JANGAN MEREMEHKAN DOSA SEKECIL APAPUN

JANGAN MEREMEHKAN DOSA SEKECIL APAPUN

Jangan Pernah Meremehkan Dosa - Sebagai manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah dan juga cepat berkeluh kesah menyebabkan manusia selalu saling menjalin hubungan sesuai dengan tingkat pada tataran kebutuhan mereka.

Dalam berbagai pergaulan ini tentunya terjadi beberapa perselisihan dan pertentangan yang menyebabkan timbulnya ketidak harmonisan. Pertentangan ini mungkin juga bisa terjadi tanpa disadari oleh manusia.

Menyakiti perasaan orang lain dalam bentuk apapun jelas merupakan perbuatan yang dapat menyebabkan orang yang berbuat itu menanggung dosa. 

Pola pikir yang terbentuk selama proses pergaulan dan penyerapan ilmu pengetahuan yang terbentuk dari luar dirinya, terkadang atau bahkan sering kali menyebabkan manusia terjerumus menentang dan membantah apa-apa yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya. 

Jelas perbuatan ini dosa besar yang dapat menyebabkan pembantah-pembantah tersebut menjadi kufur.

Tingkatan dosa yang timbul sebagai efek pergaulan inipun bermacam-macam, ada yang dikelompokkan sebagai dosa-dosa kecil dan ada yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok dosa besar, seperti membunuh, berzina, dan bermabuk-mabukkan.

Sangat penting untuk kita pahami, semua dosa itu, baik dia kecil maupun dia besar adalah kemaksiatan yang pastinya mendapat siksa, kecuali jika Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun menghendakinya lain. Siksa yang diterima bagi pelaku dosa juga bertingkat-tingkat sesuai dengan kecil – besarnya dosa yang dilakukan.

Karena itu, tidak sepatunya manusia meremehkan dosa sekecil apapun. Ketahuilah, sikap meremehkan seperti itu merupakan bentuk kesombongan yang tidak patut untuk dilakukan sebagai seorang hamba yang sangat lemah dan memiliki ketergantungan yang sangat besar di hadapan Allah SWT.

Sebab lain kenapa manusia tidak boleh meremehkan dosa-dosa walau itu hanyalah dosa kecil menurut anggapan manusia, sebab setiap orang yang melakukan kemaksiatan berarti ia meninggalkan perintah Allah dan meninggalkan perintah Allah adalah suatu persoalan yang besar, sebab hak Allah untuk ditaati adalah demikian besarnya.

Hal-hal itulah yang harus dipahami oleh setiap orang beriman yang menghendaki kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat kelak, bahwa kita tidak boleh memiliki sikap meremehkan terhadap kemaksiatan-kemaksiatan tersebut.

Adapun dosa-dosa yang terlanjur dilakukan, disengaja maupun tidak, kecil atau besar, maka Allah Maha Pengampun dan mintalah magfirah-Nya selalu setiap saat serta balaslah dosa-dosa itu dengan memperbanyak perbuatan baik dan amal salih. 

Sebab Rasul-Nya sendiri, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksum (bebas dari dosa) memohon ampunan setiap harinya sebanyak 70 kali kepada Allah Ta’ala dan pada riwayat yang lain 100 x sehari. Apakah kita yang tidak lepas dari tanggungan dosa-dosa ini, walaupun dosa kecil, tidak pantas memohon ampun lebih banyak dari itu setiap harinya?


Demikianlah, semoga artikel yang berjudul Jangan Meremehkan Dosa Sekecil Apapun ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi penulis di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Sahabat, Maksiatmu Diujung Imanmu

Sahabat, Maksiatmu Diujung Imanmu

Sahabat, janganlah terkecoh dengan judul ini, karena yang aku maksud tetap saja masalah iman dan maksiat, walaupun kalimat ini, maksiatmu diujung imanmu, sedikit banyak ada benarnya sahabat.

Sahabat, ketahuilah iman itu lekat dengan kalbu, dikenal betul oleh hati. Karenanya dia selalu betah berada di dalam hati. Tapi dia harus diucapkan dengan lisan, dan dipraktekkan dengan seluruh anggota tubuh supaya dia sempurna makrifat bersamamu.

Iman itu sahabat, bahan bakar yang menggelorakan semangat dan gairah yang menggerakkan jiwa dan jasmani untuk mencapai cita-citanya yang sangat suci dan abadi, ampunan, kasih sayang, dan surga.

Sahabat, iman itu memiliki pokok, juga dia punya cabang

Berlari dari pokok maka sama halnya dengan menerjunkan diri ke jurang neraka karena telah berlaku kafir duluan.

Jika engkau tergelincir dari cabang maka sudah pasti pada dirimu melekat suatu gelar yang tidak mungkin enak untuk didengar, yakni pelaku maksiat.

Karena itu kawan, kenallah dengan keduanya. Ketahuilah betul-betul mana pkok, mana cabang, supaya langkah kecil Anda tidak gamang.

Yang pokok dari iman itu, makrifat, tashdiq, dan iktiqad yang mesti diyakini. Terlepas salah satu dari ketiganya, melekatlah pada diri kekafiran. Na'udzubillah !

Sedangkan yang termasuk dari cabangnya itu, ditujukan kepada sesuatu yang jika ditinggalkan. Pelakunya tidak dinyatakan kafir, tetapi ia telah berbuat kemaksiatan sebab lalai sama perintah agama.

Sahabat, agar tidak terpeleset dari yang cabang ini, jagalah selalu shalat fardhu dan kewajiban-kewajiban lain, yang telah dibebankan oleh agama kepadamu.

Sahabat, katanya para ulama, para ustadz, iman adakalanya bertambah dan ada pula kalanya berkurang pada diri setiap insan.

Ketahuilah, iman bertambah dan juga berkurang terletak pada cabang, bukan pada pokok.

Karena kalau terjadinya di pokok bukan lagi disebut berkurang tapi sudah tercerabut dari akarnya yang kuat di hati. Sudah tidak pantas lagi disebut sebagai seorang beriman.

Lagi pula, sebagaimana kata Imam Asy-Syafi'i rhm., " Tidaklah mungkin iman itu bisa bertambah lagi di pokok, sebab ia wajib menyakini secara keseluruhan sehingga dengan itu ia bisa disebut beriman."

Maka penambahan dan pengurangannya hanyalah letaknya di cabang iman. Maka tetaplah ia beriman walaupun ia telah maksiat.

Saudaraku kaum muslimin sekalian, janganlah lidahmu tergesa-gesa menghukumi saudara seimanmu musyrik

Janganlah lidahmu terlalu cepat menghukumi saudaramu seiman kafir, lantaran dia berbeda paham denganmu.

Karena ketahuilah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah telah bersepakat bahwa kaum mukminin, tidak diragukan lagi keimanannya saat ini. Yang diragukan adalah keimanan yang akan diberi pahala kelak, sebab hal itu tergantung pada akhir kehidupan kita.

Orang tidak akan ada yang tahu bagaimana akhir dari kehidupannya kelak. Apakah dipenutup usianya dia berada dalam keadaan fasik, berbuat maksiat atau bahkan murtad. Duh, kita berlindung kepada Allah Yang Maha Kasih dari semua keburukan-keburukan ini.

Orang yang murtad -na'udzubillah - maka tidaklah diakui keimanannya sebelum dia murtad. Maka kalau dia mati, sementara dia masih berada dalam kemurtadan, maka dihukumlah matinya mati kafir.

Aduh alangkah sengsaranya kelak, menjual agama demi beberapa kesenangan yang fana di dunia. Berapa lamakah kita bisa hidup bergelimang kesenangan di dunia ini? Pada akhirnya maut tetap mendatangi kita.

Lantaran akhir hidup yang diragukan keadaannya inilah Sang Imam besar kita mengatakan, "Dalam konteks inilah kita lalu mengatakan: 'Insya Allah kita ini orang-orang beriman,' dan menahan diri untuk tidak mengatakan: 'Kita ini betul-betul orang-orang yang beriman.'

Sebab, ucapan yang kedua ini mengesankan kepastian yang bakal kita alami di akhir hayat kita yang bisa menjerumuskan kita dalam kekeliruan.

Ahlus Sunnah selamanya menahan diri untuk melontarkan kalimat-kalimat yang mengandung makna yang keliru dan juga terhadap pernyataan-pernyataan yang mengesankan kekeliruan seperti itu. Barang siapa yang sadar terhadap dirinya, niscaya tidak akan menentang pendapat ini."'

Sahabat, adapun orang mukmin yang mati dalam keadaan fasik, sedangkan dia belum sempat bertobat dari dosa-dosanya, maka keputusannya terserah kepada Allah SWT. Dia berhak untuk menyiksanya dan berhak pula untuk mengampuninya. Kalaupun pun ia kelak disiksa, maka itu adalah sebagai penebus dari semua dosa-dosanya.

Si pendosa disucikan dengan dibakar api di dalam neraka, setelah semua dosa yang melekat ditubuhnya luruh - lamanya tergantung dari dosa yang ditanggung - maka dia diangkat dari neraka, dimandikan dengan air telaga yang suci, lalu diberikan dengan segala kelezatan surgawi. Semua itu lantaran karena masih ada iman kecil yang masih melekat ketika ajalnya tiba.

Kawanku, orang beriman yang mati dalam keadaan fasik atau dalam keadaan bermaksiat. Tidaklah akan hilang iman-nya lantaran dosa-dosa maksiatnya itu. Ini karena karunia Allah yang sangat besar bagi kita semua orang-orang beriman. Keimanan hilang hanyalah disebabkan oleh dosa kufur.

Allah Swt. telah berfirman:

"Sesungguhnya Allah itu tidak memberikan ampunan terhadap orang yang musyrik kepada-Nya, tetapi memaafkan dosa yang selain itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya."

Rasul kita yang suci juga telah bersabda:

"Tidak akan kekal di dalam neraka orang yang di dalam kalbunya terdapat keimanan seberat dzarrah."

Sahabat, sah saja berkumpul keduanya -keimanan dan kemaksiatan - pada diri seseorang sebab dosa-dosa selain kufur itu tidak bertentangan dengan iman dan tidak pula bisa menghilangkannya. Demikian pulalah yang menjadi ijma' Ulama Salaf yang saleh.

Ia tetap mukmin karena keimannya dan fasik karena kemaksiatannya. Orang-orang mukmin yang berzina, membunuh, dan mencuri, tetaplah disebut sebagai orang-orang mukmin.

Lihatlah firman Allah mengenai orang-orang yang berbuat maksiat itu..

Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, ditetapkan atasmu qishas...."

Qishas itu adalah pembalasan yang setimpal atas dosa yang dilakukan seseorang di atas dunia ini. Dan lihatlah ayat itu, Allah tetap menyebut orang-orang yang melakukan pembunuhan tersebut sebagai orang-orang beriman atau mukmin.

Sahabat renungkanlah ini, hukum murtad itu sudah jelas dalam syariat Islam, dan sama sekali tidak bisa disamakan walau sekecil apapun dengan hukum orang-orang yang melakukan kemaksiatan.dalam hal keimanan.

Sahabat, orang murtad itu sama hukumnya dengan orang-orang kafir, bahkan lebih keji lagi. Karena ia ingkar setelah percaya/beriman, berbeda dengan orang yang memang sudah kafir sejak lahirnya.

Orang-orang murtad sebagaimana halnya dengan orang-orang musyrik dan orang-orang kafir akan kekal dalam siksanya di api jahannam, sementara itu orang-orang mukmin yang bermaksiat kalaupun dia disiksa tidak akan kekal di dalam api neraka.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kasih dan sayang-Mu, ampunilah semua dosa-dosa kami, dosa-dosa kelalaian dan dosa-dosa maksiat yang mungkin telah kami lakukan.

Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khotimah dan kumpulkanlah kami kelak kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang beriman dan telah beramal saleh. Amin Yaa Rabbal 'aalamiin.

Saran: Di antara buku yang bagus untuk dibaca dan dikaji tentang masalah ini adalah Kitab Fikhul Akbar karya Imam Asy Syafi'i rhm.

Baca juga: Wahai Saudaraku yang Lalai, Sadarlah!

Wahai Saudara-Saudaraku yang Lalai, Sadarlah!

Wahai Saudara-Saudaraku yang Lalai, Sadarlah!

Wahai saudara-saudaraku yang lalai, sadarlah! Wahai pecandu dosa, sudahi dan insyaflah! Demi Allah, adakah manusia yang lebih buruk daripada penyembah hawa nafsu?

Siapakah yang lebih rugi daripada orang yang menjual akhirat untuk dunia?

Mengapa kelalaian menguasai hati kalian?

Mengapa kalian biarkan kebodohan menutupi aib diri kalian?

Bukankah kalian melihat pedihnya kematian bergerak di sekitar kalian, kedatangannya begitu nyata, isyaratnya telah tiba, petakanya menghanguskan berbagai alasan, panahnya menembus diri kalian, dan takdirnya menghunjam ubun-ubun kalian?

Hingga kapan?

Sampai Kapan?

Mengapa kalian masih berpaling dan diam?

Apakah kalian ingin hidup abadi?

Mustahil, demi Tuhan. Kematian selalu mengintai. Tidak ada yang lolos, entah ayah atau anak.

Karena itu, sungguh-sungguhlah mengabdi kepada Tuhan.

Tinggalkanlah seluruh dosa, mudah-mudahan Dia melindungi kalian.

Muhammad ibn Quddamah menceritakan:

Bisyr ibn al-Harits bertemu dengan seorang laki-laki yang mabuk. Lelaki itu memeluknya seraya berkata, “Wahai Tuan Abu Nashr.” Ia membiarkan orang tersebut memeluk dirinya sampai puas. Ketika orang itu pergi, kedua mata Bisyr berlinang air mata.

Ia berkata, “Orang yang mencintai orang lain karena menyangka ada kebaikan padanya bisa jadi selamat, sementara orang yang dicinta tidak mengetahui nasibnya sendiri.”

Selanjutnya ia berdiri di depan pemilik buah. Ia lama menatap. Aku bertanya, “Wahai Abu Nashr, ada buah yang kau inginkan?

Ia menjawab, “Tidak. Aku hanya berpikir, jika kepada pemaksiat saja Dia memberi, apalagi kepada orang yang menaati-Nya. Apakah gerangan makanan dan minuman yang Dia berikan untuknya di surga nanti?”

Wahai saudaraku, sampai kapankah pelalai tidur?

Tidakkah pergantian malam dan siang membangunkannya?

Di manakah para penghuni istana dan kemah?

Demi Tuhan, kematian telah berputar-putar di atas dan mengintai mereka laksana burung dara mengintai biji.

Makhluk tidak akan kekal ketika lembar catatan telah dilipat dan pena telah mengering.

Biarlah diriku menangis dan meratap dalam derasnya kucuran air mata

Biarkanlah aku meratap karena takut diri yang lemah ini binasa

Ke mana aku berlindung dan kemana hendak beranjak?

Siapa yang bisa menolongku bila dipanggil membawa dosa?

Betapa panjang duka dan derita bila berada di Neraka Jahim dan tersiksa

Seluruh keburukan tampak begitu nyata

Neraca telah dekat dan api pun telah menyala

Dengan baiknya harapanku kepada-Nya semoga Tuhan berkenan memberiku karunia

Dan dengan rahmat-Nya memasukkanku ke surga

Tidak ada amal yang bisa kujadikan asa selain cinta kepada keturunan Hasyim, Thaha serta para sahabat dan keluarganya yang terjaga.

Rasulullah saw. bersabda, “Pada Hari Kiamat didatangkan orang yang telah mengumpulkan harta dari yang halal dan menggunakannya untuk yang halal. Ia diseru, ‘Berdirilah untuk dihisab!’ Ia dihisab atas setiap hartanya sekecil apa pun; dari mana didapat dan ke mana dikeluarkan.”

Nabi saw. melanjutkan, “Wahai manusia, apa yang kau lakukan terhadap dunia? Halalnya dihisab dan haramnya disiksa.”

Janganlah merasa aman dengan kebaikan dunia

Kebaikan dunia adalah sumber kerusakan

Janganlah gembira dengan harta yang kau dapat

Padanya terdapat kebalikan dari apa yang diinginkan.

Seorang arif bercerita:

Menjelang wafat, Abd Yazid al-Busthami menangis lalu tertawa. Tak lama berselang, seseorang bertemu dengannya dalam mimpi.

Ia ditanya, “Mengapa engkau menangis dan tertawa sebelum mati?”

Ia menjawab, “Ketika sedang sekarat, Iblis terlaknat mendatangiku dengan berkata, ‘Wahai Abu Yazid, engkau telah melepaskan jaringku.’ Aku pun menangis kepada Allah SWT.

Selanjutnya malaikat turun dari langit seraya mengabarkan, ‘Wahai Abu Yazid, Tuhan berfirman kepadamu: Jangan takut dan jangan sedih! Bergembiralah dengan surga!’ Aku pun tertawa lalu meninggalkan dunia.”

Aku berdiri sementara air mataku berlinang

Hatiku risau karena mengkhawatirkan keputusan

Setiap yang bersalah binasa oleh dosanya. Ia hina, sedih, terpejam, dan penuh penyesalan

Wahai Tuhan, dosaku begitu besar

Engkau mengetahui apa yang ku adukan

Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Kuasa

Maha Pemurah, Maha Pemaaf, dan Maha Pemberi ampunan.

Wahai saudaraku, betapa banyak hari kau lewati dengan menunda tobat. Betapa banyak sebab membuatmu abai akan kewajiban. Betapa sering telingamu mendengar tanpa takut oleh ancaman.

Menjelang wafatnya, Jabir ibn Zayd ditanya, “Apakah yang kau inginkah?” “Melihat wajah al-Hasan,” jawabnya. Mendengar itu al-Hasan segera datang menemui Jabir lalu bertanya, “Wahai Jabir, bagaimana kondisimu?”

Ia menjawab, “Aku merasa ketentuan Allah tidak bisa ditolak. Wahai Abu Said, sampaikanlah kepadaku sebuah hadis yang kau dengar dari Rasulullah saw.” Al Hasan berkata, “Wahai Jabir, Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Seorang mukmin di sisi Allah selalu berada dalam kebaikan.

Jika bertobat, Allah menerimanya, jika meminta maaf, Allah memaafkannya, dan jika minta ampun, Allah mengampuninya. Tanda semua itu adalah hawa dingin yang ia rasakan di hati sebelum ruh keluar.’”

Jabir berseru, “Allahu Akbar! Aku merasa hatiku dingin.” Ia lalu berdoa, “Ya Allah, aku mengharap pahala-Mu. Wujudkanlah prasangkaku ini serta lenyapkanlah rasa cemas dan takutku!”

Ia kemudian mengucapkan syahadat dan meninggal dunia. Semoga Allah Swt. meridainya.

Konon, Dawud al-Tha’i bertobat karena ia melewati pekuburan, mendengar senandung lirih tangisan dari dalam kubur:

Kesedihan bertambah setiap siang dan malam

“Mengapa bersedih padahal engkau adalah kekasih?”

Ia tetap berduka hingga Allah membangkitkan makhluk-Nya


Pertemuan dengan-Mu tidak diharap kala Engkau sudah dekat.

Baca artikel sebelumnya: Wahai Pendawam Kesalahan dan Kedurhakaan.

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Dalam beberapa kasus dalam Islam terdapat atau diakuinya persaman hukum bagi pria dan wanita, apakah hikmah dibaliknya?

Tapi sebelumnya perlu diketahui, persamaan yang kita maksudkan di sini, bukanlah persetaraan gender yang seperti dikenal di negara-negara barat sana yang bermaksud menyamakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang kehidupan, bahkan termasuk membolehkan seorang istri menalak suaminya, dan juga bukan yang dikenal oleh masyarakat kita yang masih mengikuti atau mengadopsi ala barat tadi.

Tetapi yang kita tekankan di artikel kita ini adalah persamaan yang benar-benar berdasarkan kodrat manusia, baik laki-laki maupun fitrah yang dimiliki para kaum hawa. Kodrat yang telah digariskan oleh Allah Ta'ala.

Hikmah Persamaan antara Pria dan Wanita di Hadapan Hukum Islam


Persamaan hukum bagi pria dan wanita dalam Islam adalah persamaan dalam iman, amal salih dan pahala, yang pastinya ada hikmah dibalik persamaan itu. Sebelum kita melanjutkan terus artikel ini baik kita kutip beberapa ayat dan kitab suci Al-Qur'an berikut ini.

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS. An Nahl [16] : 97).

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Artinya: "Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al Maa'idah [5] : 38).

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Artinya: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman." (An-Nuur [24] : 2).

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Artinya: "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab." (QS. Al Ghafir [40]: 40).

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan memimjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." (Al Hadiid [5] : 18).

Lalu Apakah Hikmahnya?


Dalam beberapa sistem hukum seperti tampak pada beberapa ayat yang kita kutip di atas memang terdapat persamaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi tentu saja dalam sebagian hukum yang lainnya terdapat perbedaan.

Hikmah itu muncul karena beberapa kelebihan, dan pekerjaan seorang pria yang tidak terdapat dalam diri dan kodrat wanita. Demikian juga sebaliknya, walaupun tentu saja ada suatu pekerjaan yang bisa dilakukan oleh keduanya.

Adanya perbedaan kodrat inilah yang kemudian menjadikan syariat membatasi dan sekaligus membedakan peran antara pria dan wanita dalam kehidupan bermasyarakat.

Apakah kodrat laki-laki yang tidak mungkin dimiliki oleh perempuan?


Diantaranya adalah tugas dan kewajiban untuk berjihad, memakmurkan bumi, dan melakukan pekerjaan yang berat-berat, seperti di pabrik-pabrik, bangunan dan sebagainya. Dan termasuk sebagai peran Kepala Negara. Kalau ada yang bekerja seperti laki-laki ini, maka itu adalah hal yang dipaksakan dengan mengorbankan yang lainnya pada diri, keluarga, bahkan masyarakatnya. 

Ingat setinggi apapun jabatan seorang wanita itu, tetapi secara emosional mereka tidak akan mampu memimpin karena kebijakannya akan banyak diwarnai berbagai kondisi kejiwaan (emosi)-nya dan cepat terpengaruh oleh keadaan dan siapapun yang sangat dekat dengannya.

Kodrat seorang wanita adalah yang utama mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Karena perannya inilah maka dia dibatasi mengerjakan pekerjaan kemasyarakatan yang lebih luas. Inilah dia peran yang tidak mungkin bisa benar-benar dilakukan oleh kaum laki-laki.

Berdasarkan peran dan kodratnya masing-masing, keduanya diberi tugas-tugas kehidupan sesuai dengan ketentuan hukum syariat. Misalnya saja, syariat menyamakan tugas seorang pria dan wanita dalam soal ibadah dan sanksi, wanita dan pria memiliki kemaslahatan yang sama dalam kedua pekerjaan ini.

Baru dalam masalah waris dan menjadi saksi laki-laki dan perempuan diperlakukan berbeda, karena keduanya tidak sebanding satu dengan yang lainnya.

Ada dua alasan yang mendorong ketidakseimbangan ini, yaitu:

1. Akal pria lebih sempurna dibanding dengan wanita. Karena kelemahan akal inilah seorang wanita bernilai setengah dari kesaksian laki-laki.

2. Karena pria banyak berkiprah dalam lingkungan publik yang tentunya lebih banyak membutuhkan biaya untuk menuntaskan pekerjaannya itu. Jadi karena alasan ini yang menjadikan hak waris laki-laki dua kali lipat lebih besar dari hak waris wanita.

Meski dalam ibadah fisik keduanya memiliki hak yang sama, tetap saja ada kondisi-kondisi tertentu yang membedakannya. Contoh pada salat Jumat dan shalat berjamaan di Masjid, mereka diberlakukan berbeda, laki-lakilah yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat jama'ah Jumat, sedangkan wanita lebih utama melakukan shalat Juhur di rumah saja sebagai pengganti Jum'at. 

Begitu pula dengan shalat berjamaah yang lainnya wanita tidak dianjurkan menuju masjid atau surau untuk melakukannya. Karena wanita tidak dianjurkan banyak keluar dari rumah. Inilah keunggulan hikmah yang telah digariskan syariat.

Beberapa peran yang dilakukan oleh banyak wanita pada zaman modern saat ini, seperti wanita-wanita yang bekerja di instansi-instansi atau lembaga-lembaga baik pemerintahan maupun swasta, atau membantu untuk mencari nafkah bagi keluarganya, 

menurut saya boleh-boleh saja asal pekerjaan itu tidak mengakibatkan keburukan bagi diri dan keluarganya, bagi agamanya, ditambah tempat pekerjaannya tidak jauh dari rumah/keluarganya, dan tidak mengabaikan kodratnya sebagai wanita yang hakiki, serta yang tidak kalah pentingnya lagi ia senantiasa bisa menjaga akhlaknya, harga dan kehormatan dirinya, keluarganya, dan suaminya jika dia sudah bersuami. 

Sedangkan memilih pekerjaan sebagai TKW di negara-negara lain, apapun alasannya itu adalah pekerjaan yang sangat tidak dianjurkan, karena keburukannya lebih dekat dan nyata daripada manfaat yang akan diperolehnya.

Sebagai penutup saya akan mengutip ayat dalam Al-Quran berikut ini.

Apakah Hikmah Persamaan Hukum Bagi Pria dan Wanita

Artinya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata". (QS. Al-Ahzab [33]{ 36).

Mari baca juga : 7 Hikmah Menghadap Kiblat.

Pandangan Raja Romawi Heraclius Tentang Nabi Saw

Pandangan Raja Romawi Heraclius Tentang Nabi Saw

ِاَللٌَهُمٌَ صَلٌِ وَ سَلٌِم وَبَارِك عَلَى سَيٌِدِنَا مُحَمٌَدِبنِ عَبدِ اللهِ القََاءِم بِحُقُوقِ اللهِ مَا ضَاقَت اِلاٌَ وَ فَرٌَجَهَا الله

Abu Sufyan menuturkan, "Ketika aku bersama kafilah orang-orang Quraysi dan Syam, salah seorang utusan Raja Heraclius datang menemui. Ia mengundang kami untuk datang ke istananya. Setelah kami sampai di sana, telah hadir di sekeliling raja, para pembesar Romawi yang lain. Raja lalu memanggil seorang penerjemah seraya berkata, 'Siapakah di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang konon mengaku sebagai nabi itu?'

Abu Sufyan menjawab, 'Sayalah yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki itu.'

'Dekatkanlah ia padaku dan dekatkan pula rombongan di belakangnya.' Melalui penerjemahnya, Raja berkata, 'Katakan kepada mereka, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang laki-laki itu. Seandainya ia berdusta, maka kalian semua telah berdusta kepadaku.'

Demi Allah, tidak ada rasa khawatir sedikit pun seandainya aku berbohong padanya saat itu. Aku bisa melakukannya kalau mau. Pertanyaan pertama sang raja kepadaku adalah:

'Bagaimana hubungan nasab keturunannya dengan kalian?'

'Ia berasal dari keturunan bangsa kami.'

'Pernahkah sebelumnya seseorang mengatakan apa yang dikatakannya itu?'

'Belum'

'Apakah di antara keluarganya ada yang menjadi raja?'

'Tidak.'

'Siapakah para pengikutnya? Apakah dari golongan terhormat ataukah kaum lemah di antara mereka?'

'Kebanyakan kaum lemah'.

'Apakah para pengikutnya bertambah atau berkurang?'

'Terus bertambah.'

'Apakah di antara para pengikutnya ada yang merasa menyesal setelah memeluk ajarannya?'

' Sama sekali tidak ada yang menyesal.'

'Menurut kalian, mungkinkah ia berdusta dalam setiap ucapannya?'

'Tidak.'

'Apakah ia melanggar janjinya?'

'Tidak, justru selama bergaul dengannya, kami belum pernah mendapatkannya mengkhianati janji. Saya rasa, inilah jawaban yang harus saya kemukakan ikhwal kejujurannya.'

'Pernahkah kalian mencoba membunuhnya?'

'Ya!'

'Bagaimana upaya kalian dalam memeranginya?'

'Kami dengan dia saling memerangi. Ia dan para pengikutnya mengajak kami, tetapi kami memeranginya.'

'Apa ajaran yang ia serukan?'

'Ia berkata kepada kami, "Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun! Tinggalkanlah kebiasaan menyembah segala sesembahan nenek moyang kalian." Ia juga menyuruh kami shalat, bersikap jujur, pemaaf, dan menyambung tali persaudaraan.'

Raja kemudian berkata melalui penerjemahnya, 'Katakan kepadanya, ketika aku berkata kepadamu tentang keturunannya, kalian menjawab bahwa ia berasal dari kalangan kalian. Demikianlah, para rasul selalu diutus dari nasab kaumnya sendiri.

Saat aku menanyakan apakah ada salah seorang di antara kalian yang membawa ajaran ini sebelumnya, kalian menjawab tidak. Menurut pendapatku, sekiranya sudah ada seseorang yang pernah berkata seperti yang ia katakan, berarti ia hanya meniru dan mengulang ucapan orang lain.

Aku lalu bertanya apakah di antara keluarganya ada yang pernah menjadi raja,  kalian menjawab tidak. Sekiranya di antara keluarganya ada yang menjadi raja, ia hanyalah orang yang ingin menguasai kerajaan dan dinasti keluarganya.

Aku menanyakan apakah ia berdusta dalam setiap ucapannya, kalian pun menjawab tidak. Sungguh, setiap utusan Tuhan itu tidak akan berani berbohong kepada orang-orang, apalagi kepada Allah.

Aku menanyakan apakah pengikutnya orang kaya atau orang miskin, kalian menjawab orang-orang miskin. Begitu pulalah kebanyakan pengkut para rasul sebelumnya.

Aku menanyakan apakah pengikutnya terus bertambah atau berkurang, kalian menjawab malah semakin bertambah. Itulah watak kesempurnaan iman.

Aku bertanya apakah ada di antara para pengikutnya ada yang menyesal setelah memeluk ajarannya, kalian menjawab tidak. Itulah keimanan yang sudah terpusat dalam hati.

Aku menanyakan apakah ia sering melanggar janji, kalian menjawab tidak. Begitulah, seorang rasul tidak ada yang berkhianat.

Saat aku bertanya tentang ajaran yang ia serukan, kalian menjawab bahwa ia menyeru agar kalian menyembah Allah dan tidak menyekutykan-Nya dengan sesuatu pun, mencegah kalian dari menyembah berhala, menyuruh shalat, bersikap jujur, dan pemaaf. Sekiranya apa yang kalian katakan tentang dirinya benar adanya, maka ia kelak menguasai tempat di mana aku berpijak kini.

Seandainya kalian tahu, aku benar-benar ingin segera bertemu dengannya. Seandainya aku berada di sampingnya, aku pasti akan mencuci kedua kakinya!'"

Agaknya sang raja telah menyaksikan kejujuran Nabi saw., perilakunya yang terpercaya, dan kelembutan pribadinya sejak beliau masih kecil. Hal ini diperoleh dari cerita seorang musuh bebuyutan sang raja yang paling keras menentang Nabi saw., Harits dari Bani 'Abd ad-Dar.

Ia pernah berkata kepada sang raja, "Muhammad telah berada di ambang pintumu. Ia adalah seorang bocah yang akan mendatangi daerah kekuasaanmu. Ucapannya jujur dan paling terpercaya di kalangan umatnya. Bila kalian melihat kedua pelipisnya bercahaya dan menemukan kalian dengan menunjukkan bukti-bukti kebenaran yang ia bawa, kalian pasti mengatakan bahwa ia adalah penyihir. Padahal demi Tuhan, ia bukanlah seorang penyihir!"

Itulah kejujuran Nabi saw. yang dilahirkan pada hari Senin, diutus menjadi nabi pada hari senin, meninggal pada hari Senin, berhijrah dari Makkah ke Madinah pada hari Senin, meninggal pada hari Senin. Pada hari itu pula beliau diangkat oleh masyarakat Makkah untuk memimpin proses pemindahan Hajar Aswad.

Beliau dilahirkan pada bulan Rabi' al-Awwal, berhijrah pada bulan yang sama, dan meninggal pada bulan itu juga. Semoga kesejahteraan dan keselamatan senantiasa dilimpahkan kepada beliau.

Keterangan tentang khasiat shalawat di atas:

Barang siapa tertimpa cobaan, bacalah selawat di atas sampai puas, tanpa dihitung banyaknya. Dengan begitu, ia akan mendapat jalan yang sebaik-baiknya untuk menghadapi cobaan itu. Demikian keterangan yang terdapat pada buku Kesaktian Selawat Nabi, penyusun TGH. Husnuddu'at.

Demikianlah pandang Raja Romawi Heraclius tentang nabi kita Nabi Muhammad saw., semoga cerita sahih ini dapat semakin menebalkan kenyakinan kita kepada Allah SWT dan kebenaran sang utusan - Al Amin.

Artikel lainnya: Mengikuti Jejak Rasulullah Bukti Keimanan.

Sumber :

Terdapat pada buku Rahasia-Rahasia Ibadah oleh Syaikh Ali Ahmad al-Jurjawi.

Dia adalah Saudariku; Kisah yang Sangat Menyentuh

Dia adalah Saudariku; Kisah yang Sangat Menyentuh

Pipinya cekung, dan kulitnya membalut tulangnya. Hal itu tidak menghentikannya karena engkau takkan melihatnya tidak membaca Al-Qur’an. Dia selalu terjaga di ruang shalatnya yang ayah bangun untuknya. Ruku’, sujud, dan mengangkat tangannya ketika shalat, seperti itulah dia sejak fajar hingga matahari terbenam dan kembali lagi, kejenuhan itu untuk orang lain (bukan bagi dirnya).

Adapun aku, aku kecanduan tidak lain selain majalah fashion dan novel. Aku keranjingan video hingga perjalanan ke tempat sewa video menjadi trademark-ku. Ada sebuah pepatah bahwa jika sesuatu telah menjadi kebiasaan, orang-orang akan mengenalimu dengannya. Aku lalai dari kewajibanku dan shalatku ditandai dengan kemalasan.

Suatu malam, setelah tiga jam yang panjang menonton, aku mematikan vedio. Adzan dengan lembut membangunkan malam. Aku menyelinap dengan damai ke dalam selimutku.

Suaranya memanggilku dari ruang shalatnya. ”Ya? Kamu ingin sesuatu Noorah?” Tanyaku.

Dengan jarum tajam dia memecahkan rencanaku. ”Jangan tidur sebelum kamu shalat Fajar!”

Agghh! ”Masih ada waktu satu jam sebelum Fajar, Itu hanya Adzan pertama.” Kataku.

Dengan suaranya yang merdu dia memanggilku mendekat. Dia selalu seperti itu bahkan sebelum penyakit ganas itu mengguncangkan jiwanya dan menahannya di tempat tidur. ”Hanan, maukah kamu duduk di sisiku?”

Aku tidak pernah dapat menolak permintaannya, engkau dapat merasakan kemurnian dan keikhlasan pada dirinya. ”Ya Noorah?”

’Duduklah disini.”

”Baiklah, aku duduk. Apa yang kau pikirkan?”


Dengan suaranya yang manis dia membaca


”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” 
(QS AlImran [3] : 185)


Ia berhenti sambil berpikir. Kemudian ia bertanya, “Kamu percaya kematian?”

“Tentu saja.” Jawabku.

“Apa kamu percaya kamu akan bertanggungjawab terhadap apapun yang kamu kerjakan, tidak perduli itu kecil atau
besar?”

“Aku percaya, tetapi Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan kehidupan masih panjang menantiku.”

“Hentikan Hanan! Apa kamu tidak takut dengan kematian dan kedatangannya yang tiba-tiba? Lihat Hind. Dia lebih muda darimu tetapi dia mati dalam kecelakaan mobil. Kematian buta terhadap usia dan umrmu tidak dapat mengukur kapan kamu akan mati.”

Kegelapan kamar itu memenuhi kulitku dengan ketakutan. “Aku takut gelap dan sekarang kamu menakutiku dengan kematian. Bagaimana aku bisa tidur sekarang? Norah, kukira kamu sudah berjanji untuk pergi bersama selama liburan musim panas.”

Suaranya pecah dan hatinya gemetar “Aku mungkin akan menempuh perjalanan yang panjang tahun ini Hanan, tetapi di tempat yang lain. Kehidupan kita semua berada di tangan Allah dan kita semua adalah milikNya.”

Mataku basah dan air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku memikirkan penyakit ganas saudariku. Dokter telah mengabarkan kepada ayahku secara pribadi, tidak banyak harapan Norah dapat mengalahkan penyakitnya. Dia tidak diberitahu, saya jadi bertanya-tanya, siapa gerangan yang mengabarkan kepadanya. Atau apakah dia dapat merasakan kebenaran?

“Apa yang kamu pikirkan Hanan? Suaranya terdengar tajam. “Apa kamu mengira aku mengatakan ini hanya karena aku sakit? Aku harap tidak. Bahkan, aku mungkin hidup lebih lama dari orang-orang yang sehat. Berapa lama kamu akan hidup, Hanan? Mungkin dua puluh tahun? Mungkin empat puluh? Lalu apa?” Dalam gelap dia menyentuh tanganku dan menekannya lembut. “Tidak ada perbedaan antara kita. Kita semua akan pergi meninggalkan dunia ini untuk tinggal di dalam Surga atau sengsara di dalam Neraka.


“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS Al-Imran [3] : 185)

Aku meninggalkan kamar saudariku dalam keadaan limbung, kata-katanya mengiang di telingaku, “Semoga Allah menunjukimu Hanan, jangan lupakan shalatmu.”

“Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),” QS Al-Qiyamah : 28.

Aku mendengar gedoran di pintuku pada pukul delapan pagi. Aku tidak biasa bangun di waktu seperti ini. Ada tangisan dan kebingungan. Ya Allah, apa yang terjadi?

Kondisi Norah menjadi kritis setelah Fajar, mereka segera membawanya ke rumah sakit.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Tidak akan ada perjalanan musim panas ini. Telah ditakdirkan aku akan menghabiskan musim panas di rumah. Seolah waktu berlalu selamanya ketika tiba jam 1 siang. Ibu menelepon rumah sakit.

“Ya, kalian bisa datang dan menjenguknya sekarang.” Suara ayah berubah dan ibu dapat merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Kami segera berangkat.

Dimana jalan yang sering kulewati dan kukira sangat singkat? Mengapa ini terasa begitu lama? Dimana keramaian dan lalu lintas yang selalu memberiku kesempatan untuk menoleh ke kiri dan ke kanan? Semua orang menyingkir dari jalan kami!
Ibu menggelengkan kepalanya dalam tangannya menangis ketika ia berdoa bagi Norah. Kami tiba di loby rumah sakit.
Seorang laki-laki mengerang, sedangkan yang lainnya korban kecelakaan. Dan mata laki-laki ketiga terlihat sedingin es. Engkau tidak bisa memastikan apakah dia mati atau hidup.

Norah berada dalam ruang ICU. Kami menaiki tangga menuju ke lantai (kamar)nya. Suster mendekati kami, “Mari kuantarkan kepada Norah.”

Ketika kami berjalan sepanjang koridor, suster bercerita betapa manisnya Norah. Dia sedikit banyak meyakinkan ibu kalau keadaan Norah lebih baik daripada pagi tadi.

“Maaf. Tidak boleh lebih dari satu orang pengunjung memasuki kamar.” Kata suster tersebut.

Ini adalah kamar ICU. Menatap ke arah jubah putih selembut salju, melalui jendela kecil di pintu, aku melihat mata saudariku. Ibu berdiri di sisinya. Setelah kurang-lebih dua menit, ibu keluar tak dapat menahan tangisnya. “Kamu boleh masuk dan mengucapkan salam kepadanya dengan syarat kamu tidak berbicara terlalu lama dengannya,” mereka berkata kepadaku. “Dua menit cukup.”

“Bagaimana keadaanmu Norah? Kamu baikbaik saja semalam saudariku, apa yang terjadi?”

Kami berpengangan tangan, dia menekannya lembut. “Sekarang pun, alhamdulillah, aku baik-baik saja.”

“Alhamdulillah... tapi.. tanganmu sangat dingin.”

Aku duduk di sisi tempat tidurnya dan meletakkan tanganku di lututnya. Ia tersentak, “Maaf, sakit ya?”

“Tidak, hanya saja aku teringat firman Allah.”


“dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” 
(Al-Qiyamah: 29)

“Hanan doakan aku. Mungkin aku akan segera bertemu hari pertama dari hari akhirat (yakni di kuburan). Itu adalah perjalanan yang panjang dan aku belum mempersiapkan amalan yang cukup dalam perbekalanku.”

Sebutir air mata menitik dan meluncur ke pipiku mendengar kata-katanya. Aku menangis dan dia ikut menangis bersamaku. Ruangan menjadi kabur dan membiarkan kami dua bersaudara menangis bersama. Tetesan air mata jatuh ke telapak tangan saudariku, yang kugenggam dengan kedua tanganku. Ayah saat ini menjadi lebih khawatir kepadaku. Aku tak pernah mangis seperti ini sebelumnya.

Di rumah dan ditingkat atas di kamarku, aku menyaksikan matahari berlalu dengan hari yang penuh kesedihan. Kesunyian mengapung di koridor rumah kami. Secara bergiliran sepupu-sepupuku masuk ke kamarku. Banyak pengunjung dan semua suara bercampur baur di lantai bawah. Hanya satu hal yang jelas saat itu – Norah telah pergi!

Aku berhenti membedakan siapa yang datang dan siapa yang pergi. Aku tidak dapat mengingat apa yang mereka katakan. Ya Allah, dimana aku? Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak dapat menangis lagi.

Beberapa hari kemudian mereka menceritakan kepadaku apa yang terjadi. Ayah telah manarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku untuk yang terakhir kalinya. Aku mencium kepala Norah.

Aku hanya teringat satu hal ketika menyaksikannya terbujur di tempat tidur tempat dimana dia akan mati. Aku teringat ayat yang dibacanya:


Dia adalah Saudariku; Kisah yang Sangat Menyentuh

Dan aku tahu pasti kebenaran ayat berikutnya:


Dia adalah Saudariku; Kisah yang Sangat Menyentuh

“kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS Al Qiyamah [75] : 30)

Aku menyusup ke ruang shalatnya malam itu. Menatap pada pakaian yang diam dan cermin yang bisu. Aku sungguh menjaga dia yang telah berbagi rahim ibuku denganku. Norah adalah sadara kembarku.

Aku teringat dia yang dengannya aku berbagi kesedihan, memberi ketenangan di hari-hari hujanku. Aku teringat dia yang berdoa agar aku mendapat petunjuk dan dia yang menitikkan begitu banyak air mata pada kebanyakan malam yang panjang mengingatkanku akan kematian dan hisab. Semoga Allah menyelamatkan kami semua.

Malam ini adalah malam pertama Norah yang harus ia lewatkan di kuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia dan terangilah kuburnya. Inilah Al-Qur’an dan sajadahnya. Dan inilah pakaian berwarna mawar musim semi yang dia kata-kan kepadaku akan disimpannya sampai dia menikah, pakaian yang hanya di-simpannya untuk suaminya kelak.

Aku teringat saudariku dan menangisi semua hari-hari berdoa kepada Allah agar melimpahkan rahmatnya kepa ibadahku dan mengampuniku. Aku berdoa kepada Allah untuk meneguhkan Norah sebagaimana yang selalu ia ucapkan di dalam doanya.

Pada saat itu, aku berhenti. Aku bertanya kepada diriku apa jadinya jika akulah yang mati. Kemana aku akan menuju? Ketakutan memenuhiku dan air mataku mulai mengalir lagi.


Allahu Akbar. Allahu Akbar.... “Adzan pertama terdengar lembut dari masjid. Ia terdengar begitu indah kali ini. Aku merasa tenang dan nyaman ketika mengikuti bacaan muadzin.


Kulilitkan syal di pundakku dan berdiri untuk shalat Fajar. Aku shalat seolah itulah shalat terakhirku, shalat perpisahan. persis seperti apa yang Norah lakukan kemarin. Itu adalah shalat Fajar terakhirnya.


Kini, dan Insya Allah sepanjang sisa hidupku, jika aku bangun di pagi hari aku tidak lagi menganggap akan hidup hingga malam, dan di malam hari aku tidak menganggap akan tetap hidup di pagi hari. Kita semua akan menuju perjalanan Norah. Apa yang telah kita persiapkan untuknya?


Sumber: Milis Abdurrahman [dot] Org

Silahkan baca kisah menarik lainnya: Dahsyatnya Berkah dari Allah.


Kisah Dia adalah Saudariku ini kami kutip dari Untaian Mutiara Hikmah yang disusun oleh Maktabah Raudhah al-Muhibbin. Web: http://www.raudhatulmuhibbin.org.

BEBERAPA PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDU

BEBERAPA PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDU

Seperti yang telah kita bicarakan pada postingan sebelumnya bahwa wudu adalah perkara wajib yang harus dilakukan sebelum melaksanakan ibadah salat dan ibadah wajib lainnya.

Kewajiban ini berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 6, juga telah diterangkan dalam beberapa hadis. Untuk lebih jelasnya silahkan balik lembaran sebelumnya di blog ini dengan judul Dalil, Fardu, dan sunat Wudu.

Pembahasan tentang dalil, rukun dan sunat wudu, kami rasa sudah cukup lengkap. Karena itu kita tidak perlu menyinggungnya lagi.

Dan kali ini mari kita lanjutkan ke perkara-perkara yang membatalkan wudu tersebut.

Perkara-Perkara Yang Membatalkan Wudu

Beberapa perkara dan keadaan yang menyebabkan batalnya wudu seseorang, yakni:

Perkara pertama yang membatalkan wudu, adalah Keluarnya sesuatu dari dua lubang yang ada pada tubuh manusia.

Dikatakan “sesuatu” sebab yang kita maksud bukan yang biasa keluar dari kedua tempat itu saja.  Tetapi juga termasuk segala ssuatu yang keluar dari tempat itu saha, baik benda cair, padat , dan gas (udara) bahkan yang keluar seandainya benda yang suci sekalipun. Seperti ulat dan kelereng misalnya.

Firman Allah SWT:

“Atau kembali dari tempat buang air.” (An-Nisa: 43).

Sabda Rasulullah Saw:

“Allah tidak menerima salat seseorang apabila ia berhadas (keluar sesuatu dari salah satu kedua lubang sebelum ia berwudu).” Sepakat ahli hadis.

Ayat dan hadis ini cukup mengindikasikan dan sebagai bukti apa yang kita bicarakan ini.

Ada pun yang kita maksudkan dengan dua lubang, yakni lubang yang ada di alat kelamin dan yang ada di pantat/dubur.

Kalau benda/zat-zat tadi keluar dari selain kedua lubang tersebut, seperti ingus, atau cairan bau yang keluar dari lubang telinga, maka tidak membatalkan wudu. Tetapi tentu saja harus dibersihkan supaya tidak mengganggu orang lain.

Perkara kedua penyebab batal wudu, adalah Hilang akal.

Hilang akal karena mabuk dan gila, dan juga karena tidur yang melungker, terlentang dan berbaring yang menyebabkan terbukanya pintu dubur.

Tidur yang benar tidur lelap, atau tidur yang menyebabkan tidak sadar akan sekelilingnya, atau tidak mengetahui pembicaraan orang di dekatnya. Semuanya itu membatalkan wudu.

Kecuali tidur dengan duduk bersila atau duduk yang tidak menyebabkan terbukanya pintu buang angin (dubur).

Nabi kita Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Kedua mata itu yang mengikat pintu dubur. Apabila kedua mata tidur, maka terbukalah ikatan pintu. Maka barang siapa yang tidur, hendaklah ia berwudu”. (Riwayat Abu Dawud).

Perkara ketiga yang menjadikan batalnya wudu adalah persentuhan kulit antara pria dan wanita yang bukan muhrim.

Se-muhrim/mahram berarti ada ikatan darah atau keturunan, termasuk juga yang semuhrim adalah pertalian persusuan, ataupun mahram karena ikatan perkawinan (menantu dan mertua).

Batal wudu bagi yang menyentuh maupun yang disentuh, bagi orang-oramg yang sudah balig atau sampai umur dikenakan kepadanya kewajiban melaksanakan ibadah.

Firman Allah SWT:

“Atau kamu telah menyentuh perempuan”. (QS. An_Nisa: 43)

Yang kami terangkan ini adalah menurut mazhab kami, Mazhab Safi’i.

Adapun mazhab lain berbeda dalam hal menafsirkan kata menyentuh, yang ditafsirkan oleh mereka dengan makna bersetubuh. Dengan kata lain, tidak akan menjadi batal wudu dengan hanya bersentuhan kulit biasa saja.

Perkara keempat yang membatalkan wudu adalah menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan.

Telapak tangan adalah bagian yang putih dari tangan ketika membalikkannya. Selain dari bagian itu yang menyentuh tidak membatalkan wudu, baik disengaja maupun tidak sengaja tersentuh.

Walaupun yang disentuh kemaluan kanak-kanak dengan telapak tangan menyebabkan wudu batal.

Dalam perkara menyentuh kemaluan ini, hanya yang menyentuh saja batal wudunya, sesama laki-laki atau sesama perempuan. Dalam hal perempuan ini memerlukan penjelasan lebih lanjut yang tidak mungkin kita bicarakan dalam blog ini, karena kesopanan.

Sabda Rasulullah Saw:

Dari Busrah binti Safwan. Sesungguhnya Nabi Saw pernah berkata, “Laki-laki yang menyentuh zakarnya janganlah salat sebelum ia berwudu.” Riwayat lima orang ahli hadis. Kata Imam Bukhari, hadis ini paling sah dalam hal ini.

Dalam muatan hadis di atas jelas sekali bahwa menyentuh kemaluan sendiri membatalkan wudu, apalagi menyentuh kemaluan orang lain, yang lebih keji keadaannya dan melanggar kesopanan.

Karena itu apabila menyentuh zakar hewan maka tidaklah batal wudu yang menyentuhnya, karena hewan tiada memiliki kehormatan dan tidak pula memiliki kewajiban beribadah.

Misal ada orang yang menyentuh dua buah pelirnya sendiri atau tulang ekornya, atau kedua lututnya sampai paha, asal tidak memegang zakarnya, niscaya tidak wajib baginya untuk berwudu kembali.

Sebagaimana lazimnya terjadi dalam ilmu fiqih, dalam hal ini pun ada ulama yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak menjadi sebab batalnya wudu. Dalil yang menjadi alasan mereka adalah hadis Talaq bin Ali di bawah ini.

Sabda Rasulullah Saw.:

Seorang laki-laki menyentuh kemaluannya, (lalu ditanyakan) pakah ia wajib berwudu? Jawab Rasulullah Saw.,”Zakar itu hanya sepotong daging dari tubuhmu.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmizi, Nasai, dan lain-lainnya.

Menurut saya cara  kita berpegang dan mengambil hukum adalah mengikuti dan memahami pendapat mayoritas ulama dan para masyaikh (guru agama) yang satu kelompok mazhab dengan kita, untuk menghindari keragu-raguan.


Demikianlah uraian mengenai - Beberapa Perkara yang Membatalkan wudu – dan teruslah semangat memahami ilmu agama agar ibadah kita lebih bernilai di sisi Allah SWT. Terima kasih, sampai jumpa pada artikel yang lainnya.