kedua unsur di atas maka niatnya tidak cukup.

Umpamanya ketika mendirikan shalat isya', orang harus berniat dengan mengucapkan: "Ushalli fardha Al-'Isyaa'i arba'a raka'aatin lillahi ta'ala, artinya aku sengaja melakukan shalat fardlu 'Isya' empat rakaat karena Allah Ta'ala.

Pada shalat-shalat sunnah rawatib, shalat-shalat sunnah yang ditentukan waktunya atau yang mempunyai sebab, maka selain ta'yiin wajib juga menyebutkan penyebabnya. Misal ketika melakukan shalat sunah dhuhur kita wajib menyebutkan shalat sunah dhuhur - baik qabliyyah (sebelum fardlu duhur) maupun ba'diyyah (setelah selesai shalat fardlu dhuhur). Dhuhur itu adalah penyebab melakukan shalat sunat baik qabliyyah maupun ba'diyyah.

Untuk shalat sunnah muthlaq, 2 raka'at tahiyatul masjid, sesudah wudlu, dan istikharah tidak diwajibkan ta'yin. Jadi memadailah shalat hanya dengan niat melakukan shalat. Untuk shalat sunnah Awwabin ada dua pendapat ada yang mengharuskan ta'yin ada pula yang tidak, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Fathul Mu'in.  

Untuk shalat sunat rawatib qabliyyah, kalau mau dapat pula dikerjakan setelah selesai melakukan shalat fardlu. Hal ini terjadi karena seseorang tidak sempat mengerjakannya karena terlambat sementara Imam dan makmum sudah masuk mengerjakan shalat fardlu berjamaah.

3. Dalam shalat fardlu, wajib niat fardlu, sekalipun fardlu kifayah atau fardlu sebagai nazar walaupun yang mengerjakan shalat itu anak kecil, untuk membedakannya dengan shalat sunnah. Ini artinya pada shalat sunnah tidak diwajibkan untuk membaca kesunahan salat. Contoh dalam menyatakan kefarduan: Ushallii fardha al-'Isya'. Sedangkan pada shalat sunnah misalnya cukup mengatakan, Ushallii ad-dhuha.

Disunnahkan dalam melakukan niat shalat untuk menyandarkan niatnya kepada Allah swt agar tampak dan terbit keikhlasan itu, karena itu pula ada ulama yang mewajibkan penyandaran ini dalam niat.

Jika salat yang dilakukan itu salat berjamaah, baik fardu maupun sunat, maka harus ditambah rukun keempat, yaitu berniat untuk berjamaah atau mengikuti iman (iqtidaa'an atau ma'muuman).

Jika imam tidak berniat - dengan tegas - menjadi imam, maka salatnya sah dan dia (hanya) dinilai melakukan shalat munfarid (sendirian), sehingga tidak mendapatkan pahala berjamaah dan pahala menjadi imam.

Nabi Muhammad saw., bersabda: "Sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapat apa yang dia niatkan." Jika dia tidak berniat menjadi imam, maka dia tidak mendapatkan pahala sebagai imam. Sementara orang-orang yang di belakangnya salatnya sah sebagai jamaah dan mendapatkan pahala berjamaah.

Kesunahan lain dalam melakukan niat shalat adalah menyertakan unsur pengarahan (Ta'arudl), apakah shalat yang dilakukannya itu Adaa' atau Qadla.

Tetap sah shalat walaupun shalat Adaa' dibaca niat Qadla atau sebaliknya karena sebab dia tidak mengetahui masuknya waktu shalat karena terhalang oleh sejenis kegelapan awan. Kalau tidak terhalang maka tidak shah karena dianggap mempermainkannya.

Kesunahan berikutnya dalam niat adalah Ta'arrudl menghadap Qiblat dan bilangan raka'at.

Bila orang yang sedang mengerjakan shalat ragu - sudahkan niat dengan sempurna apa belum, atau niat shalat 'Ashar apakah Dhuhur - maka jika ia ingat kembali setelah tempo yang cukup lama atau sesudah menunaikan satu rukun shalat sekalipun yang berupa ucapan (Al-Fatihah) maka shalatnya batal. Tapi jika dia ingat sebelum rukun itu, shalatnya tetap shah.

Tambahan

Kalau ada orang pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, kemudian sebelum atau ketika keluar rumah dia mengucapkan niat, maka niatnya itu tidak cukup/sah untuk melakukan salat. Tapi nanti ketika di masjid dia harus berhenti sejenak untuk menghadirkan niat dalam hatinya.

Karena niat yang diucapkan ketika keluar rumah menuju masjid merupakan pekerjaan khusus dan tidak termasuk niat yang wajib dilakukan ketika takbiratul ihram.

Nabi saw bersabda:

"Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu pergi ke salah satu rumah Allah (mesjid) untuk melaksanakan salat fardu yang ditetapkan Allah, maka dua langkah yang dilangkahkan itu, yang satu menghapuskan suatu dosa, sedang yang satu lagi mengangkat satu derajat." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Imam Nawawi dalam Ar-Rawdah mengatakan, "Niat itu wajib dilakukan pada takbiratul ihram."

Sedangkan Ibn Al-Mundzir dalam kitab Al-Ijma' mengatakan, "Mereka - ulama - sepakat bahwa shalat itu tidak cukup kecuali dengan niat."

Jadi, siapa yang tidak menghadirkan niat dan mengingatnya dengan hatinya ketika bertakbiratul ihram, maka salatnya tidak sah.

Adapun melafalkan niat sebelum takbiratul ihram itu hukumnya sunat, baru setelah itu mengucapkan takbiratul ihram sambil menghadirkan niat di dalam hati. Mengucapkan niat sebelum takbir supaya hati mudah konsentrasi ketika bertakbir.

Jika seseorang bertakbir dan ia tidak meniatkan suatu shalat yang tertentu, kemudian ia melakukan niat, maka tidak sah shalatnya. Karena ia sudah masuk kepada shalat yang tidak ditujukannya maksud kepada shalat itu dengan niat.

Tapi kalau ia yakin bahwa ia telah masuk dalam shalat dengan niat, kemudian ia ragu, adakah ia masuk dalam shalat itu dengan niat atau tidak, atau ragu-ragu apakah shalat yang diniatkannya betul atau tidak (dhuhurkah atau asarkah) maka kalau teringatnya itu belum sampai mengerjakan sesuatu dalam shalat atau belum sampai memasuki rukun (bacaan Al-Fatihah), maka shalatnya tetap sah.

Jika orang yang sedang melakukan salat memutuskan niat salatnya di tengah-tengah pelaksanaan salat, yakni dia bermaksud sungguh-sungguh ('azam) untuk keluar dari salatnya, maka batallah salatnya meski dia tidak jadi keluar sebab dia telah membatalkan niatnya.

Demikian pula, jika seseorang yang sedang melaksanakan shalat itu ragu-ragu antara keluar dan melanjutkan salatnya, maka batal pula salatnya, meski dia tidak jadi keluar sebab dia pun telah membatalkan niatnya. Hal ini terjadi karena ada seorang tamu datang mengetuk pintu sementara dia sedang salat, atau sebab lainnya.

Jika seorang teman berjanji akan datang ke rumah kita pada waktu tertentu, lalu kita berkata dalam hati, "Jika dia datang ketika aku sedanga shalat, maka aku akan memutuskan salatku dan dia akan kusuruh masuk. Tapi jika dia tidak datang, maka aku akan menyempurnakan salatku.

Sebenarnya pelaksanaan cara salat seperti itu tidak sah karena tidak mempunyai niat yang pasti. Bahkan kita mempunyai maksud untuk memutuskannya. Karena itu, tetapkanlah hati untuk betul-betul berniat untuk mengerjakan salat.

Sikap ragu-ragu di tengah-tengah shalat - akan keluar atau tidak dari pelaksanaan shalat - dapat membatalkan salat. Allah berfirman, Dan janganlah kamu membatalkan ama-amal kalian (QS. Muhammad: 33).

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., "Jika kamu melaksanakan shalat fardu, maka jangan keluar darinya (untuk menuju) kepada (pekerjaan) lain." (HR. Thabrany).

Para ulama mengatakan bahwa Ibn Mas'ud r.a. tersebut berhubungan dengan ayat di atas. Dengan itu para ulama berkesimpulan atas haramnya memutuskan segala ibadah yang fardu, seperti shalat fardu, shaum fardu, serta lainnya.

Tapi para ulama membolehkan - meskipun dinilai makruh - untuk membatalkan ibadah sunat dengan berbagai dalil atau alasan.

Dalam sebuah hadis, Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa suatu hari Rasulullah saw. mendatanginya. Dia berkata, "Wahai Rasulullah, kita dihadiahi hais (semacam makanan). Lalu Rasulullah saw. bersabda, Berikanlah makanan itu padaku, meskipun tadi pagi aku telah berniat shaum - puasa sunat," lalu beliau saw. pun memakan makanan tersebut. (HR. Imam Muslim dan lain-lainnya).

Tidak sah pula shalat seseorang yang melaksanakan salat sebelum waktunya. Kalau dia ingat kemudian bahwa dia melakukan shalat tidak memenuhi waktunya, maka shalatnya tersebut (terutama fardu) wajib diulang. Berbeda jika seorang yang awam melaksanakan shalat sebelum waktunya itu maka sah salatnya, kalau itu salat sunat, tapi tetap batal kalau yang dilakukannya itu fardu.

Demikian pula, jika dia mengetahuinya ketika bertakbiratul ihram, maka batal pula shalatnya karena syarat (untuk sah) shalat adalah tepat pada waktunya.

Baca Cara Mencapai Khusuk Dalam Shalat.

Buku sumber:

Al-Umm
Fathul Mu'n
Shahih Shifat Shalaat an-Nabiy : Hasan bin 'Ali As-Saqqaf

Semoga para ulama yang menulis kitab-kitab di atas mendapat ampunan, ridha dan kasih sayang dari Allah SWT begitu pula bagi para penerjemah yang telah bersusah payah menerjemahkan kitab-kitab tadi. Amiin.

Ciri-ciri Orang Yang Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Ciri-ciri Orang Yang Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Apa saja ciri-ciri perilaku orang yang beriman kapada qada dan qadar ? Berikut adalah jawabannya.

1. Senantiasa melakukan ikhtiar untuk meraih keberhasilan

Ikhtiar adalah segala upaya seseorang untuk meraih atau menggapai sesuati, atau ke arah hidup yang lebih baik.

Adanya takdir tidak membuat mereka malas berusaha, justeru membuat mereka semakin bersemangat.

Memang ada takdir yang sifatnya tetap dan sudah pasti, seperti kematian seseorang, namun ada pula takdir yang dapat diubah dengan cara ikhtiar dan doa , seperti prestasi dan kekayaan.

2. Senantiasa tawakkal kepada Allah swt.

Tawakkal setelah ikhtiar dilakukan dengan baik atau semaksimal mungkin.

Sikap tawakkal merupakan kesadaran diri bahwa apapun upaya yang kita lakukan maka hasilnya adalah terserah kepada keputusan Allah swt.

Manusia harus betul-betul sadar akan kelemahan dan keterbatasan dirinya dan adalah dia harus yakin bahwa apa pun hasilnya semata-mata atas kehendak Allah SWT.

Artinya: "...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (al-Imran ayat 159).

3. Ridha dan Ikhlas terhadap segala keputusan Allah swt.

Ridha dan ikhlas menerima segala apapun bentuk keputusan Allah yang diberikan kepada kita. Bahwa pemberian itulah yang terbaik bagi kita. 

Kalau kita mendapatkan yang terbaik tidak lantas membuat hati menjadi sombong dan membangga-banggakan diri. Dan kalau apa yang kita usahakan dan minta belum ada hasilnya maka tidak akan pernah dihinggapi rasa putus asa.

Bersyukurlah yang banyak atas nikmat yang telah engkau terima, niscaya Allah swt. akan menambah dan melipat gandakan nikmat yang diberikan-Nya kepadamu.

Sesungguh Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (al-Kahfi ayat 7).

Perhatikanlah Surat al-Kahfi ayat 7 di atas. Orang yang percaya terhadap takdir pasti yakin sepenuhnya bahwa segala macam bentuk, baik itu kesenangan dunia seperti harta, keturunan, dan kedudukan maupun penderitaan serta kemalangan semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT dan itu semua adalah alat penguji kualitas keimanan dari hamba-hamba-Nya.

Orang-orang yang ridha terhadap semua ketentuan dan kehendak Allah Swt adalah wajib hukumnya dan merupakan tanda keimanan yang sempurna pada diri seseorang. Dengan memiliki sikap seperti ini maka akan melahirkan akhlak-akhlak mulia dan terpuji lainnya. Hilanglah sikap congkak dan sombong yang ada pada dirinya kemudian muncullah sifat yang selalu ingin menghargai orang lain.

4. Tabah hati dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar Allah, tidak akan pernah atau tidak akan mudah untuk mengeluh dan menyesali nasib sulit yang telah menimpanya dan tidak terlalu merasa bersedih dalam menghadapi cobaan dan takdir Allah swt. Ketabahan itu selalu diperkuat dalam hatinya untuk menghadapi semua musibah yang menimpanya, karena dia yakin bahwa kesabaran dan ketabahannya itu akan membuahkan hasil yang lebih baik di sisi Allah swt dari apa yang diinginkannya di dunia ini.

Buah dari ketabahan dan kesabarannya di dunia adalah dia tidak akan menyerah dan putus asa. Dia akan merasa wajar saja menghadapi semuanya. Dia akan tetap menghadapi hidup dengan semangat dan bergairah walaupun kesulitan mendera dirinya. Karena sekali lagi dia sangat menyakini semua cobaan itu datang dari Allah swt untuk mengujinya, apakah dia pantas menjadi salah satu hamba yang ditinggikan derajatnya di antara hamba-hamba-Nya yang shalih.

Setiap kesedihan dan benih putus asa menyusup ke hatinya, dia akan selalu mengingat firman Allah swt Surah Al Hadid ayat 22-23 di bawah ini.

Artikel Terkait: Pengertian Qada dan Qadar.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ikatlah Jiwa dengan Kendali

Ikatlah Jiwa dengan Kendali
Wahai saudaraku, ikatlah jiwa dengan kendali, jauhkan hati dari dosa, dan bacalah lembar pelajaran dengan lisan pemahaman! Wahai pengabai ajal dan pengedepan angan, wahai pemberani dalam berbuat jahat! Sadarlah , wahai pelelap! 

Betapa banyak tahun yang kausia-siakan. Seluruh mimpi yang tak nyata. Tua, tetapo akalmu seperti anak kecil. Tidakkah kau mengerti, penakluk nafsulah pemberani sejati. Kelalaian telah memuncak dan bencana semakin dekat. Inna lillah wa inna raji’un.

Suatu ketika Nabi Isa a.s. melewati sebuah kampung dan mendapati semua penduduknya mati berserakan di tanah. Ia terkejut lalu berkata, “Wahai para hawari, mereka mati dalam kondisi marah dan murka. Seandainya mereka mati dalam keadaan rida kepada Allah, tentu mereka saling menguburkan.” 

Para hawari bertanya, “Wahai Ruhullah, kami ingin mengetahui kabar dan keadaan mereka.” Nabi Isa a.s. lalu berdoa kepada Allah Swt. dan mendapat wahyu: “Bila malam telah tiba, panggillah mereka! Mereka akan menjawab panggillanmu.”

Kala malam tiba, Nabi Isa a.s. naik ke sebuah tempat tinggi dan berseru, “Wahai penduduk kampung!” Ternyata seseorang di antara mereka menjawab, “Ya, kami terima panggilanmu, wahai Ruhullah.” Isa a.s. bertanya, “Bagaimana kabar kalian.” Orang itu menjawab, “Wahai Ruhullah, sebelumnya kami baik-baik saja, namun kemudian kami mendapat bencana.”

“Bagaimana bisa terjadi?”

“Kami terlalu cinta dunia, taat kepada ahli maksiat, tidak memerintahkan kebaikan , dan tidak mencegah kemungkaran.”

“Bagaimana cinta kalian terhadap dunia?”

“Seperti anak kecil yang mencinta ibunya. Jika sang ibu datang, anak sangat gembira, dan jika pergi, ia sedih dan menangis.”

“Wahai fulan, mengapa yang lain tidak memenuhi panggilanku?”

“Mereka diikat dengan kekang neraka oleh para malaikat yang keras dan kasar.”

“Lalu, bagaimana engkau bisa memenuhi panggilanku?”

“Aku tidak termasuk di antara mereka tetapi berada di tengah-tengah mereka. Ketika azab menimpa mereka, aku pun ikut tertimpa. Sekarang aku tergantung di tepi jurang neraka. Aku tidak tahu apakah akan selamat atau jatuh.”

Semoga Allah Swt. melindungi kita dari neraka.

Wahai penghabis umur dengan melanggar batas, tangisilah musibah yang menimpamu! Bisa jadi engkau tertolak. Wahai yang usianya telah berlalu-sementara masa lalu tidak kembali, sejumlah nasihat sebagai petunjuk telah kau terima, uban sudah memberitahumu bahwa engkau akan mati, dan lisan pelajaran menyeru, “Wahai manusia, engkau betul-betul bersusah payah menuju Tuhan.”

Ketika masa hubungan dan keridaan telah lewat engkau
meminta yang sudah berlalu kembali
Bukankah sudah Kudatangi dan Kutawarkan jalinan?
Uban putihmu pun begitu terang dari berbagai sisi.

Wahai saudaraku, inilah saatnya kembali, meminta ampun, dan meninggalkan dosa.

“Barangsiapa mencapai usia empat puluh tahun, sementara kebaikan tidak mengalahkan keburukannya, bersiap-siaplah ke neraka.”

Kudatangi Engkau dengan penuh harap, wahai Tuhan
Lepaskanlah, seperti yang kau lihat, buruknya keadaanku
Aku telah mendurhakai-Mu dengan kebodohanku
Aibnya dosa tidak pernah terlintas dalam benakku
Kepada siapa lagi hamba mengadu selain Engkau Sang
Penguasa seluruh alam, Tuhanku?
Celakanya diriku! Andai saja ibu tidak melahirkanku dan di
kegelapan malam aku tidak mendurhakai-Mu
Inilah aku, hamba-Mu yang bersalah wahai Tuhan Yang
Mahaagung, berdiri di pintu-Mu
Jika Engkau menghukumku, wahai Tuhan azab dan siksa
memang pantas untukku
Jika Kaumaafkan aku, ampunan-Mu sungguh kuharapkan
Dengan maaf-Mu, menjadi baiklah buruknya keadaanku.

Allah Swt. berfirman, “Wahai hamba-Ku, tidakkah engkau tahu bahwa Akun menciptakan dunia sebagai tempat beban dan ujian? 

Bukankah engkau tahu bahwa Aku hanya memberikan kedudukan baik dan mulia kepada orang yang bertobat kepada-Ku dari dosa dan kesalahan? 

Mengapa engkau tidak mendatangi pintu-Ku, Tidak mengharap limpahan karunia dan pahala-Ku, serta tidak takut akan siksa dan hukuman-Ku?”

Wahai yang begitu lalai dan alpa, perhatikanlah kasih dan karunia Tuhan kepadamu!

Lenyapkanlah beban dosa di punggungmu dengan tobat! Datanglah dengan hatimu kepada Yang Maha Mengetahui segala hal tersembunyi! 

Cucilah wajahmu dengan linangan air mata! 

Pakailah busana kerendahan dan ketundukan!

Kulakukan berbagai dosa hingga memenuhi kehinaan
Air mataku pun mengalir dengan begitu derasnya
Aku mengecam hati yang telah sadar
Kepada siapa hamba akan mengadu bila tidak kepada
Tuannya, Sang Penguasa seluruh hamba?

Kemurahan-Mu, wahai Pemelihara arasy, tentu lebih utama.

Artikel sebelumnnya: Wahai saudara-saudaraku yang lalai.

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram

Takdir Mubram yaitu ketentuan Allah yang sudah pasti dan tidak dapat diubah.

Contoh: kematian seseorang, datangnya Hari Kiamat, jodoh dan jenis kelamin.

Dalam masalah hidup dan mati manusia sama sekali tidak bisa merencanakan. Umur tidak dapat diperpanjang maupun di perpendek, apalagi sampai menolak kematian.

Dalam Alqur'an Allah SWT telah menjelaskan:

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram

"Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.

Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka menyatakan ini, dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan "ini dari engkau (Muhammad)."

Katakanlah, semuanya datang dari sisi Allah."

Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun) ?" (Q.S. an-Nisa [4] : 78).

Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan:

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram


"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang dikehendaki Allah." "Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (Q.S. Yunus [10] : 49).

Jadi takdir mubram itu pasti terjadi. Tidak ada kekuatan yang dapat menolaknya.

Setinggi apa pun ilmu manusia tidak mengalahkan ilmu Allah SWT,

secanggih apa pun teknologi manusia tidak mengalahkan teknologi Allah,

dan setinggi apa pun kekuasaan manusia tidak bisa mengalahkan kekuasaan Allah SWT.

Baca: Pengertian Qada dan Qadar.

PENGERTIAN QADA DAN QADAR

PENGERTIAN QADA DAN QADAR

Qada adalah keputusan atau ketentuan Allah SWT terhadap semua makhluk-Nya atas segala sesuatu apa yang akan terjadi di dunia maupun di akhirat.

Qadar adalah segala ketentuan Allah SWT yang telah terjadi.

Atau kalau kita mau mengatakannya secara singkat. Qada adalah ketetapan Allah SWT atas makhluk-Nya sebelum terjadi, sedangkan Qadar adalah pelaksanaan dari ketetapan tersebut.

Qada  dan Qadar biasa disebut takdir.

Hal ini sudah dijelaskan dalam Surah al-Hadid ayat 22 bahwa tidak ada sesuatu kerusakan (bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak pula yang menimpa diri kamu melainkan telah sedia ada di dalam kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.

Jadi, apa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi pada diri kita sudah ada ketentuan dari Allah. Allah sudah merencanakan semuanya.

Hukum Alam atau hukum sebab akibat memang ada. Tetapi tidak mustahil bila qada dan qadar Allah tidak sesuai dengan hukum alam.

Karena Allah Maha Berkehendak dan Maha Pemberi Keputusan.

Di sisi lain Allah menghargai usaha yang dilakukan manusia. Cuma manusia tidak tahu apakah takdirnya tetap atau dapat berubah.

Oleh karena itu pada dasarnya takdir itu ada dua macam, yaitu: takdir mubham (pasti dan tetap) dan takdir mualaq (dapat berubah dengan ikhtiar).

Baca juga : Hukum Mengucapkan Sayyidina Saat Bershalawat.

Demikianlah pengertian qada dan qadar kami kutip dari buku Akidah Akhlaq untuk Mts kelas IX. Semoga bermanfaat.

HUKUM MENGUCAPKAN SAYYIDINA SAAT BERSHALAWAT

HUKUM MENGUCAPKAN SAYYIDINA SAAT BERSHALAWAT

Bagaimana sebenarnya hukum mengucapkan "sayyidina" pada shalawat kepada Nabi saw., terutama dalam shalat?

Melafazkan kata sayyidina dalam bacaan shalat maupun di luar shalat menurut Ahlussunnah wal Jama'ah sunnah dan dianjurkan. Kata-kata sayyidina atau tuan atau yang mulia seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat.

Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Banjuri menyatakan:

الأولى ذكر اسيادة لأن ألأ فضل سلوك ألأدب

"Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi saw), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada beliau)." (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal. 156).

Pendapat ini didasarkan pada hadis Nabi Saw :

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Saya adalah sayyid (penghulu) anak Adam pada Hari Kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafa'at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa'at." (Shahih Muslim, 4223).

Hadis ini menyatakan bahwa Nabi saw menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad Saw menjadi sayyid hanya pada Hari Kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia di dunia dan akhirat.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani: "Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad saw di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadis 'Saya adalah sayyidnya anak cucu Adam di Hari Kiamat.'

Tapi Nabi saw menjadi sayyid keturunan Adam di dunia dan akhirat." (Dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169).

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi saw membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad saw sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan.

Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat. Maka mengucapkan kata sayyidina ketika menyebutkan nama Nabi saw adalah dianjurkan untuk memuliakan dan menghormati Nabi saw dan juga untuk mendudukkan posisi Nabi sebagaiamana yang seharusnya.

Sedangkan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi saw melarang mengagungkan beliau dan juga hadis ketika beliau ditanya tentang bagaimana membaca shalawat kepada beliau yang dijawab dengan Allahumma Shalli ala Muhammad tanpa embel-embel "Sayyidina" dimaksudkan untuk kita tidak mengkultuskan Nabi saw sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani / Kristen yang menuhankan Nabi Isa as.

Sedangkan tidak ditambahnya kata sayyidina oleh Rasulullah saw sendiri dalam bacaan shalawat itu karena Rasulullah saw sendiri dalam bacaan shalawat itu, karena Rasulullah saw orang yang sangat rendah hati  sehingga kalau beliau menyebutkan sendiri namanya tentu saja tidak diembel-embeli dengan kata sayyidina.

Jadi setiap ungkapan harus disesuaikan dengan yang berkata dan situasi kondisi pernyataannya. Seseorang tentu menjadi tidak etis menyebutkan dirinya dengan sebutan yang memuliakan diri sendiri, tapi bagi orang lain maka menjadi baik, bahkan dianjurkan ketika menyebutkan orang lain,

apalagi seperti halnya Nabi saw yang merupakan makhluk yang paling mulia haruslah dengan sebutan yang sesuai dengan kemuliaan dan ketinggiannya di sisi Allah swt.

Kalau Allah saja memuliakan sebutan Nabi Muhammad saw, bagaimana dengan kita yang merupakan umatnya ?

Demikan juga salah satu masalah yang juga dipersoalkan adalah menggunaka kata maulana kepada Ulama atau tuan guru, seperti Maulana Syaikh dan lain-lain, maka hukumnya adalah boleh bahkan dianjurkan sebagai bentuk memuliakan dan menta'zhimkan ulama dan guru. Hal ini sejalan dengan semangat ayat al-Qur'an:

"Allah mengangkat (memuliakan) orang-orang yang beriman dan ahli ilmu (ulama) beberapa derajat.."

Allah swt yang maha agung dan maha mengetahui sangat menghargai orang-orang yang beriman dan ahli ilmu, maka bagi kita tentu akan lebih wajib memuliakan mereka.

Bukankah kita mengetahui ajaran-ajaran agama kita dengan baik dan benar karena jasa para ulama dan tuan guru. Oleh sebab itu memuliakan mereka dengan menyebut dengan kata-kata yang menunjukkan penghormatan menjadi satu keharusan.

Ini bukan berarti mengkultuskan, karena apa yang kita lakukan adalah sebatas memberikan penghormatan yang layak untuk mereka. (DR. H. Salimul Jihad, M.Ag).

Baca juga: Tanya Jawab Tentang Islam

Komentar Ilmuwan Barat Tentang Kehebatan Alquran

Berikut ini, beberapa komentar ilmuwan Barat tentang kehebatan Alquran :

Komentar Ilmuwan Barat Tentang Kehebatan Alquran
DR. Maurice Bucchaeli
Dr. Maurice Bucchaeli, seorang dokter ahli bedah dan cendekiawan kenamaan dari Prancis mengatakan, “Alquran adalah kitab paling sempurna yang disampaikan Tuhan kepada seluruh manusia.”

Bosworth Smith, seorang ilmuwan Inggris ternama, dalam buku The Life of Muhammad, menyatakan, “Salah satu keistimewaan dalam sejarah manusia yang tidak pernah bisa dicapai oleh manusia lain adalah fenomena Muhammad yang dalam satu periode berhasil merintis tiga hal paling agung dan tindakan paling mulia. Ia adalah penyokong umat, kekuasaan pemerintah, dan agama. 

Padahal, ia adalah seorang yang buta huruf. Kendati tidak memiliki kemampuan tulis – baca, ia datang membawa kitab berisi ayat-ayat yang mengandung nilai-nilai sastra yang tinggi, mencakup kumpulan hukum, ajaran tentang shalat dan juga agama sekaligus.”

Menurut Gibbon, Alquran dapat diterapkan dalam hukum Samudera Aquainus Atlantik hingga sungai Lujanis. Sebab, Alquran tidak hanya membicarakan pokok-pokok agama, melainkan juga sumber hukum yang meliputi hukum pidana dan perdata, serta hukum lain yang berkenaan dengan setiap segi kehidupan umat manusia. 

Hukum yang terkandung dalam Alquran merupakan konvensi hukum yang paling sempurna. Ajaran yang dibawa Muhammad bersifat menyeluruh bagi seluruh manusia. Hukum-hukumnya bersifat universal – meliputi urusan-urursan yang besar hingga yang kecil. 

Inilah ajaran yang menggucangkan dunia dengan hukum-hukumnya. Alquran adalah sumber dan sekaligus metode hukum. Belum ada seorang oun yang mampu menyamainya di jagad ini.”

Carlyle berujar, “Alquran adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Isayarat kebenaran, keagungan, dan ketulusan etekad termasuk diantara keunggulan Alquran yang dapat saya tangkap. Alquran adalah keutamaan paling utama dan sekaligus terakhir.

Di dalamnya terkandung beragam jenis hukum. Sebauah kitab yang – menukil salah satu ayatnya – bisa dikatakan, ‘Berlombalah, wahai para pesaing,’ karena begitu banyak keutamaan yang terkandung di dalamnya.”

Komentar Dr. M. Ahnu, konsulat Jepang untuk mesir, lain lagi. Ia menyatkan, “Bila kaum Muslim di belahan Timur maupun Barat berpegang teguh dengan apa yang terkandung dalam Alquran, kemajuan peradaban mereka pasti akan segera tercapai, baik dalam kehidupan sosial, budaya, agama, maupun politik.

Alquran merekomendasikan seluruh hukum terdahulu hingga yang paling kontemporer sekalipun. Inilah sebuah kitab universal yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh pelosok dunia.

Kata Ahnu lagi, melalui Alquran terjemahan bahasa Inggris, saya mencoba menelaah seluruh kandungan Alquran.  Betapa saya mengagumi kandungannya yang juga berisi hukum-hukum dan berbagai aturan kemasyarakatan.

Lebih kagum lagi ketika melihat kepedulian umat Islam pada ajaran agamanya yang begitu tinggi. Seandainya mereka terus menyandarkan diri pada Alquran , tidak diragukan lagi bahwa mereka bisa menggapai apa yang mereka harapkan.”

Edmund Burk, seorang ahli hukum adal Inggris, berpendapat bahwa undang-undang yang dibawa Muhammad adalah aturan menyeluruh yang mengatur seluruh lapisan manusia – mulai dari raja hingga rakyat jelata.

Alquran merupakan kodifikasi hukum yang mengatur sistem peradilan, sistem perundang-undangan yang sangat agung yang tidak ada dalam undang-undang mana pun di dunia ini.

Gowth mengatakan, “Setiap kali pandangan kami tertuju pada Alquran, ada semacam rasa takut bercampur khawatir. Namun, dari rasa inilah kami merasakan sensibilitas yang tidak kami dapatkan dalam kitab-kitab lainnya.

Alquran memang termasuk kitab suci yang memiliki kepekaan dan perasaan yang agung. Alquran menghidupkan dan mempengaruhi jiwa pembacanya dalam stiap generasi dan zaman.”

David Burt menyatakan bahwa Alquran merupakan aturan sosial kemasyarakatan, hukum perdata, perdagangan, undang-undang perang, sistem pemerintahan dan, di atas segalanya, juga undang-undang langit yang agung.

Dalam pandangan William Muir, seluruh keterangan Alquran bersifat alami dan membuktikan adanya pertolongan Allah atas manusia.

Sementara itu, Gibbon berpendapat bahwa hukum Islam adalah hukum yang universal – mencakup berbagai macam hukum dari ujung kepala hingga telapak kaki, karena ia berdiri di atas kebijaksanaan yang dihasilkan oleh akal yang paling luas ilmu dan pengetahuannya tentang kehidupan manusia.

Menurut Bernard Shaw, kerajaan Inggris harus mengikuti hukum Islam sebelum abad ini berakhir. Seandainya Muhammad diutus pada zaman modern yang sarat dengan ajaran diktatorisme, ia pasti sepenuhnya berhasil mengeluarkan manusia dari krisis global ini dan mengayomi manusia menuju kesejahteraan dan perdamaian.

Demikianlah beberapa kesaksian para ahli dari Barat  tentang kebenaran dan keutamaan kitab suci Al-quran turun dari Allah yang Maha Mulia untuk seluruh umat manusia.

  
Sumber:

Rahasia-Rahasia Ibadah – by. Syaikh Ali Ahmad al-Jurjawi.

JANGAN MEREMEHKAN DOSA SEKECIL APAPUN

JANGAN MEREMEHKAN DOSA SEKECIL APAPUN

Jangan Pernah Meremehkan Dosa - Sebagai manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah dan juga cepat berkeluh kesah menyebabkan manusia selalu saling menjalin hubungan sesuai dengan tingkat pada tataran kebutuhan mereka.

Dalam berbagai pergaulan ini tentunya terjadi beberapa perselisihan dan pertentangan yang menyebabkan timbulnya ketidak harmonisan. Pertentangan ini mungkin juga bisa terjadi tanpa disadari oleh manusia.

Menyakiti perasaan orang lain dalam bentuk apapun jelas merupakan perbuatan yang dapat menyebabkan orang yang berbuat itu menanggung dosa. 

Pola pikir yang terbentuk selama proses pergaulan dan penyerapan ilmu pengetahuan yang terbentuk dari luar dirinya, terkadang atau bahkan sering kali menyebabkan manusia terjerumus menentang dan membantah apa-apa yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya. 

Jelas perbuatan ini dosa besar yang dapat menyebabkan pembantah-pembantah tersebut menjadi kufur.

Tingkatan dosa yang timbul sebagai efek pergaulan inipun bermacam-macam, ada yang dikelompokkan sebagai dosa-dosa kecil dan ada yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok dosa besar, seperti membunuh, berzina, dan bermabuk-mabukkan.

Sangat penting untuk kita pahami, semua dosa itu, baik dia kecil maupun dia besar adalah kemaksiatan yang pastinya mendapat siksa, kecuali jika Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun menghendakinya lain. Siksa yang diterima bagi pelaku dosa juga bertingkat-tingkat sesuai dengan kecil – besarnya dosa yang dilakukan.

Karena itu, tidak sepatunya manusia meremehkan dosa sekecil apapun. Ketahuilah, sikap meremehkan seperti itu merupakan bentuk kesombongan yang tidak patut untuk dilakukan sebagai seorang hamba yang sangat lemah dan memiliki ketergantungan yang sangat besar di hadapan Allah SWT.

Sebab lain kenapa manusia tidak boleh meremehkan dosa-dosa walau itu hanyalah dosa kecil menurut anggapan manusia, sebab setiap orang yang melakukan kemaksiatan berarti ia meninggalkan perintah Allah dan meninggalkan perintah Allah adalah suatu persoalan yang besar, sebab hak Allah untuk ditaati adalah demikian besarnya.

Hal-hal itulah yang harus dipahami oleh setiap orang beriman yang menghendaki kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat kelak, bahwa kita tidak boleh memiliki sikap meremehkan terhadap kemaksiatan-kemaksiatan tersebut.

Adapun dosa-dosa yang terlanjur dilakukan, disengaja maupun tidak, kecil atau besar, maka Allah Maha Pengampun dan mintalah magfirah-Nya selalu setiap saat serta balaslah dosa-dosa itu dengan memperbanyak perbuatan baik dan amal salih. 

Sebab Rasul-Nya sendiri, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksum (bebas dari dosa) memohon ampunan setiap harinya sebanyak 70 kali kepada Allah Ta’ala dan pada riwayat yang lain 100 x sehari. Apakah kita yang tidak lepas dari tanggungan dosa-dosa ini, walaupun dosa kecil, tidak pantas memohon ampun lebih banyak dari itu setiap harinya?


Demikianlah, semoga artikel yang berjudul Jangan Meremehkan Dosa Sekecil Apapun ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi penulis di dunia dan di akhirat. Aamiin.