Cinta Dunia Menurut Pandangan Islam

Cinta Dunia Menurut Pandangan Islam


Kecintaan seseorang akan kelezatan dan kenikmatan duniawiyah secara berlebihan, melebihi dari apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk memuaskan tubuh dan jiwanya dapatlah itu disebut cinta dunia.

Cinta dunia tidak terbatas pada suka kesenangan material semata, tetapi juga yang termasuk ke dalamnya adalah kesukaan akan popularitas.

Menurut pandangan agama kita Islam, hubbuddunya atau cinta dunia termasuk dalam katagori perbuatan-perbuatan tercela dan keji.

Kenapa cinta dunia dipandang perbuatan tercela dan keji?


Karena timbulnya sifat hubbuddunya tidak lain karena ketamakan dan kerakusan dan juga adanya perasaan ketakutan dari kemiskinan.

Sungguh ironis memang, pada zaman sekarang kita hidup ini, sadar dan tidak sadar kita menilai segala sesuatu hanya dipandang dari aspek materialnya saja. Kebendaannya saja.

Lihatlah! Betapa banyak dari kita yang lebih memprioritaskan orang-orang kaya dalam segala bidang kehidupan. Uang adalah segala-galanya. Kata orang, ada uang abang sayang, tiada uang abang ditendang.

Ada juga syair Arab yang mengatakan:

“Jika hartaku sedikit berkuranglah sahabatku, dan jika banyak
              Maka bagiku semua orang menjadi keluarga dan sahabat.”

Kata-kata dalam syair ini tepat sekali menggambarkan watak dari sebagian besar manusia dari dulu hingga (lebih-lebih) masa sekarang.

Tidak ada satu hal lain pun yang membuat manusia menderita dan merasa hina selain kemiskinan. Tidak heran kalau kemudian orang takut akan kemiskinan. Ketahuilah, takut miskin merupakan tipu daya setan yang halus untuk memalingkan manusia dari mengingat Tuhan dan akherat.

Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqoroh, ayat 268:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)..”

Penyakit takut miskin ini akan mendorong orang sanggup menipu dalam perdagangan, korupsi, menyelewengkan amanat, merampok, mencuri, menodong, berbuat riba, dan lain-lain.

Mereka akhirnya menjadi tamak dan rakus dengan kemegahan dunia. Mereka mengambil sebanyak-banyaknya dari kelezatan dunia itu, seakan-akan tidak ingat bahwa ada akhir dari kehiudupan.

Kecintaan akan kemegahan dunia telah melalaikannya dari kemegahan dan kelezatan yang hakiki, yaitu kelezatan di akhirat kelak.

Jangan terlena oleh buaian dunia, sehingga lalai menyiapkan bekal akhirat.

Jangan terpengaruh oleh kesibukan budak-budak duniawi, sehingga lupa tempat kembali.
Perhatikan firman Allah berikut :

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir berlalu lalang (lancar dan maju dalam perusahaan mereka) di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam; dan jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (Ali-Imron : 196-197).

Bolehkah orang mencari harta dunia?


Tentu saja boleh, bahkan harus kita mencari rizki atau harta yang halal di atas dunia ini untuk kemaslahatan hidup dan di tujukan semata-mata untuk menyokong ibadah kepada Allah S.W.T.

Allah tidak melarang untuk meminta karunia kepada-Nya, asal karunia itu didapatkan dengan jalan yang baik, halal, dan kemudian dinafkahkan ke jalan yang baik pula dan diridloi Allah, serta tidak dilupakan oleh karunia itu akan kehidupan akhiratnya.

Rasulullah S.A.W bersabda, “Barangsiapa niatnya untuk akhirat, maka Allah akan mengumpulkan keinginannya, menjadikan kekayaan dalam hatinya, serta dunia datang kepadanya menyerahkan diri.

Dan barangsiapa niatnya untuk dunia maka Allah akan memecahkan urusannya, dan menjadikan kemiskinan di muka matanya, dan dia tidak akan memperoleh dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.

Barangsiapa bangun di waktu pagi dengan hati sedih akan urusan dunianya, maka seolah-olah ia tidak rela akan kehendak Allah.”

Intinya. Gunakanlah kehidupan di dunia untuk kebahagian di akhirat nanti. Pergunakanlah masa muda untuk berbakti, sebelum datang masa tua yang membuatmu tidak berdaya. Sehat sebelum sakit, dan kaya sebelum mati.

Cara Menghilangkan Penyakit Cinta Dunia


Untuk menghilangkan penyakit cinta dunia ini, maka laksanakanlah dan amalkanlah tiga perkara berikut :

1. Jangan terpengaruh oleh gemerlapan dan tipu daya dunia.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “….Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu…” (Q.S. Luqman: 33).

2. Cintailah Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya.

Cinta Dunia Menurut Pandangan Islam

Dan firman-Nya: “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Ali-Imron: 31).

3. Perbanyaklah mengingat mati.

Firman Allah: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali-Imron : 185).

Dari Rasulullah S.A.W. bersabda, “Perbanyaklah ingat mati!”

Jika kita mau memperhatikan dan mengamalkan semua itu, maka tidaklah akan mudah bagi kita untuk terpengaruh oleh kegemerlapan dunia, dan tidak nanti kita akan berbuat sekehendak hati.

Dengan memperbanyak mengingat mati, kita akhirnya takut berbuat maksiat.

Kita maksudkan di sini, bukanlah kita meninggalkan dunia sama sekali. Tapi kita ambil bagian kita dari karunia Allah di bumi ini, tapi jangan sampai melalaikan kita kepada persiapan bekal untuk menuju akhirat kelak.

Kalau mampu, lebih baik menyedikitkan dunia dan memperbanyak persiapan ke akhirat. Tidak boleh sebaliknya.

Tapi tentu saja kemampuan dalam meninggalkan dunia sesuai maqam (tingkatan) masing-masing dari hamba Allah. Ada yang mampu melakukannya karena karunia Allah (mis. para ulama yang zuhud), ada yang mampu di pertengahannya, dan ada yang tidak mampu karena masih terperdaya oleh keelokan dunia.

Berat dan pahit memang. Kerena itulah, barangsiapa mampu meninggalkannya (dunia) karena mengharapkan keridloan Allah, maka ia akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran (pahala) para syuhada’.

Minimal cara yang dapat kita lakukan adalah menyedikitkan makan, dan benci akan pujian manusia, sebab orang yang suka dipuji itu berarti ia cinta dunia dan segala kenikmatannya.
Read more

Macam-Macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya

Macam-Macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya

Yang kita maksud dengan perbuatan tercela dan keji adalah segala sifat-sifat jiwa yang tercokol di dalam hati manusia, yang telah dilarang dan diharamkan Allah S.W.T.

Seperti : kufur, kibr, riya, hubbuddunya, hiqd (dendam kusumat), hasad dan lain-lain. 

Setiap manusia pada prinsipnya sedikit banyak memiliki sifat-sifat tercela tersebut, hanya… 

kadarnya saja mungkin berbeda, misalnya, si A terlalu sombong tetapi ia jarang bohong, si B tidak kibr tetapi sangat kikir dan seterusnya.

Tetapi kita sebagai individu muslim, wajib berusaha sekuat daya untuk menghilangkannya dan membasmi sifat-sifat tercela itu dan kemudian menggantikannya dengan sifat-sifat terpuji. 

Dalam hal ini Allah Ta’ala telah berfirman :

اليوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم

Artinya : “Di hari kiamat harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Al-Ayah).

Asy-Syaikh Abdul qadir Al-Jailani r.a berkata: “Saya tidak mencapai derajat wali ini hanya dengan banyak beribadat saja, tetapi karena murah hati, rendah hati dan selamat hati.

Memang, membasmi atau menghilangkan sifat-sifat tercela tersebut bukan hal yang mudah. 

Rasulullah sendiri pernah bersabda: “Kita kembali dari jihad kecil (melawan orang-orang kafir) untuk menghadapi jihad besar (memerangi hawa nafsu).

Perhatikan!! 

Bagaimana Rasulullah membandingkan jihadunnafsi lebih besar dari jihadulkuffar, 

padahal kita semua telah mengetahui bagaimana dahsyatnya pertempuran yang telah dilakukan Rasulullah bersama para Sahabat dalam menghadapi orang-orang kuffar tersebut.

Apa sebab jihadunnafsi lebih besar dari jihadulkuffar?

Jika menghadapi orang-orang kafir, kita menghadapi musuh yang tampak, sehingga kita dapat mengatur siasat untuk melawannya. 

Sedangkan jihadunnafsi, di sini kita menghadapi musuh juga, tetapi tidak tampak, karena itu lebih sulit dihadapi.

Untuk mempermudah memberantas musuh-musuh batiniyah tersebut, 

maka lebih dahulu harus ditampakkan, dengan jalan mengetahui dan mengenal hakekat dan ciri-cirinya.

Lalu mencari cara untuk menghadapi dan menjauhinya.

Sifat Tercela dan Keji serta Cara Menjauhinya


Kenalilah sifat-sifat keji dan tercela berikut ini dan selanjutnya hindari dan buang jauh-jauh.

KUFUR

 


Kufur artinya ingkar.

Kufur ada tiga macam

1. Tidak percaya adanya Tuhan, seperti komunis.
2. Menyekutukan Allah.

Allah berfirman: 

“Kenapa kamu menyuruhku supaya kafir terhadap Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui…” (Al-Mukmin ayat 42).

Dan firman-Nya: 

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari tritunggal, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa.” (Surah Al-Maidah ayat 75).

3. Mengingkari nikmat-nikmat Allah

Ingkar nikmat ini bisa saja menimpa orang-orang Islam sekalipun.

Allah berfirman dalam menceritakan tentang kekufuran Iblis:

“Ia enggan dan takabbur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (surah Al-Baqoroh ayat 34).

Dan firman-Nya dalam menceritakan kaum Bani Israil :

“Hal ini terjadi karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.” (surah Al-Baqoroh ayat 61).

Ketiga bentuk kekufuran di atas hanya akan mempercepat datangnya adzab Allah, seperti yang banyak dikisahkan dalam Alquran.

Bagaimana cara mengobati penyakit kufur itu?

1. Memikirkan kejadian alam semesta.
2. Memikirkan asal mula kejadian manusia.
3. Memikirkan akhir kesudahan hidup manusia.
4. Memikirkan darimana asal mula datangnya rizki.

Untuk membantu, bacalah ayat-ayat berikut ini: 

Ayat 164 dari Alquran surat Al-Baqoroh.
Ayat 12-14 dari surat Al-Mukminun.
Ayat 15-16 juga dari surat Al-Mukminun.
Ayat 24-32 dari Alquran surat Abasa.

Pikirkan dan renungkanlah ayat-ayat tersebut!

UJUB


Ujub artinya perasaan bangga diri, congkak.

Cara mendeteksinya, bila di dalam hati ada perasaan melebih-lebihkan dan mengagung-agungkan diri, karena ilmunya, kecantikannya, kekayaannya dan lain-lain.

Maka dengan demikian sifat ujub telah bersarang dalam hatinya.

Dalam hal ini, Allah S.W.T telah berfirman dalam Q.S. At-Taubah :25.
Macam-Macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya

Cara mengatasi sifat yang sangat dibenci Allah ini.

Lihat dan pikirkanlah kelemahan dan kekurangan diri.

Perbanyaklah bersyukur atas kelebihan karunia Allah atas diri.

KIBR

 


Kibr bermakna sombong artinya menonjolkan atau membesarkan diri dengan perkataan, tingkah laku dan perbuatan.

Jadi kibr ini adalah sifat ujub yang ditonjolkan keluar.

Iblis adalah hamba Allah yang pertama kali memiliki sifat sombong ini.

Saking sombongnya Iblis ini dia tetap tidak mau memberi hormat kepada Nabi Adam walaupun dia sudah dikeram dalam neraka.

Padahal setiap seratus tahun, Allah memerintahkan kepadanya untuk beri hormat dengan imbalan segala dosanya di ampuni dan di keluarkan dari neraka.

Tapi Iblis tetap tidak mau dan terus membangkang!

Sufyan Ats-Tsaury r.a berkata:

“Setiap dosa yang dilakukan karena dorongan syahwat masih dapat diharapkan pengampunannya, tetapi dosa yang disebabkan sombong sulit untuk mendapatkan pengampunan.”

Rasulullah S.A.W bersabda:

“Barangsiapa memiliki sifat sombong dalam hatinya, walaupun seberat biji sawi, maka ia tidak akan masuk surga”.

Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah apakah termasuk sombong orang yang memakai baju dan sandal bagus?”

Jawab Rasulullah: “Allah itu baik dan suka keindahan, sesungguhnya yang dimaksud sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

Cara menyembuhkan penyakit ini.


Usahakan selalu berlaku rendah hati (tawadlu).

Sadari akan kehinaan dan kelemahan diri.

RIYA

 


Komplikasi dari ujub setelah bersikap sombong adalah riya.

Riya adalah sifat untuk ingin dipuji dan dibanggakan oleh orang lain karena amal perbuatannya.

Riya adalah syirik kecil yang sangat bahaya karena dapat menghapuskan amal kebaikan.

Cermati surat Al-Baqoroh ayat 264 di bawah.

Macam-Macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya

Cara menghilangkan penyakit riya ini.


Caranya kita harus ingat dan yakin bahwa semua makhluk itu tunduk di bawak kekuasaan Allah Ta’ala.

Semua qudrat dan iradat hanyalah kepunyaan Allah, semua makhluk tidak memiliki itu.

Karena itu tidaklah pantas sesama makhluk untuk saling membanggakan diri, dan.. 

meminta pujian dari makhluk yang sama lemahnya dengan dia yang tidak kuasa untuk mendatangkan kesenangan dan tidak juga bencana.

Bila kita telah yakin hal itu, kita tentu tidak membutuhkan lagi pujian dan sanjungan mereka.

HASAD

 


Hasad semakna dengan iri dan dengki.

Hasad timbul dari sikap sombong, tidak senang kalau orang lain lebih unggul dari dirinya.

Hasad menghanguskan amal kebajikan, seperti api membakar kayu kering. 

Karena itu jauhkan sifat hasad ini, kalau tidak mau amal kebajikan menjadi sia-sia.

Hasad ada tiga macam:

1. Hasad melihat orang lain mendapatkan nikmat, tetapi tidak mengharapkan nikmat itu hilang dari orang lain.

2. Hasad melihat orang lain mendapatkan nikmat, dan ia pun mengharap agar mendapatkan hal serupa.

3. Dengki melihat orang lain mendapatkan nikmat, dan ia mengharapkan nikmat itu lenyap dari orang itu.

Hasad yang pertama dan kedua masih baik karena timbul dari hati yang baik dan wajar.

Hasad yang ketiga adalah hasad yang sangat jelek dan tercela timbul dari hati buruk yang tidak pernah bersyukur atas nikmat Allah kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Ataukan mereka dengki kepada manusia, lantaran karunia yang telah Allah berikan kepada manusia itu?” (An-Nisaa : 54).

Bagaimana cara menghilangkan sifat ini?


Hendaklah kita menyadari dengan sesadar-sadarnya, bahwa semua kemulyaan kepada manusia itu adalah semata-mata anugerah Ilahi yang tidak mungkin dapat dicabut oleh manusia lain tanpa kehendak-Nya.

Ingatlah pula jika kita membenci karunia yang ada pada diri seseorang sama halnya kita membenci Allah yang telah memberi karunia itu.

Dan ingatlah firman Allah berikut ini.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (An-Nisaa : 32).

HIQD

 


Hiqd artinya dendam kusumat.

Hiqd timbul karena hasad atau dengki yang berlebihan terhadap orang lain sehingga menimbulkan kebencian dan permusuhan.

Cara yang jitu untuk menghilangkannya adalah bersikaplah sebagai seorang pemaaf dan banyak-banyak memaafkan.

Allah berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’rof ayat 199).

GHODOB

 


Ghodob berarti pemarah atau sering dihinggapi penyakit marah-marah.

Orang yang pendemdam bawaannya selalu marah-marah tidak karuan. Kesalahan sekecil apa pun bisa membuatnya marah-marah walaupun terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah S.A.W sendiri, sering mengingatkan sahabat-sahabat supaya jangan marah.

Beliau bersabda:

“Jangan marah!” sampai diulang-ulang beliau berkali-kali.

Tapi tidaklah semua marah itu buruk adanya. Seperti kata Imam Syafi’i :

“Barangsiapa dibuat marah-marah namun ia tidak marah, maka ia adalah keledai.”

Marah yang terpuji itu adalah untuk menjaga kehormatan dan kemulyaan agama.

Dan marah yang baik dan terpuji itu adalah lambat marah dan cepat hilangnya.

Dan sifat marah yang paling baik itu adalah syaja’ah, berani karena benar.

Adapun sifat-sifat seperti :

Tahawwur, berani membabi buta.
Jubun, pengecut dan penakut.
Dayyuts, lemah hati tidak bertindak.

Kesemuanya itu adalah sifat-sifat yang sangat tercela dan Nabi kita yang suci selalu memohon kepada Allah dijauhkan dari semua itu.

Tidak ada cara lain untuk menghilangkan sifat tercela ini adalah dengan menghiasi diri dengan kesabaran.

Sabar walaupun dia mampu dan sanggup melampiaskan kemarahannya.

Bukan terpaksa sabar karena timbul dari sikap pengecut!

ADH-DHULMU

 


Adh-dhulmu artinya aniaya, ialah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, atau mengurangi hak yang seharusnya diberikan.

Aniaya ada dua macam:

1. Aniaya terhadap diri sendiri (dhoolimun ala nafsihi).

Orang-orang yang telah melanggar hukum-hukum yang telah ditentukan Allah adalah yang temasuk ke dalam golongan ini.

Contoh: membunuh diri, berbuat fasiq, tidak melaksanakan shalat, dan lain-lain yang menyangkut dirinya sendiri.

“Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri…” (Al-Baqoroh : 231).

2. Aniaya terhadap orang lain (dhoolimun ala naas).

Yang masuk katagori ini, seperti :

Si kuat menindas yang lemah.

Penguasa menindas rakyat jelata.

Pedagang menganiaya si pembeli bila ia menipu dalam perdagangannya.

Makan harta anak yatim tanpa dasar yang kuat.

Menyakiti binatang, dan lain-lain.

Allah telah memperingatkan hamba-Nya dalam banyak tempat di Alquran. Dua di antaranya selain yang sudah kita sebutkan tadi, seperti:

“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang aniaya.” (Al-Baqoroh 229).

“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang aniaya.” (Ali-Imron : 57).

Ingat pula pesan Al-Imam Ali Karromallahu wajhah berikut ini:

“Janganlah engkau menganiaya seseorang dengan perbuatanmu dan janganlah menyakiti seseorang dengan lisanmu, maka engkau tentu akan disukai manusia.”

AL-KHIANAT

 


Al-khianat ialah menghilangkan kepercayaan yang diberikan orang lain, atau tidak menunaikan kepercayaan yang tidak dipercayakan kepadanya.

Khianat jelas sangat berbahaya bagi keselamatan umum.

Ia tidak punya tanggung jawab!

Ia dapat berbuat apa saja!

Ia sanggup bersumpah palsu untuk keselamatan dan kepentingan dirinya!

Ia sanggup mengorbankan teman dan keluarga!

Bahkan ia sanggup menjual negara!

Orang yang sanggup menjual rahasia dan keamanan negara tidak ada yang pantas hukumannya kecuali hukuman mati.

Khianat juga salah satu ciri-ciri dari orang munafik.

Rasulullah S.A.W bersabda:

“Tanda orang munafik itu ada tiga, jika ia bicara ia berbohong, jika berjanji, mungkir, dan jika diamanati ia khianat.”

Karena keburukan-keburukannya itu, maka buanglah jauh-jauh sifat itu dengan cara melawan sikap itu sekuat-kuatnya.

Dan jauhi pula orang yang memiliki sifat itu!

AL ‘ANAANIYAH

 


Egoisme (anaaniyah) ialah sifat mementingkan diri sendiri, tanpa ingat kepentingan orang lain.

Sifat ini tentu juga tidak terpuji.

Padahal…

Amal yang paling utama itu adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.

Dan…

Manusia tidak dapat hidup menyendiri.

Untuk menghilangkan sifat ini, ingatlah pesan dari Sayyidina Ali bin Abi Tholib r.a.

“Tanamkan dalam hatimu dua sifat yang saling bertolak belakang, yaitu,

Sifat butuh dan sifat tidak butuh pada orang lain.

Dengan sifat butuhmu engkau akan berlaku kasih sayang terhadap sesama manusia, dan

dengan sifat tidak butuhmu engkau akan dapat menjaga kehormatan dirimu.”

AL-BUKHLU

 


Bakhil atau kikir sangat dibenci Allah dan juga dibenci manusia.

Orang miskin dan melarat, kelak dihisab Allah sebagai orang kaya.

Cukuplah untuk menjauhi sifat ini, dengan cara merenungkan firman Allah dan Hadits Nabi di bawah ini.

Macam-Macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya

Dari Jabir, r.a beliau berkata, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:

“Jagalah dirimu daripada aniaya, karena aniaya itu merupakan kegelapan dihari kiamat. Dan jagalah dirimu dari sifat kikir,

karena sifat kikir itu telah membinasakan ummat-ummat sebelum kamu,

mendorong mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan semua yang diharamkan Allah.” Riwayat Muslim.

AT-TABZIIR

 


At-Tabdziir berarti pemboros.

Sifat ini lawan dari bakhil di atas, tapi sama-sama tercela.

Allah dan Rasul-Nya yang mulia melarang keras sifat ini.

Firman Allah :

“dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya (boros) karena itu kamu akan menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isro’ ayat 29).

AL-ISROOF

 


Al-isroof ialah berbuat melebihi batas yang telah ditentukan.

Beberapa misal dari al-isroof ini adalah..?

Allah melarang minum-minuman keras, ia melanggarnya.

Dilarang mendekati tempat zina, malah ia melakukannya.

Dilarang mencuri, malah menodong dan merampok.

Diancam melakukan riba oleh Allah, malah riba dijadikan sumber mata pencaharian.

Termasuk juga..

Sudah kenyang, tapi tetap terus makan dan minum.

Padahal kata Nabi:

“Barangsiapa makan terlampau kenyang, maka ia makan haram.”

AL-INTIHAR

 


Apa itu al-intihar?

Al-intihar adalah menjerumuskan diri kepada kecelakaan dan kebinasaan.

Aneh ya, ada orang yang mau berbuat seperti itu.

Tapi kenyataannya banyak kita lihat yang demikian.

Menuruti gejolak hawa nafsu.

Mengambil tanggung jawab di luar batas kemampuan dan kapasitas diri sendiri.

Berputus asa dan akhirnya membunuh diri.

Mencari rizki dari jalan yang haram.

Semuanya itu adalah beberapa contoh dari perbuatan al-intihar tadi. 

AL-IFSAAD

 


Al-ifsaad bearti berbuat kerusakan.

Al-ifsaad sama halnya dengan melakukan semua perbuatan keji dan tercela yang telah kita sebutkan tadi

.
Dikatakan fasad karena perbuatannya selalu menimbulkan kekacauan dan kerusakan, seperti menganiaya orang lain, menfitnah, mengadu domba, menghasut, dan sebagainya.

Sifat ini sama sekali tidak bermanfaat, karena bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

AL-KIZBU = BOHONG

 


Kizb (bohong) ada dua macam:

1. Mendustakan ajaran agama.
2. Mengatakan sesuatu berlainan dengan kejadian sebenarnya.

Al-Kizbu ini diharamkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

“Jangan mengikuti pembicaraan apa yang tidak kamu ketahui.” Bani Israil: 36.

Jangan terlalu banyak bicara!

Biasanya orang yang banyak bicara, pasti tergelincir kepada dusta.

AN-NAMIIMAH

 


An-namiimah dalam bahasa Indonesia berarti memfitnah.

Fitnah itu sangat berbahaya bisa menimbulkan huru hara dan kebinasaan bagi pelakunya dan orang yang kena difitnah.

Renungkan kalimat-kalimat suci dari Rasulullah di bawah ini, untuk menjauhi sikap ini.

“Tidak akan masuk surga, orang yang suka memfitnah.”

Ibnu Abbas r.a berkata, “Rasulullah berjalan melalui dua kuburan, maka beliau bersabda,

“kedua orang dalam kuburan ini sedang disiksa, padahal mereka tidaklah disiksa karena suatu perbuatan besar menurut anggapan mereka,

yang satu ia bisa berjalan dengan mengadu domba, dan yang kedua ia tidak bersih cebok dari kencingnya.”

AL-BUHTAAN

 


Al-Buhtaan ialah mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dengan maksud untuk menjelekkan orang.

Buhtaan lebih keji dari sekedar dusta. 

Dusta hanyalah akan berakibat buruk kepada dirinya.

Buhtaan lebih dekat kepada fitnah dan bahayanya sudah jelas.

AL-GHIBAH

 


Ghibah ialah menyebut atau memperkatakan seseorang di kala orang itu tidak ada (mengumpat) yang akan menyakitkan hatinya bila ia mendengarnya.

Jika yang dibicarakan (aib) itu benar, maka inilah yang disebut ghibah. Jadi kebalikan dari buhtaan yang perkataannya hanya mengada-ada.

Ghibah bisa timbul karena iri hati dan juga bisa timbul karena mencari muka.

Ghibah termasuk dosa besar.

“Janganlah kamu saling mengumpat.” Al-Hujurot : 12.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian maka hendaklah ia bicara baik atau diam.” H.R. Abi Hurairah.
JAUHILAH GHIBAH!

 

AS-SIKHRIYYAH

 


As-sikhriyyah artinya berolok-olok termasuk juga tanabuzu bil alqob (memberi gelar yang jelek-jelek) kepada seorang.

Perbuatan ini dilarang keras oleh agama.

Berolok-olok atau mengejek ini dapat menimbulkan benih-benih permusuhan. Sedangkan muslim sejati itu menyuruh kita memelihara lidah dan tangan jangan sampai menyakiti orang lain.

Karena itu jauhilah sifat yang demikian itu.

Firman Allah Ta’ala:

“Ancaman berat terhadap orang yang suka mengejek dan mencaci maki.” Al-Humazah : 1.

QOTLUNNAFSI

 


Membunuh karena menurutkan hawa amarah, tanpa dilandasi alasan-alasan yang diperbolehkan dalam agama.

Dosa membunuh ini sangat besar.
Macam-Macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya

 

AS-SIRQOH

 


As-sirqoh artinya mencuri.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu, dengan jalan yang batil.” (Al-Baqoroh : 188).

AR-RIBAA

 


“Allah memusnahkan (meniadakan berkah) riba dan menyuburkan (mengembangkan) sedekah.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang telah tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya)." Al-Baqoroh ayat 275 – 276.

Riba membuat pelakunya kekal di neraka.

AL-FAWAAHISY

 


Al-fawaahisy artinya dosa-dosa besar.

Yang termasuk dosa-dosa besar itu ialah yang telah disebutkan Rasulullah S.A.W dalam salah satu hadisnya, daripada Abu Hurairah r.a :

“Jauhilah tujuh perkara yang mendatangkan kebinasaan.

Sahabat bertanya, “apakah itu Ya Rasulullah?”

Jawab Nabi, 

“Syirik, sihir, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan agama, makan harta anak yatim, lari dari medan perang,- 

menuduh wanita mukminah berbuat keji, dan berzina dengan isteri tetangga.” hadis muttaafaqun alaih.

AL-GHURUUR

 


Al-ghuruur artinya tertipu atau terpedaya dengan hiasan dunia.

Orang yang memiliki sifat ini selalu berlomba untuk kemulian dan kemegahan dunia, sehingga lupa dengan kesenangan sesungguhnya di surga nanti.

Termasuk orang yang tertipu adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa secara terus menerus, karena menganggap Allah Maha Pengampun.

Al-ghuruur juga perbuatan yang dilakukan untuk menipu orang lain. Seperti pedagang menipu orang lain.

Barang jelek di anggap barang bagus, supaya laku.

Menipu, memperdaya dan terpedaya adalah sama-sama celaka, dan merupakan perbuatan yang hina dan tercela.

HUBBUDDUNYA

 


Karena bagian ini terlalu panjang insya Allah di lain waktu, saya akan membuat artikel tersendiri yang akan membahas tentang hubbuddunya ini.

Sekarang anda bisa membaca bagian ini dengan menekan link di bawah.

Cinta Dunia

SU’UDH DHONN

 


Su’udh dhonn artinya menyangka jahat kepada seseorang.

Prasangka buruk muncul tiada lain karena dia sendiri melakukannya.

Anggapannya dia samalah buruknya dengan orang lain.

Kalau dia baik manalah mungkin dia takut dipergunjingkan orang lain.

Allah Swt telah melarang dari suuzzon ini dengan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah persangkaan-persangkaan, karena sebagian dari persangkaan itu dosa…” (al-Hujorot : 12).

Nabi juga bersabda:

“Janganlah kamu banyak wasangka, karena persangkaan itu sedusta-dusta omongan.”

Demikian itu tadi semua sifat dan perbuatan tercela dan keji yang harus dapat kita hindari, agar hidup kita selamat dunia dan akhirat.

Terima-kasih semoga artikel ini banyak-banyak sekali manfaatnya bagi saya penulis dan bagi pembaca sekalian. 

Aamiin.

Refrensi :
Menuju Insan Kamil
Oleh : Idrus H.A.
Penerbit : CV. Aneka-Solo, 1997.

Read more

Pengertian Hadas dan Macam-Macamnya

Pengertian Hadas dan Macam-Macamnya

Pengertian hadas 


Pengertian hadas menurut bahasa berarti kejadian, perkara baru, dan kotoran. Sedangkan menurut istilah artinya perubahan dari suci menjadi tidak suci akibat munculnya benda, keadaan atau perbuatan yang mengahalangi sahnya ibadah. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

“Allah tidak menerima salat seseorang di antara kamu apabila dia berhadas sehingga ia berwudu.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). 

Jadi hadas adalah perkara penting yang menentukan sah dan tidaknya amal ibadah salat seorang hamba. Karena itu seorang yang hendak melaksanakan salat wajib hukumnya membersihkan hadas atau berwudu, meskipun hukum wudu itu sendiri sunat adanya. 

Macam-macam hadas 


Hadas dibedakan menjadi dua macam, ini ditinjau dari besar dan kecilnya hadas yang ditanggung oleh seseorang. 

1. Hadas besar 

Hadas besar ini disebabkan oleh beberapa perkara seperti bersenggama, keluar sperma, mimpi basah, haid dan nifas. Jadi dengan kata lain hadas besar ini tidaklah di tanggung kecuali oleh orang-orang yang disebutkan tadi yakni terjadi akibat keadaan junub. 

Hadas besar cara mensucikannya tidak cukup dengan melakukan wudu, tapi wajib bagi orang sedang berhadas besar itu untuk mensucikannya dengan mandi junub.

Allah Ta’ala berfirman: 

“.....dan jika kamu sekalian dalam keadaan junub maka bersucilah/mandilah”. (QS. Al-Maidah : 6). 

2. Hadas kecil 

Berbeda dengan hadas besar seperti yang telah kita sebutkan tadi, hadas kecil merupakan hadas biasa yang ditanggung oleh kebanyakan orang pada umumnya, karena bisa terjadi dengan mudah dan kapan saja akibat aktivitas manusia sepanjang hari. Hadas kecil ini terjadi karena kentut, sudah dari kamar kecil/kakus, bersentuhan antara wanita dan laki-laki yang bukan muhrim, menyentuh dzakar (kemaluan) dan bisa juga terjadi karena tidur. Tidur yang kita maksudkan di sini tidur yang sampai menghilangkan ingatan akan keadaan sekitar walaupun tidak pulas betul dan tidur tidak dalam keadaan duduk yang bisa menghalangi batalnya wudu. Untuk hadas kecil ini cara menyucikannya cukup dengan wudu. 

Pernah pada suatu ketika Abu Hurairah ra. ditanya oleh seseorang yang berasal dari Hadramaut. “Apa yang dimaksud dengan hadas wahai Abu Hurairah? Dia menjawab: yaitu kentut atau berak (termasuk kencing dan segala sesuatu yang keluar dari dua jalan kecuali mani/sperma”. (HR. Muttafaqun Alaih).
Read more

Pidato Pertanggungjawaban Iblis

Pidato Pertanggungjawaban Iblis
Bismillahi wabihamdihi

Pidato Pertanggungjawaban Iblis. Diterangkan dalan hadis: "Ketika ahli neraka telah mencebur ke dalamnya, tersedialah mimbar api untuk iblis, ia berpakaian api, mahkotapun api, dan dijerat dengan tampar api." Lalu diserukan kepadanya: "Hai iblis, segeralah menaiki mimbar, untuk menyampaikan ceramahmu. Maka iapun menaiki mimbar api dan menyampaikan ceramahnya, seluruh penghuni neraka mendengar ceramahnya, mereka pun menghadap dan mencurahkan perhatian kepadanya. Isi ceramahnya :

"Hai sekalian para kafir dan munafik.
"Berkatalah syetan/iblis: "Sesudah vonis hukuman dijatuhkan: "Sebenarnya Allah telah menjanjikanmu dengan janji benar, dan akupun dulu menjanjikanmu, namun ku ingkari janji itu..." (QS. Ibrahim 22).

Adapun janji Allah yang benar adalah tentang kematian/ kalian bakal mati, lalu dihimpun di padang mahsyar, diperhitungkan amalnya/dihisab, dan divonis hukuman yang selanjutnya digolong-golongkan menjadi dua golongan besar :

".... Segolongan dalam sorga dan segolongan lainnya dalam neraka" (QS. Asy-Syuura 7).

Sungguh melesetlah dugaanmu, semula engkau mengira tidak bakal lenyap/meninggal dunia, bahkan mengira bakal tetap untuk selamanya. (sahut iblis berikutnya: "Tiada kekuasaan bagiku atasmu, kecuali aku hanya mengganggumu, aku menyuruhmu lalu kamu pun menerima dan mengikutiku, maka resiko besar berupa dosa tanggunganmu sendiri." (QS. Ibrahim 22).

"Untuk itu, janganlah kalian mencercaku/jangan salahkan aku, sebaliknya cercalah dirimu sendiri.......... " (QS. Ibrahim 22).

Sungguh tepat cercaanmu pada pribadimu masing-masing, daripada aku yang harus mencercamu. Kenapa kalian enggan beribadah kepada Allah, padahal Dia pencipta segala sesuatunya? Lalu iblis pun melanjutkan ceramahnya:

"Tiada kekuatan bagiku untuk menyelamatkan kalian dari adzab Allah, demikian pula tidak mungkin kalian mampu menyelamatkan aku dari siksa-Nya. Mulai detik hari ini, secara resmi dinyatakan bahwa aku cuci tangan, tidak bertanggungjawab atas janji-janji yang pernah dikatakan kepadamu, dengan alasan: "Peralihan kekuasaan, aku sudah dilemparkan dan ditolak dari hadirat Allah, Tuhan alam semesta."

Setelah mereka mendengarkan ceramah/pidato pertanggungjawaban iblis ini, maka serempak ahli neraka pun mengutuk iblis. Kemudian dihajarlah iblis oleh malaikat Zabaniah dengan tusukan tombak api, hancurlah ia dan meluncur dari atas mimbar, terlempar ke dasar neraka terbawa untuk selamanya berikut ahli neraka yang dulu ketika di dunia sebagai pengikutnya. Zabaniah pun berseru kepada mereka: "Tiada mati ataupun istirahat bagi kalian/maksudnya kalian hidup dalam keadaan sengsara, menderita susah dan kepedihan tiada terbatas, untuk selamanya." (Zahratur-Riyadl).

Kisah menarik lainnya Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh.

Isi dikutip dari: Duratun Nasihin. Karangan Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir, al-Khaubawi.
Read more

Apa Harus Mengqadha' Semua Shalat?

Taubat Meninggalkan Shalat, Apa Harus Mengqadha' Semua Shalat Tersebut?

Oleh: Badrul Tamam. Copas dr: VOA Islam

Apa Harus Mengqadha' Semua Shalat?

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Ulama berbeda pendapat tentang hukum orang muslim yang meninggalkan shalat dengan sengaja apabila dia tidak menentang kewajibannya. Sebagian ulama menghukuminya telah kafir dan keluar dari Islam (murtad). Dia diberi kesempatan taubat tiga hari, jika ia bertaubat maka ia menjadi muslim kembali. Jika tidak mau maka ia dibunuh sebagai hukuman atas kemurtadannya. Jenazahnya tak boleh dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Tak boleh dimintakan ampunan dan rahmat untuknya. Dan semua ketentuan atas orang murtad berlaku padanya dalam urusan warisan dan harta peninggalannya.

Pendapat kedua, jika seseorang meninggalkan shalat dengan menentang kewajibannya (menyatakan shalat tidak wajib atasnya) maka ia telah kafir dan murtad (keluar) dari agama Islam. Ketentuan atasnya sebagaimana ketentuan di atas. Jika ia tidak menentang kewajiban shalat –misal: ia meninggalkannya karena malas- maka ia dihukumi sebagai pelaku dosa yang sangat besar, tapi ia tidak keluar dari agama Islam. Ia diberi kesempatan taubat tiga hari, jika taubat maka Alhamdulillah. Jika tidak mau taubat, ia dibunuh sebagai ketentuan hukum had atas orang meninggalkan shalat bukan karena ia kafir.

Meninggalkan Shalat Karena Lupa atau Tertidur


Bagi orang yang meninggalkan shalat karena sebab udzur syar’i seperti lupa dan tertidur maka ia wajib mengadha’ shalat yang telah ditinggalkannya. Ini sudah menjadi kesepakatan para ulama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَن نسيَ الصَّلاة، فليصلِّها إذا ذكرها؛ فإنَّ الله تعالى يقول: وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي
 
“Siapa yang lupa shalat (tidak shalat karena lupa), maka hendaknya ia mengerjakannya apabila ia telah ingat. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tegakkanlah shalat untuk mengingatku”.” (HR. Muslim).

Dan sabda beliau yang lain,

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
 
“Siapa yang lupa terhadap satu shalat atau tertidur dari menjalankannya (pada waktunya) maka kafarah (tebusan)-nya adalah ia menjalankannya apabila telah mengingatnya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Di Shahih Muslim disebutkan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ
 
“Siapa lupa mengerjakan shalat, maka hendaknya ia mengerjakannya apabila ingat; tidak ada kafarah baginya kecuali itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim; lafadz milik Muslim).

Meninggalkan Shalat dengan Sengaja Karena Malas


Kemudian bagaimana jika ada orang yang sudah terlanjur ia meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas, lalu ia menyesali perbuatannya tersebut dan ingin taubat? Apakah ia wajib mengqadha’ semua shalat yang telah ditingalkannya?

Orang yang telah meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas dan bertaubat darinya maka pendapat yang lebih kuat –wallahu a’lam- ia tidak wajib mengqadha’ shalat-shalat yang telah ditinggalkannya tersebut. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hazm, dan sebagian ulama madhab Syafi’iyah.

Bahkan, jika tetap dikerjakan maka shalat tersebut tidak sah dan tak akan diterima karena dikerjakan di luar waktunya. Ia meninggalkan (mengakhirkan) dari shalat bukan karena udzur syar’i. Sehingga jika tetap dilakukan tidak akan diterima.

Alasannya, perintah untuk melaksanakan shalat itu bukan perintah untuk mengqadha’nya. Maknanya, mengqadha’ shalat-shalat yang telah ditinggalkan dengan sengaja itu membutuhkan dalil (perintah) baru. Sementara pelakunya yang sudah taubat tidak lepas dari dua kondisi: 

Pertama, sebelumnya ia menjadi kafir karena meningalkan shalat dengan sengaja, lalu ia kembali kepada Islam kembali, maka Islamnya itu menutup dosa-dosa sebelumnya. Sehingga ia tidak dituntut untuk mengqadha’ shalat atau shaum.

Kedua, kondisinya sebagai pelaku maksiat saja, bukan kafir. Jika ia telah taubat, maka taubatnya tersebut menutup dosa-dosa sebelumnya. Terlebih lagi, jika tetap wajib mengqadha’ shalat, maka bagaimana dengan orang yang telah meninggalkan shalat dengan sengaja berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Tentunya ini akan meyersulitkan orang dalam bertaubat darinya.


Memang diakui, di sana ada pendapar Jumhur ulama yang tetap mewajibkan orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat agar mengqadha’nya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits qadha’ atas orang yang meningalkan shalat karena tertidur dan lupa. Wallahu Ta’ala A’lam.
Read more

Al-Ikhlas - Kenapa Disebut Surat Ikhlas?

Surat Al-IkhlasKenapa Disebut Surat Ikhlas?


Surat ini mampu menyelamatkan pembacanya dari segala kesulitan, baik urusan dunia atupun urusan akhirat, baik ketika sakaratul maut, ataupun kegelapan di dalam kubur dan macam-macam bahaya kelak di hari kiamat, itulah sebabnya disebut surat Ikhlas.

Banyak faedah dari membaca surat Ikhlas diantaranya:


1. Dari Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabda: “Siapa membaca surat Ikhlas 1x, seolah-olah ia membaca AlQuran sepertiganya, membacanya 2x berarti dua pertiga AlQuran, dan siapa membaca surat Ikhlas 3x, seolah-olah ia membaca AlQuran seluruhnya. Dan siapa membacanya 10x, pasti Allah membangunkan untuknya sebuah gedung di sorga yang bahan/materialnya terdiri dari yakut/permata merah.”

2. Dimuat dalam suatu hadits: “Siapa membaca surat Ikhlas dalam melakukan shalat-shalat fardlu, maka Allah memberi ampun kepadanya, dan kepada kedua orang tuanya, serta menghapusnya dari buku catatan golongan orang yang celaka, bahkan dimasukkan dalam buku catatan orang-orang bahagia.” (Majelis).

3. Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda: “Adalah aku merasa khawatir terhadap siksa yang menimpa umatku di malam dan siang hari, hingga Jibril as. datang kepadaku dengan membawa surat Ikhlas. Maka aku pun tahu/merasa mantap bahwa Allah SWT tidak bakal menyiksa umatku, sesudah surat ini turun, sebab ia dinisbatkan kepada Allah. Dan siapa menentukan waktu membacanya secara rutin, maka bertaburlah pada kepalanya kebaikan dari langit, ketenteraman dan rahmat turun meliputinya, Allah memandang kepada pembacanya penuh ampunan yang abadi kepadanya. Dia tidak bakal menyiksa mulai itu, dan tiada memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Dia memberinya.” (Tafsir Hanafi).

4. Diceritakan, bahwa Nabi saw tengah duduk di depan pintu Madinah, lalu ada jenazah diusung melintasinya. Tanya beliau saw: “Adakah ia punya hutang? Jawab mereka: “Ya, 4 dirham, sampai meninggal belum membayarnya.” Sabdanya: “Shalatilah ia, dan aku tidak menshalatinya sebelum hutangnya terbayar.”
Kemudian turunlah Jibril as sahutnya: “Ya Muhammad, Allah SWT menyampaikan salam buatmu, Dia berfirman: “Aku telah menyuruh Jibril menjelma bentuk manusia, dan ia telah membayarkan hutangnya.” Untuk itu, tegaklah menshalatinya, sebab ia sudah mendapat ampunan, siapa menshalati jenazahnya, maka Allah SWT mengampuninya.”

Selanjutnya, Nabi saw bertanya: “Hai Jibril, dari mana ia dapat karamah seperti ini? Jawabnya: “Dengan membaca surat Ikhlas 100x setiap harinya, sebab di dalam surat Ikhlas itu tersimpan uraian sifat-sifat Allah dan pujian kepada-Nya.”

5. Diceritakan, ada seorang pria mengadu kepada Nabi saw berkait dengan kefakiran yang melandanya. Lalu beliau saw bersabda: “Apabila masuk rumah, bacalah surat Ikhlas”. Pria itupun melaksanakannya, maka Allah SWT melapangkan rizki kepadanya.”

6. Nabi saw bersabda: “Siapa membaca surat Ikhlas di tengah-tengah menderita sakitnya hingga meninggal dunia, maka ia tidak bakal busuk tubuhnya di dalam kubur, dan bebas dari kesempitan kubur/dilapangkan kuburnya, dan para malaikat membawanya dengan sayap mereka hingga melintasi shirat menuju ke sorga.” (Demikian dalam Tadzkirah Al-Kurtubi, tapi disyaratkan membaca basmalah).


Demikianlah artikel yang berjudul 'Al-Ikhlas - Kenapa Disebut Surat Ikhlas?' semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Terima kasih.
Read more

SEBUAH HIKAYAH TENTANG KEUTAMAAN ILMU

Sebuah Hikayah Tentang Keutamaan Ilmu. Bahwasanya Nabi saw. Berangkat ke masjid, setiba beliau di pintu masjid, terlihat syetan berada di situ, lalu beliau saw. bertanya: "Hai iblis, kenapa kau berada di sini apa maumu? Jawabnya: sebetulnya aku hendak masuk masjid dan menggoda orang yang tengah shalat, namun apa daya, rasa gentarku terhadap seorang pria yang tengah tidur ini, mengakibatkan rencanaku gagal. Lalu beliau saw. bertanya lagi: "Hai Iblis, kenapa kamu gak gentar berhadapan dengan orang yang shalat, padahal ia tengah beribadat dan munajat kepada Tuhannya, bahkan yang kau takuti orang yang tengah pulas tidur, dan lupa? Jawabnya: "Orang yang tengah mengerjakan shalat itu bodoh, gampang diperdaya, tetapi orang yang tengah tidur itu 'alim, maka jika aku memperdaya pelaku shalat dan merusak shalatnya, kekhawatiranku timbul jika yang 'alim bangun lalu membetulkan shalatnya si bodoh itu. Kemudian beliau saw. bersabda: "Tidurnya orang 'alim lebih utama dari pada ibadahnya orang bodoh." (Minhajul Muta'allim)


Kenapa ilmu lebih utama dari amal?

Argumentasi:

Ilmu mengungguli amal, sebab dengan adanya ilmu sekalipun amal kecil dapat dirasakan manfaatnya, tetapi amal tanpa ilmu, sekalipun amalnya besar/banyak tiada manfaatnya.

Kesimpulan:

Nilai ilmu lebih berharga daripada amal ibadah, dan sudah menjadi ketentuan wajib bagi orang yang beramal-ibadah, dibarengi dengan ilmunya, pelanggaran ketentuan tersebut berakibat sia-sia amal-ibadahnya, bagai debu berhambur ditiup angin

Read more