Perbedaan Kisah Nabi Ibrahim Menurut Alquran dan Perjanjian Lama

Perbedaan Kisah Nabi Ibrahim Menurut Alquran dan Perjanjian Lama


Ibrahim a.s itu bukan Yahudi

Dan juga bukan seorang Nasrani

Tapi Nabi Ibrahim itu orang yang lurus lagi menyerahkan diri hanya kepada Allah semata.

Jadi sangat mustahil pula bila beliau dari golongan musyrik.

Perbedaan Kisah Nabi Ibrahim Menurut Alquran dan Perjanjian Lama

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman. (QS Ali Imran 67-68).

Beliau dijadikan contoh oleh Allah bagi manusia. Hanya kebenaran demi kebenaran semata yang disampaikannya.

Ia melarang ummatnya menyembah berhala dan mengingatkan kepada mereka agar menyembah dan takut kepada Allah semata.

Karena itulah oleh ummat (yang membangkang padanya), ia diikat dan dibakar. Tapi dengan kasih sayang yang dilimpahkan Allah kepadanya, api yang membakar beliau pun menjadi dingin.

Nabi Nuh a.s adalah moyang dari Nabi Ibrahim dan ia pun mengikuti jalan hidup agama yang datang dari Nuh. Lihatlah firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shafaat 79-83 berikut ini.

Perbedaan Kisah Nabi Ibrahim Menurut Alquran dan Perjanjian Lama

Artinya:

Ayat 79: “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”.

Ayat 80: Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Ayat 81: Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.

Ayat 82: Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.

Ayat 83: Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).

Nabi Ibrahim adalah penduduk dari dataran Mesopotamia yang sangat terkenal pada zaman dahulu kala sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya peradaban yang maju.

Masih dari bagian daerah Mesopotamia, di bagian Tengah dan Timur dari Anatolia tinggal orang-orang yang menyembah sorga-sorga dan bintang-bintang. Tuhan yang paling penting bagi mereka yaitu Sin atau Dewa Rembulan.

Sin dalam hayal mereka digambarkan sebagai seorang manusia yang berjenggot panjang, memakai pakaian panjang membawa rembulan berbentuk bulan sabit di atasnya.

Mereka kemudian memahat kayu sesuai dengan gambaran itu untuk dijadikan patung dan kemudian menyembahnya sebagai Tuhan.

Itulah sistem kepercayaan pada masa itu yang menyebar luas di kawasan itu dan mendapatkan tempat persemaiannya di Timur Dekat, di mana kemudian keberadaannya tetap terpelihara dalam waktu yang cukup lama hingga sekitar tahun 600 M.

Ziggurat adalah sebuah tempat peribadatan berbentuk piramida yang dijadikan sebagai tempat pemujaan mereka orang-orang Mesopotamia.

Keberadaan kuil mereka ini, membentang dari Mesopotamia hingga ke pedalaman Anatolia. Di kuil-kuil yang bernama ziggurat inilah bersemayam tuhan-tuhan mereka, terutama Sin (dewa-dewi rembulan) itu. Faham politheisme menyebar ke seluruh Mesopotamia.

Nabi Ibrahim a.s menolak dan menentang penyembahan-penyembahan itu dan mengajak masyarakatnya untuk berpegang teguh kepada Allah saja, satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Ini bisa tampak jelas dari firman Allah di bawah ini.

Perbedaan Kisah Nabi Ibrahim Menurut Alquran dan Perjanjian Lama

Artinya: 

Ayat 74: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

Ayat 75: Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

Ayat 76: Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata : “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Ayat 77: Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata : “Inilah Tuhanku”.

Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Ayat 78: Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah tuhanku, ini lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Ayat 79: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An’am: 74-79).

Memang di dalam Quran tidaklah ada disebutkan tempat di mana beliau dilahirkan dan di mana beliau bertempat tinggal.

Tapi kita tahu bahwa Ibrahim tempat tinggalnya tidak jauh dari Nabi Lut, bukankah Malaikat yang mendatangi Nabi Ibrahim adalah Malaikat yang kemudian juga mendatangi Nabi Lut untuk menjungkir balikkan ummat yang membangkang dari kaum Nabi Lut.

Malaikat itu sebelum mengazab kaum Lut, malaikat itu juga yang memberi kabar kepada Ibrahim dan istrinya tentang bayi lak-laki yang sedang dikandungnya.

Nabi Ibrahim sebagaiman yang dikisahkan dalam Quran adalah Nabi yang bersama Ismail anaknya membangun dan membina rumah Allah Ka’bah. Ini adalah kisah yang tidak pernah diberitakan dalam Perjanjian Lama yang menjadi milik Yahudi dan Nasrani.

Satu-satunya yang diketahui para ahli sejarah sekarang ini hanya mengetahui Ka’bah sebagai tempat suci yang usianya sudah sangat tua.

Sebelum Nabi Muhammad dan agama yang dibawa beliau turun, Rumah Purba ini pernah dipenuhi oleh berhala – yang terkenal adalah hubbal.

Penuhnya rumah suci itu oleh berhala merupakan tanda kemunduran atas agama suci Illahi yang pernah diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.

Baru setelah Rasulullah s.a.w. turun dengan membawa akidah yang suci maka semua berhala itu tidak lagi punya tempat di Ka’bah dan di hati penduduk Mekkah dan Madinah bahkan pada akhirnya nanti pada sebagian besar manusia.

Kisah Nabi Ibrahim dalam Alquran dan Kitab Perjanjian Lama


Lalu bagaimana sesungguhnya Nabi Ibrahim digambarkan dalam kitab perjanjian lama milik Yahudi dan juga yang diyakini oleh kaum Nasrani?

Mungkin saja kitab ini adalah sumber paling detail dalam hal-hal yang berhubungan dengan Ibrahim meskipun banyak pula di antaranya yang tidak bisa dipercaya.

Beginilah kisah Nabi Ibrahim dalam Perjanjian Lama:

Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, yakni salah satu kota paling penting saat itu yang berada di Timur Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, Ibrahim tidak (belum) bernama “Ibrahim”, tetapi “Abram”. Namanya kemudian kemudian dirubah oleh Allah (YHWH).

Pada suatu hari, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan masyarakatnya, menuju ke suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana.

Abram pada usia 75 tahun mendengarkan seruan/pangilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai – yang kemudian dikenal dengan nama “Sarah” yang berarti puteri raja – dan anak dari saudaranya yang bernama Lut.

Dalam perjalanan menuju ke “Tanah yang Terpilih” mereka tingal di Harran untuk sementara waktu dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Ketika mereka sampai di tanah Kana’an yang djanjikan oleh Allah kepada mereka, mereka diberikan wahyu oleh Allah berupa pemberiahuan bahwa tempat tersebut secara khusus dipilihkan oleh Allah buat mereka dan dianugerahkan buat mereka.

Ketika Abram mencapai usia 99 tahun, dia membuat perjanjian dengan Allah dan namanya kemudian dirubah menjadi Ibrahim (Abraham). Pada saat berusia 175 tahun, ia wafat dan dimakamkan di gua Macpelah dekat kota Hebron (e l-Kalil), Tepi Barat daerah kekuasaan Israel saat ini.

Tanah tersebut sebenarnya dibeli oleh Ibrahim dengan sejumlah uang dan itu merupakan kekayaannya dan keluarganya yang pertama di Tanah Yang Dijanjikan itu (Promise Land).

Diberitakan pula dalam perjanjian lama, ia Nabi Ibrahim dilahirkan di sebelah selatan Mesopotamia. Tempat kelahiran ini diyakini kebenarannya oleh orang Kristen dan Nasrani. Tapi hal ini adalah isu yang menjadi perdebatan oleh para ahli sejarah.

Sedangkan orang-orang dalam dunia Islam, sudah lazim berpikir bahwa Ibrahim dilahirkan di sekitar Urfa-Harran. Belakangan terdapat beberapa penemuan baru yang menunjukkan bahwa thesis dari kaum Yahudi dan Nasrani tidak menyiratkan kebenaran seutuhnya.

Orang Yahudi dan Kristen menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena dalam Perjanjian lama tersebut, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah Selatan Mesopotamia.

Setelah Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota ini, dia dcieritakan telah menempuh sebuah perjalanan menuju Mesir, dan dalam perjalanan tersebut mereka melewati suatu tempat yang dikenal dengan nama Harran di wilayah Turki.

Meskipun demkian, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini, telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan dari informasi di atas.

Dalam manuskrip yang ditulis dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar sekitar abad ketiga SM, dimana manuskrip tersebut diperhitungkan sebagai salinan yang tertua dari Perjanjian Lama, juga nama tempat “Ur” tidak pernah disebutkan.

Hari ini banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata-kata “Ur” tidak akurat atau bahwa Ibahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah mengunjungi wilayah Mesopotamia selama hidupnya.

Disamping itu, nama-nama beberapa lokasi serta daerah yang disebutkan itu, telah berubah karena perkembangan jaman. Pada saat ini dataran Mesopotamia biasanya merujuk kepada tepi sungai sebelah selatan dari daratan Irak, diantara sungai Efrat dan Tigris.

Lagipula, dua milinium (2000 tahun) sebelum kita, daerah Mesopotamia digambarkan sebagai sebuah daerah yang letaknya lebih ke Utara, bahkan lebih jauh ke autara sejauh Harran, dan membentang sampai ke daerah yang saat ini merupakan daratan Turki.

Karena itu, sekalipun kita menerima pendapat bahwa “Dataran Mesopotamia” seperti yang digambarkan Perjanjian Lama, tetap saja akan terjadi kekeliruan bila menganggap Mesopotamia dua milenium yang lebih awal adalah tempat yang persis sama dengan Mesopotamia yang sekarang.

Bahkan seandainya juga ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur sebagai tempat kelahiran Ibrahim, tetapi ada sebuah pandangan umum yang disetujui yaitu tentang fakta bahwa Harran dan daerah yang melingkupinya adalah tempat dimana Nabi Ibrahim hidup.

Lebih dari itu, peneliltian singkat yang dilakukan terhadap isi Perjanjian Lama tersebut memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran.

Sebagai contoh di dalam Perjanjian Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai “daerah Artam” (Genesis, 11:31 dan 28:10). Disebutkan bahwa orang yang datrang dari keluarga Ibrahim adalah “anak-anak dari seorang Arami” (Deutoronomi, 26:5).

Identifikasi penyebutan Ibrahim dengan sebutan “seorang Arami” menunjukkan bahwa beliau (Ibrahim) melangsungkan kehidupannya di daerah ini.

Dalam berbagai sumber agama Islam, terdapat bukti yang kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan “kota para Nabi” ada banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.

Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?


Di dalam Perjanjian Lama dan Alquran kisah Nabi Ibrahim telah diungkapkan, namun kalau diperhatikan tampak antara kedua kitab samawi itu, kelihatannya hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, yang bernama Abraham dan Ibrahim.

Dalam Al Qur’an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi sebuah kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim tersebut menyembah surga-surga, bintang-bintang dan rembulan serta berbagai sembahan lain.

Nabi itu berjuang melawan kaumnya dan selalu berusaha untuk mencoba agar mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan tahayul dan secara tidak terhindarkan, hal; itu juga telah membangkitkan nyala api permusuhan dari seluruh masyarakatnya bahkan termasuk ayahnya sendiri.

Sebenarnya, tidak ada satupun dari hal yang disebutkan di atas diceritakan dalam Perjanjian Lama.

Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, bagaimana Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh masyarakatnya, tidaklah disebutkan dalam Perjanjian Lama.

Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Hal ini menjadi bukti bahwa pandangan di dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang mencoba memberikan pijakan di masa mendatang akan konsep “ras/suku bangsa”.

Mereka kaum Yahudi menyakini bahwa kaum atau bangsa Yahudi-lah yang selalu dipilih oleh Tuhan dan merasa lebih unggul dari ras lainya.

Mereka dengan sengaja dan penuh keinginan untuk mengubah kitab Suci mereka dan membuat penambahan-penambahan serta berbagai pengurangan berdasarkan keyakinan seperti di atas.

Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.

Orang-orang Kristen pun terutama para penganut yang mengimani Perjanjian Lama, percaya bahwa Ibrahim itu nenek moyang bangsa Yahudi, hanya saja penganut Kristen mengatakan Nabi Allah Ibrahim adalah seorang Nasrani bukan beragama Yahudi.

Ummat Kristen yang tidak ambil pusing dengan konsep mengenai ras/suku bangsa sebagaimana faham Yahudi tadi, tetap pada pendirian ini (Ibrahim seorang Nasrani) dan inilah sebagai salah satu penyebab terjadinya perbedaan dan pertentangan antara Kristen dan Yahudi.

Mengenai pertentangan itu, Allah telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 65-68 sebagai berikut :

Perbedaan Kisah Nabi Ibrahim Menurut Alquran dan Perjanjian Lama

(65) Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?

(66) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

(67) Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik”.

(68) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman. (QS Ali Imran 65-68).

Apa yang terdapat di kitab suci Al Qur’an jelaslah sangat berbeda dengan apa yang ditulis dalam Perjanjian Lama.

Dalam Al-Quran diterangkan bahwa Nabi Allah Ibrahim adalah seorang rasul yang memberi peringatan kepada kaumnya supaya mereka bertakwa dan takut kepada Allah, Dan beliaulah pada akhirnya terus berperang atau berjuang dalam menghadapi kaumnya untuk menegakkan kalimat Allah.

Perjuangan ini pun dimulainya sejak masih muda, ia menyeru kepada kaumnya untuk menghentikan penyembahan terhadap berhala-berhala. Karena dianggap menghina, kaumnya pun hendak membunuh Nabi Ibrahim tapi diselamatkan Allah.

Untuk menghindari niat jahat yang mau dilakukan oleh raja lalim dan masyarakat terhadapnya. Nabi Ibrahim pun akhirnya berpindah tempat menuju Mesir dan terus ke Mekkah tempat dibinanya Ka’bah bersama putranya Nabi Ismail a.s.

Jangan lewatkan Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Demikianlah sekelumit dari Perbedaan kisah Nabi Ibrahim a.s menurut Islam (Alquran) dan Kristen/Yahudi (Perjanjian Lama) yang kami petik (bukan dikutip atau di copy paste) dari karya Harun Yahya: Bangsa Musnah - Bab Nabi Ibrahim a.s. - Semoga bermanfaat.

Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian Remaja

Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian Remaja

Faktor-Faktor Pembentukan Kepribadian Remaja


Masa remaja merupakan masa perubahan dari masa kanak-kanak ke masa baliq (pra pertama kedewasaan), dimana pada saat ini seseorang mengalami perubahan yang tampak nyata baik yang terjadi pada fisik maupun pada mentalnya. Usia remaja pada umumnya berkisar antara 13 tahun sampai usia 18 tahun.

Perubahan ini tampak pada pertumbuhan badannya, tumbuhnya kumis, jambang, keluarnya mani dan jakun bagi laki-laki. Sedangkan pada wanita tampak pada pembentukan lekuk tubuh dan menstruasi. Dan pada umumnya mereka sudah mulai tertarik dan mengangankan lawan jenis.

Remaja dikenal sebagai masa-masa yang penuh semarak, penuh warna dan menyenangkan. Masa remaja juga masa labil dan rentan, mudah terpengaruh dan terbawa ke arah pergaulan negatif, sebab dorongan kuat yang ada pada diri mereka untuk mencoba-coba hal yang dianggap menyimpang oleh umum.

Lingkungan, media dan pergaulan berperan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian mereka. Kurangnya kontrol diri dan minimnya kematangan dalam berpikir menyebabkan para remaja ini sangat mudah terjun ke dalam pergaulan negatif.

Apalagi pada zaman sekarang, yang dikenal sebagai era teknologi dan era kebebasan berekspresi. Ketidaksiapan mental pada kebanyakan remaja, menyebabkan mereka bebas mengeksprsikan segala tingkah laku mereka.

Ekstasi, sabu-sabu, minuman keras, sex bebas dan sejenisnya sekarang ini sudah lagi bukan barang yang tabu (terlarang) dan langka bagi remaja. Barang-barang tersebut saat ini sangat mudah di dapatkan mereka, sebab para pengedar barang-barang terlarang ini menjadikan mereka sebagai target pasar yang sangat menguntungkan.

Di sinilah letaknya peran penting orang tua sebagai pemantau, pengawas dan pembimbing para anak muda belia ini agar terhindar dari yang namanya degradasi moral.

Kemerosotan moral ini harus dicegah sejak awal, karena akan menjadi hal yang buruk pada perkembangan mereka selanjutnya.

Hal ini adalah tanggung jawab penuh orang tua terhadap anak-anaknya untuk menjauhkan mereka dari akibat-akibat yang fatal di kemudian hari.

Dari uraian singkat di atas, secara sederhana kita dapat menyimpulkan faktor-faktor yang membentuk kepribadian remaja tersebut, adalah sebagai berikut:

1. Faktor lingkungan orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman dekat, teman sekolah, dan juga pendidik di sekolah.

2. Faktor kelabilan jiwa yang cenderung mengalami perubahan sehingga remaja mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan dan mengarahkan berbagai kejiwaan pada dirinya.

3. Faktor eksternal yang sekarang serba boleh/permisif, seperti berubahnya nilai-nilai dalam masyarakat, tayangan dan informasi media yang tidak mendidik, gaya hidup yang menuju hedonisme, gaya hidup yang hanya  mengedepankan kesenangan dan materialisme, yaitu gaya hidup yang mengukur segala sesuatu dengan materi/uang.

Dengan mengetahui faktor pembentuk karakter para remaja ini, diharapkan para orang tua dapat lebih berhati-hati dalam memantau dan mengawasi pergaulan yang dilakukan oleh anak-anak mereka, serta dapat mengambil tindakan yang tepat apabila didapati anak-anak mereka mengalami kondisi dan perubahan mental seperti yang tidak biasanya.

Demikianlah pembahasan singkat kita tentang faktor-faktor yang yang membentuk kepribadian remaja. Insya Allah pada kesempatanya berikutnya kita lanjutkan kembali pembahasan kita tentang tema remaja ini. Jangan lupa baca juga Macam-macam Perbuatan Tercela dan Cara Menjauhinya.

HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN

Hubungan Alquran dan kemajuan IPTEK Modern


Beberapa orang yang masih dangkal pemahaman keislamannya menganggap alquran itu tidak lebih dari sekedar buku yang cukup hanya dibaca saja untuk mendapatkan pahala membacanya. 

Alquran bukanlah solusi untuk pemecahan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Tidak dapat dikonfrontasikan dengan penemuan dan pengetahuan modern, karena hal itu sia-sia dan menghabiskan waktu. 

Demikianlah kata “si penentang itu” yang menganggap hukum manusia di atas segala-galanya, bahkan lebih rasional dari hukum Tuhan.

Ketahuilah, anggapan yang demikian itu salah dan sangat keliru. Bukalah alquran dan telitilah kandungan ayat demi ayatnya, niscaya engkau akan menemukan bahwa alquran itu sangat logis dan rasional. 

Segala problema hidup, tidak hanya dari sudut rohani saja – semua ada solusinya yang terbaik di dalam alqur'an.

Dalil-Dalil Alquran Tentang Keutamaan Ilmu


Mari kita lihat beberapa dalil, bahwa anggapan orang-orang tersebut itu salah.

1. Ketika Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. maka ayat yang pertama kali turun adalah Q.S Al-'Alaq [96] ayat 1 – 5.

HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN

001. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

002. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

003. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

004. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

005. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat ini memerintahkan bagi Nabi untuk membaca dan belajar. 

Jelas sekali Islam sangat menghargai pengetahuan (akal) sehingga ayat yang pertama kali turun bukan perintah untuk melakasanakan ibadah seperti shalat dan puasa, atau ibadah lainnya.

2. Adam as. Diangkat sebagai khalifah di muka bumi bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya. 

Karena Adam as lebih berpengetahuan dibandingkan daripada makhluk Allah yang lainnya. Allah SWT membekali Nabi Adam as, berbagai pengetahuan (akal) yang jauh lebih banyak dari malaikat sekalipun, hingga dengan kemuliyaan Adam ini, 

Allah swt memerintahkan para malaikat dan iblis sujud (memberikan penghormatan) kepada Adam. Lihat Alquran surat Al-Baqarah ayat 31 – 33.

HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN

031. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"

032. Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

033. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: -

"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

3. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berpengetahuan dibandingkan orang-orang lainnya. Meninggikan derajatnya berlipat-lipat di atas orang-orang tidak beriman lagi bodoh. Ini menandakan bahwa ilmu pengetahuan sangat dipandang tinggi dalam Al-Qur'an.

4. Bukti lain. Untuk menjadi pemimpin dalam Islam, harus ada dua syarat yang dipenuhi, yaitu ilmu yang tinggi dan fisik yang sehat (Lihat surat al-baqarah ayat 247).
HUBUNGAN ALQURAN DAN KEMAJUAN IPTEK MODERN
5. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar posisi-posisi dalam suatu pekerjaan dipegang oleh orang yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Jadi pekerjaan dipegang menurut keahliaannya. Bahkan Allah lebih menghargai orang yang shalat dua rakaat dengan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan orang yang beribadah 1.000 rakaat tanpa ilmu pengetahuan.

6. Pada abad pertengahan, Yang merajai ilmu pengetahuan adalah Islam, orang-orang Kristen Eropa pun berguru kepada mereka. 

Itu terjadi ketika umat Islam pada waktu itu berpegang teguh kepada Alquran, ketika mereka mulai banyak meninggalkan ajaran Islam tiba-tiba mereka menjadi orang yang terbelakang dalam pengetahuan di salip oleh orang-orang yang sebelumnya menjadi murid mereka.

Rasulullah saw bersabda:

"Kelak akan datang suatu masa di mana kalian akan menjadi seperti makanan di atas piring yang dihadapi oleh orang-orang yang kelaparan. Maka para sahabat ra bertanya: Apakah karena jumlah kita sedikit saat itu ya Rasulullah?

Jawab Nabi SAW: Bahkan jumlah kalian sangat banyak. Tetapi kalian terkena penyakit "wahn"! Tanya para sahabat ra : Apa itu "wahn" ya Rasulullah ? Jawab Nabi SAW : Kalian cinta dunia dan takut mati."

Baca juga Komentar Ilmuwan tentang Quran

Lalu bagaimana sistem Allah menurunkan ilmunya kepada umat manusia?

Secara ringkas kita dapat gambarkan sistem Allah menurunkan ilmunya tersebut, yaitu melalui jalur formal dan jalur non formal.

Melalui jalur formal, seperti melalui wahyu (QS 3/38); kepada para Rasul (QS. 42/53); Ayat Qauliyah (QS. 55/1-2, 96/1); fungsi sebagai pedoman hidup (QS 3/19,85); kebenaran mutlak (QS. 2/147, 4/153).

Sedangkan melalui jalur non formal, antara lain: melalui pemikiran (QS. 90/5); langsung pada manusia (QS. 2/31, 55/4); Ayat Kauniyah (QS. 3/190, 41/53); fungsi sebagai sarana hidup (QS. 11/81); kebenarannya relatif dan akumulatif (QS. 10/38).

Kedua jalur itu diperuntukkan untuk manusia agar beribadah kepada Allah SWT (QS. 51/56).


Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan Dalam Islam



Sekarang kita telah tahu, betapa Islam sangat menghargai dan memperhatikan ilmu pengetahuan dan betapa kita sebagai umat Islam diwajibkan oleh Allah SWT terus belajar dan menggali berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kapasitas yang ada pada setiap diri manusia.

Islam pun telah mengatur dan menggariskan kepada umatnya supaya menjadi umat yang terbaik, baik itu dalam ilmu pengetahuan maupun, dalam peribadatannya kepada Allah SWT maupun hubungannya dengan sesama manusia agar tidak sampai salah jalan dan tersesat.

Untuk itu sebagai seorang muslim hendaknya ilmu-ilmu yang akan digali dan didapatkan bersumber dari, sebagai berikut:


1. Al-Qur'an dan as-Sunnah


Al-Qur'an dan as-Sunnah adalah pokok dari segala ilmu pengetahuan. Karena itu diwajibkan bagi setiap orang Islam mendasarkan ilmunya dari kedua sumber ini. 

Karena keduanya langsung dari Allah SWT dan dalam pengawasan-Nya. Karena itu keduanya terjaga dari kesalahan dan terbebas dari segala kepentingan apa pun.

Kewajiban mengambil ilmu dari keduanya telah dijelaskan oleh Allah SWT melalui Al-Qur'an Surat 12 ayat 1-3 dan menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal (QS. 33/21).


2. Alam semesta


Allah SWT dalam berbagai firman-Nya telah memerintahkan kita untuk merenungkan dan memikirkan segala kejadian alam semesta (QS. 3/190-192) dan mengambil berbagai hukum serta faedah darinya.

Karena segala kejadian dalam alam semesta ini adalah sunnatullah dan Al-Qur'an datang dari Allah, maka di antara keduanya terdapat kesesuaian dan keselarasan yang pasti. 


Di antara ayat-ayat yang telah dapat dibuktikan oleh pengetahuan modern adalah:



a. Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS. 41/11).

b. Ayat tentang urutan pencipataan (QS. 79/28-30): Kegelapan (nebula dari kumpulan H dan He yang bergerak pelan), adanya sumber cahaya akibat medan magnetik yang menghasilkan panas radiasi termonuklir (bintang dan matahari), 

pembakaran atom H menjadi He lalu menjadi C lalu menjadi O baru terbentuknya benda padat dan logam seperti planet (bumi), panas turun menimbulkan kondesasi baru membentuk air dan baru mengakibatkan adanya kehidupan (tumbuhan).

c. Ayat bahwa bintang=bintang merupakan sumber panas yang tinggi (QS 86/3), matahari sebagai contoh tingkat panas pada lapisan terluarnya mencapai 6000 derajat Celsius.

d. Ayat tentang teori ekspansi kosmos (QS 51/47).

e. Ayat bahwa planet berada pada sistem tata surya terdekat (sama'ad-dunya) (QS. 37/6).

f. Ayat yang membedakan planet sebagai pemantul cahaya (nur/kaukab) dengan matahari sebagai sumber cahaya (siraj) (QS 71/16).

g. Ayat tentang gaya tarik antar planet (QS. 55/7).

h. Ayat tentang revolusi bumi mengedari matahari (QS. 27/88).

i. Ayat bahwa matahari dan bulan memiliki waktu orbit yang berbeda-beda (QS 55/5) dan garis edar sendiri-sendiri yang tetap (QS 38/40).

j. Ayat bahwa bumi ini bulat (kawwara-yukawwiru) dan melakukan rotasi (QS 39/5).

k. Ayat tentang tekanan udara rendah di angkasa (QS 6/125).

l. Ayat tentang akan sampainya manusia (astronaut) ke ruang angkasa (in bedakan dengan lau) dengan ilmu pengetahuan (sulthan) (QS 55/33).

m. Ayat tentang jenis-jenis awan, proses penciptaan hujan es dan salju (QS 24/43).

n. Ayat tentang bahwa awal kehidupan dari air (QS 21/30).

o. Ayat bahwa angin sebagai mediasi dalam proses penyerbukan (pollen) tumbuhan (QS 15/22).

p. Ayat bahwa pada tumbuhan terdapat pasangan bunga jantan (etamine) dan bunga betina
(ovules) yang menghasilkan perkawinan (QS 13/3).


q. Ayat tentang proses terjadinya air susu yang bermula dari makanan (farts) lalu diserap oleh darah (dam) lalu ke kelenjar air susu (QS 16/66), perlu dicatat bahwa peredaran darah baru ditemukan oleh Harvey 10 abad setelah wafatnya nabi Muhammad SAW.

r. Ayat tentang penciptaan manusia dari air mani yang merupakan campuran (QS 76/2), mani merupakan campuran dari 4 kelenjar, testicules (membuat spermatozoid), vesicules seminates (membuat cairan yang bersama mani), prostrate (pemberi warna dan bau), Cooper & Mary (pemberi cairan yang melekat dan lendir).

s. Ayat bahwa zyangote dikokohkan tempatnya dalam rahim (QS 22/5), dengan tumbuhnya villis yang seperti akar yang menempel dpada rahim.

t. Ayat tentang proses penciptaan manusia melalui mani (nuthfah) è zygote yang melekat ('alaqah); segumpal daging/embryo (mudhghah); dibungkus oleh tulang dalam misenhyme ('idhama); tulang tersebut dibalut oleh otot dan daging (lahma) (QS 23/14).

3. Diri manusia

Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses penciptaannya, baik secara fisiologis/fisik (QS 86/5) maupun psikologis/jiwa manusia tersebut (QS 91/7-10).

4. Sejarah

Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya melalui lembar2 sejarah (QS 12/111). 

Jika manusia masih ragu akan kebenaran wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh, Hud, Shalih, Fir'aun, dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya dibenarkan dalam sejarah hingga saat ini.


Pembagian Ilmu yang Wajib di Pelajari



Ilmu yang wajib dipelajari menurut pandangan Islam dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Kelompok Ilmu yang fardhu 'ain.

Ilmu fardhu 'ain maksudnya semua ilmu yang wajib dipelajari sebagai seorang muslim, sebagai konsekwensi jika belum mengetahui dan tidak mau dipelajari maka yang bersangkutan berdosa, seperti aqidah, ibadah, tazkiyah-nafs dan lain-lain.

Kewajiban menuntut kelompok ilmu ini karena demi kehidupan pribadinya selamat di dunia dan di akhirat, dan agar kehidupan bermasyarakat juga terjaga dan berjalan dengan baik.

2. Fardhu kifayah

Setiap ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian orang pada suatu kaum, jika tidak ada seorangpu yang mempelajarinya maka berdosa seluruh kaum itu. Contohnya adalah ilmu-ilmu alam, sosial, hadis, tafsir, bahasa Arab, dan lain-lain.

Hal ini sangat sesuai dengan kondisi kebutuhan manusia, karena ilmu jenis ini tidak harus
dipelajari oleh semua orang (berbeda dengan kelompok ilmu pertama diatas), melainkan Islam menghargai spesialisasi sesuai dengan disiplin ilmu yang diminati oleh masing-masing orang.



Arah Pengembangan Ilmu



Allah SWT menggariskan secara tegas tentang arah pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam, sehingga kaum muslimin dalam kegiatan belajar dan mengajar tidak boleh sama sekali keluar dari garis ini,yaitu :

1. Bahwa Ilmu pengetahuan yang dipelajari semata untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT (QS 22/65, 16/14, 14/32-34).


Bukan untuk mendapatkan pujian orang, bukan pula untuk tujuan-tujuan yang rendah seperti sekedar untuk mencari uang, popularitas, jabatan, dan sebagainya.

2. Bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajari tidak boleh menimbulkan kerusakan pada diri sendiri, orang lain dan alam semesta (Qs. 7/56). 


Hendaknya orang yang menuntut ilmu itu sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa semua ilmu yang merusak, membahayakan dan menghancurkan itu haram dalam Islam. Karena itu Rasulullah SAW bersabda : "Tidak boleh membahayakan orang lain dan tidak boleh pula menentang bahaya."

3. Bahwa ilmu pengetahuan itu bukan ilmu yang memisahkan atau mengkotak-kotakan antara Ilmu dan agama (sekuler). 


Karena dalam Islam tidak ada yang namanya ilmu untuk ilmu atau seni untuk seni, yang dapat mengakibatkan (menjadi alasan) mereka merasa terbebas dari segala aturan dan norma agama.

Dalam agama Islam semua ilmu, seni, politik, hukum dan segala aspek kehidupan seorang muslim tidak bisa dan tidak boleh lepas dari tatanan yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Kalau tidak demikian maka keislamannya sangat patut dipertanyakan (QS 4/65).



Tanda-tanda Ilmuwan Muslim (Ulil Abab)



Bagi seorang intelektual Islam wajib mempunyai ciri-ciri atau karekteristik sebagai berikut:


1. Bersungguh-sungguh belajar (QS 3/7). Dia harus sadar hakikat segala aktifitasnya bahwa kehidupannya adalah dalam rangka pengabdian semata kepada Allah SWT, karena itu dia berupaya mengoptimalkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk maksud yang mulia demi meningkatkan taraf hidup kaum muslimin.


2. Selalu berpihak pada kebenaran (QS 5/100). Seorang muslim sangat menyadari bahwa ilmu yang bermanfaat yang didapatnya itu kesemuanya dari sisi Allah SWT. 


Allah-lah yang telah mengajarinya dan membuatnya bisa mengenal alam semesta ini. Sehingga sebagai konsekuensinya, maka ia haruslah berpihak kepada kebenaran yang telah diturunkan Allah SWT, tidak peduli ia harus berhadapan dengan para oportunis, dan tidak peduli walaupun yang berpihak kepada kebenaran itu sangat sedikit. 

Karena ia tahu bahwa saat menghadap Allah SWT kelak, masing-masing akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan walaupun kecil (QS 99/7-8).

3. Kritis dalam belajar (QS 39/18). Hendaknya dia selalu bersikap kritis pada setiap ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, tidak menerimanya secara mentah-mentah, kecuali dengan diuji kebenarannya. 


Mengingat keabsahan ilmu itu bersifat relatif dan kebenarannya bisa berubah sesuai dengan kemajuan pengetahuan manusia. 

Seperti yang sering terjadi dalam ilmu pengetahuan modern mengenai sebuah teori. Bisa saja sebuah teori pada suatu masa benar, tapi pada suatu waktu yang akan datang teori itu akan tergantikan dengan yang diaggap lebih benar. 

Tentu saja hal ini berbeda dengan kebenaran al-Qur'an yang bersifat absolut karena ia diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui akan kebenaran.

4. Menyampaikan ilmu (QS 14/52). Wajib baginya jika dia telah menuntaskan pelajarannya untuk mengamalkan dan menyampaikan ilmunya itu kepada orang lain. 


Dia harus yakin bahwa mengajarkan ilmu kepada orang lain, maka pahalanya di sisi Allah SWT tidak akan putus-putus sebagai amal jariyahnya walaupun dia sudah meninggal dan dia harus sadar bahwa menyembunyikan ilmunya maka kelak di Hari Penghisaban akan dituntut pertanggungjawabannya.

5. Sangat takut pada Allah SWT (QS 3/173). Dengan ilmu yang dimilikinya ketakwaannya atau perasaan takutnya semakin kuat kepada Allah SWT. 


Karena hanya orang yang memiliki ilmu pengetahuan saja yang takut kepada Allah SWT. 

Ketakutan ini muncul karena dengan semakin banyaknya ilmu yang dimilikinya, maka semakin banyak rahasia alam semesta ini yang tersingkap baginya dan semakin yakinlah ia akan kebenaran semua firman Allah SWT dalam kitab-Nya. 

Bukan sebaliknya, semakin pandai maka semakin jauh ia kepada Allah SWT, jika demikian halnya maka dia termasuk golongan su'ul ulama (alim jahat).

6. Bangun diwaktu malam (QS 39/9). Sebagai konsekwensi keilmuwan yang dimilikinya maka keyakinannya akan kebenaran semakin membuatnya bersemangat untuk menambah ibadahnya kepada Allah SWT. 


Bukan ibadah fardhu saja yang dilaksanakan dengan baik tapi juga menambah ibadah-ibadah sunnahnya untuk memperoleh keridhaan Allah SWT. 

Ibadahnya ditambah lagi dengan ibadah malam atau qiyamul-lail, sebab dia tahu bahwa sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dilakukan waktu malam (QS 32/16).

Alhamdulillah, akhirnya artikel yang berjudul Hubungan Qur'an dan Kemajuan IPTEK Modern  ini selesai juga dan semoga bermanfaat bagi kita sekalian.

Jangan lupa lihat Fungsi Al-Qur'an


Catatan:



Artikel ini aslinya berjudul Qur'an dan IPTEK ditulis oleh Ir. Nabiel Musawa, saya dapat dalam format PDF dan mungkin telah diposting pada AlDakwah.com (saya tidak tahu kapan tepatnya). 

Saya di sini hanya menyalinnya dengan beberapa perubahan pada susunan kalimatnya tanpa merubah maksud yang terkandung di dalamnya, supaya tidak terkesan pingin enaknya saja :D. Insya' Allah.

Setelah itu saya beri judul yang sedikit berbeda dengan aslinya, dengan judul Hubungan Alquran dan Kemajuan IPTEK Modern seperti yang anda lihat. 

Harapan saya, semoga penulis dan saya yang menyalin serta siapa saja yang mungkin terlibat dalam tulisan ini, termasuk para pembaca mendapat ridha dan pahala di sisi Allah SWT. Amin.

Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Kepada Qadha dan Qadar serta Manfaat Mengimani keduanya

Perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qadha dan Qadar

Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Kepada Qadha dan Qadar Serta Manfaat Mengimani keduanya

Percaya adanya qadha dan qadar Allah swt. merupakan bentuk keimanan seorang Muslim terhadap salah satu dari rukun iman yang lima.

Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Kepada Qaha dan Qadar


Kemudian keimanan yang sudah kita yakini, haruslah dapat kita buktikan dalam setiap aktifitas kehidupan sehari-hari. Ini adalah bentuk pengamalan dari keyakinan itu. Jadi tidak hanya diucapkan atau dihayati saja.

Berikut ini beberapa bentuk bukti keimanan terhadap qadha dan qadar Allah swt. yaitu:

a. Berjiwa qana’ah yakni sikap rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang.

b. Berani menghadapi persoalan hidup karena yakin semua yang dialami adalah ujian dari Allah swt.

c. Senantiasa berprasangka baik kepada Allah swt ketika menghadapi kesulitan hidup.

d. Memiliki keberanian dalam berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan karena yakin bahwa hidup dan mati ada pada kuasa Allah swt.

e. Memiliki jiwa yang tenang, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik 

f. Cukup tenteram hidupnya karena merasa bahwa dirinya selalu dekat dengan Allah swt.

g. Mampu mengendalikan dirinya disaat duka maupun suka.

Manfaat Iman Kepada Qadha dan Qadar


Adapun Manfaat Iman Kepada Qadha dan Qadar, antara lain:

a. Sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah swt dan tawakkal

b. Pandai bersyukur dan tidak mudah sombong. Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan selalu mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt kepada dirinya.

c. Yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah swt. maka orang yang percaya qadha dan qadar Allah swt akan menerima dengan kelapangan hati atas segala yang menimpa dirinya.

Demikianlah uraian singkat tentang Perilaku yang Mencerminkan Keimanan kepada Qadha dan Qadar serta Manfaat Mengimani Keduanya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi admin dan para sidang pembaca yang mulia sekalia.

Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?

Siapakah Para Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang beliau riwayatkan dari Allah Azza wa Jalla yang berfirman,

من عادى لى وليا فقد اذنته بااحرب, وما تقرب الي عبدي بشيء احب الي
مماافترضته عليه, وما يزال عبدى يتقرب الي بالنوافل حتى احبه, فءذا
 أحبته كنت سمعه الذي يبصر به, ويده التي يبطش بها, ورجله التي يمشي
بها, وان سألني لأعطينه, و لءن استعاذني لأعيذنه

(Man ‘aadaa lii wa liyyan faqod aadzantuhu bilharbi, wa maa taqorraba ilaiya ‘abdii bisyai-in ahabba ilaiya mimmaftaradhtuhu ‘alaihi, wa maa yazaalu ‘abdii yataqorrabu ilaiya binnawaafili hattaa uhibbahu, faidzaa ahbabtuhu kuntu syam’ahulladzii yasma’u bihi, wa basharahulladzi yubshiru bihi, wayadahullatii yabthisyu bihaa, wa rijlahullatii yamsyii bihaa, wa in sa-alanii la’ukthiyannahu, wa la-inista’adzanii la-u’iidzannahu).

Artinya: “Siapa memusuhi wali-Ku, Aku mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.  Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku  dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya dimana ia mendengar dengannya, Aku menjadi matanya dimana ia melihat dengannya, Aku menjadi tangannya dimana ia bertindak dengannya, dan Aku menjadi kakinya dimana ia berjalan dengannya. Jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, Aku pasti memberi permitaannya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Hadis Qudsi di atas menyatakan kepada kita keutamaan wali Allah di sisi-Nya dan di sisi manusia. Bahwa kita tidak boleh membenci dan memusuhi wali-wali Allah tersebut. Siapa yang membenci mereka maka Allah dan Rasul-Nya akan membenci orang-orang yang membenci itu.

Bahkan dikatakan, siapa membenci wali-wali Allah maka amal ibadah yang dilakukannya itu tidak bermakna di mata Allah Azza wa Jalla. Maka barangsiapa yang ibadahnya mau diterima oleh Allah dan mendapat cinta-Nya maka hilangkanlah semua kebencian dan ketidaksenangan dari dalam hati terhadap para wali Allah itu.

Mereka (para wali) diberikan keutamaan seperti itu, karena kecintaan mereka dan semangat mereka malakukan segala amal ibadah kepada-Nya, dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan (baik yang wajib maupun sunnah) dan menjauhi semua yang dilarang-Nya, sehingga Allah mencintai mereka dan memberikan mereka karomah-karomah yang tidak diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang lain.

Siapakah wali-wali Allah itu?

Setiap orang mukmin dan bertakwa adalah wali Allah Ta’ala, hanya saja tingkatan mereka berbeda tergantung kepada ketakwaan mereka, dan keimanan mereka. Siapa saja yang iman, dan ketakwaannya sempurna, maka kedudukannya di sisi Allah Tinggi, dan karomahnya lengkap.

Pemimpin para wali adalah para rasul, dan para nabi, dan sesudah mereka adalah kaum mukminin.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat 62 sampai 64 sebagai berikut:


Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Dalam QS. Ali Imran ayat 37, Allah Ta’ala berfirman:


Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


“Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’.”

Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadis-hadis serta berita-berita yang beredar di kalangan umat Islam yang memberitakan tentang keberadaan dan keutamaan para wali Allah ini beserta karomah-karomah yang dianugerahkan Allah kepada mereka.

Karena itu sebagai Muslim harus beriman bahwa Allah Ta’ala mempunyai wali-wali dari hamba-hamba-Nya yang Dia pilih untuk beribadah kepada-Nya, menjadikan mereka taat kepada-Nya, memuliakan mereka dengan memberikan cinta-Nya kepada mereka, dan memberikan karomah-karomah-Nya kepada mereka.

Mari kita mencintai para wali Allah dan para ulama yang benar (bukan ulama setan), jauhkanlah prasangka buruk kepada mereka dan kalau ada yang tidak disukai hilangkanlah kebencian itu dari dalam hati, kemudian tancapkanlah dalam hati kecintaan kepada mereka, karena Allah dan Rasul pun mencintai dan membanggakan mereka. 

Ingatlah kebencian kepada mereka itu dapat menjadi sebab semua ibadah yang kita lakukan tidak diterima oleh Allah. Bukankah Allah akan memerangi mereka yang membenci wali dan ulama-Nya.

Kemudian supaya kita juga mendapatkan cinta dari Allah, mari kita amalkan hadis qudsi di atas. Lakasanakan semua kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan oleh agama dengan sebaik-baiknya. Seperti shalat fardlu lima waktu, puasa ramadhan, menunaikan najar dan sumpah yang telah kita ucapkan dan segala amal ibadah yang menjadi sebab tertentu menjadi ibadah wajib.

Tapi kita harus sadar ibadah wajib ini tidak cukup untuk mendapatkan cinta dari Allah, sebab ibadah wajib atau fardlu merupakan kewajiban yang dipaksakan oleh agama dan harus kita jalankan. Karena itu Allah masih hanya mencintai sebatas ibadah yang kita lakukan.

Untuk mendapatkan cinta dari Allah secara sempurna, maka kita harus banyak dan terus menerus mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan ibadah-ibadah sunnah (setelah menyelesaikan yang fardlu) hingga Allah menganugerahkan cinta-Nya kepada kita. 

Ibadah sunnah itu banyak seperti shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, bersedekah dan masih banyak lagi.

Baca HIKMAH SHALAT SUNNAH


Untuk bisa melaksanakan semua itu, Hanya kepada Allah jualah kita memohon pertolongan dan kemantapan hati. Semoga Allah Yang Mahapenyayang dan Mahapengasih memberikan pertolongan dan menancapkan himmah atau ketetapan hati yang kuat kepada kita untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.

NIAT DALAM SHALAT

NIAT DALAM SHALAT

Dalam shalat, niat merupakan salah satu rukun baik pada shalat fardlu maupun dalam shalat sunah.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya (semua) perbuatan (amal) itu sangat bergantung (kesahihannya dan kesempurnaannya) kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuatu yang (sesuai) dengan niatnya......" (HR. Imam Bukhari, hadis sahih).

Niat harus dihadirkan atau dicangkam dalam hati bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Menurut pendapat tiga Imam Madzhab lain, boleh mendahulukan niat atas takbir dalam selang waktu yang pendek. 

Sangat penting untuk diketahui, setiap orang yang hendak mengerjakan shalat, wajib memperhatikan kesucian tubuh, pakaian dan tempat shalatnya (dikerjakan dalam keadaan suci), sudah masuk waktu (untuk shalat fardlu) dan menghadap kiblat. Kemudian melakukan niat shalat yang hendak dikerjakannya itu dan mengucapkan takbir.

Kalau salah satu dari hal-hal tadi yang kita sebutkan tidak dilakukan, niscaya tidak memadai atau tidak sah shalatnya.

Hal-hal wajib dalam melakukan niat shalat fardlu, adalah:

1. Qoshdul fi'li, artinya harus atau wajib menyengaja melakukan shalat. Ini dimaksudkan untuk memisahkan perbuatan shalat dengan perbuatan-perbuatan lain di luar shalat. Itu sebabnya kalau sudah masuk dalam shalat tidak boleh mengerjakan hal-hal lainnya yang bukan gerakan dan ucapan shalat. Kalau ini tetap dilakukan dengan sengaja maka batallah shalatnya.

2. Ta'yiin, artinya pernyataan jenis shalat. Misalnya kalau lagi melaksanakan shalat dhuhur maka ta'yiin-nya adalah shalat dhuhur bukan salat yang lainnya.

Jika ada yang berniat dengan menyebutkan kefardluan secara umum tanpa kedua unsur di atas maka niatnya tidak cukup.

Umpamanya ketika mendirikan shalat isya', orang harus berniat dengan mengucapkan: "Ushalli fardha Al-'Isyaa'i arba'a raka'aatin lillahi ta'ala, artinya aku sengaja melakukan shalat fardlu 'Isya' empat rakaat karena Allah Ta'ala.

Pada shalat-shalat sunnah rawatib, shalat-shalat sunnah yang ditentukan waktunya atau yang mempunyai sebab, maka selain ta'yiin wajib juga menyebutkan penyebabnya. Misal ketika melakukan shalat sunah dhuhur kita wajib menyebutkan shalat sunah dhuhur - baik qabliyyah (sebelum fardlu duhur) maupun ba'diyyah (setelah selesai shalat fardlu dhuhur). Dhuhur itu adalah penyebab melakukan shalat sunat baik qabliyyah maupun ba'diyyah.

Untuk shalat sunnah muthlaq, 2 raka'at tahiyatul masjid, sesudah wudlu, dan istikharah tidak diwajibkan ta'yin. Jadi memadailah shalat hanya dengan niat melakukan shalat. Untuk shalat sunnah Awwabin ada dua pendapat ada yang mengharuskan ta'yin ada pula yang tidak, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Fathul Mu'in.  

Untuk shalat sunat rawatib qabliyyah, kalau mau dapat pula dikerjakan setelah selesai melakukan shalat fardlu. Hal ini terjadi karena seseorang tidak sempat mengerjakannya karena terlambat sementara Imam dan makmum sudah masuk mengerjakan shalat fardlu berjamaah.

3. Dalam shalat fardlu, wajib niat fardlu, sekalipun fardlu kifayah atau fardlu sebagai nazar walaupun yang mengerjakan shalat itu anak kecil, untuk membedakannya dengan shalat sunnah. Ini artinya pada shalat sunnah tidak diwajibkan untuk membaca kesunahan salat. Contoh dalam menyatakan kefarduan: Ushallii fardha al-'Isya'. Sedangkan pada shalat sunnah misalnya cukup mengatakan, Ushallii ad-dhuha.

Disunnahkan dalam melakukan niat shalat untuk menyandarkan niatnya kepada Allah swt agar tampak dan terbit keikhlasan itu, karena itu pula ada ulama yang mewajibkan penyandaran ini dalam niat.

Jika salat yang dilakukan itu salat berjamaah, baik fardu maupun sunat, maka harus ditambah rukun keempat, yaitu berniat untuk berjamaah atau mengikuti iman (iqtidaa'an atau ma'muuman).

Jika imam tidak berniat - dengan tegas - menjadi imam, maka salatnya sah dan dia (hanya) dinilai melakukan shalat munfarid (sendirian), sehingga tidak mendapatkan pahala berjamaah dan pahala menjadi imam.

Nabi Muhammad saw., bersabda: "Sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapat apa yang dia niatkan." Jika dia tidak berniat menjadi imam, maka dia tidak mendapatkan pahala sebagai imam. Sementara orang-orang yang di belakangnya salatnya sah sebagai jamaah dan mendapatkan pahala berjamaah.

Kesunahan lain dalam melakukan niat shalat adalah menyertakan unsur pengarahan (Ta'arudl), apakah shalat yang dilakukannya itu Adaa' atau Qadla.

Tetap sah shalat walaupun shalat Adaa' dibaca niat Qadla atau sebaliknya karena sebab dia tidak mengetahui masuknya waktu shalat karena terhalang oleh sejenis kegelapan awan. Kalau tidak terhalang maka tidak shah karena dianggap mempermainkannya.

Kesunahan berikutnya dalam niat adalah Ta'arrudl menghadap Qiblat dan bilangan raka'at.

Bila orang yang sedang mengerjakan shalat ragu - sudahkan niat dengan sempurna apa belum, atau niat shalat 'Ashar apakah Dhuhur - maka jika ia ingat kembali setelah tempo yang cukup lama atau sesudah menunaikan satu rukun shalat sekalipun yang berupa ucapan (Al-Fatihah) maka shalatnya batal. Tapi jika dia ingat sebelum rukun itu, shalatnya tetap shah.

Tambahan

Kalau ada orang pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, kemudian sebelum atau ketika keluar rumah dia mengucapkan niat, maka niatnya itu tidak cukup/sah untuk melakukan salat. Tapi nanti ketika di masjid dia harus berhenti sejenak untuk menghadirkan niat dalam hatinya.

Karena niat yang diucapkan ketika keluar rumah menuju masjid merupakan pekerjaan khusus dan tidak termasuk niat yang wajib dilakukan ketika takbiratul ihram.

Nabi saw bersabda:

"Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu pergi ke salah satu rumah Allah (mesjid) untuk melaksanakan salat fardu yang ditetapkan Allah, maka dua langkah yang dilangkahkan itu, yang satu menghapuskan suatu dosa, sedang yang satu lagi mengangkat satu derajat." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Imam Nawawi dalam Ar-Rawdah mengatakan, "Niat itu wajib dilakukan pada takbiratul ihram."

Sedangkan Ibn Al-Mundzir dalam kitab Al-Ijma' mengatakan, "Mereka - ulama - sepakat bahwa shalat itu tidak cukup kecuali dengan niat."

Jadi, siapa yang tidak menghadirkan niat dan mengingatnya dengan hatinya ketika bertakbiratul ihram, maka salatnya tidak sah.

Adapun melafalkan niat sebelum takbiratul ihram itu hukumnya sunat, baru setelah itu mengucapkan takbiratul ihram sambil menghadirkan niat di dalam hati. Mengucapkan niat sebelum takbir supaya hati mudah konsentrasi ketika bertakbir.

Jika seseorang bertakbir dan ia tidak meniatkan suatu shalat yang tertentu, kemudian ia melakukan niat, maka tidak sah shalatnya. Karena ia sudah masuk kepada shalat yang tidak ditujukannya maksud kepada shalat itu dengan niat.

Tapi kalau ia yakin bahwa ia telah masuk dalam shalat dengan niat, kemudian ia ragu, adakah ia masuk dalam shalat itu dengan niat atau tidak, atau ragu-ragu apakah shalat yang diniatkannya betul atau tidak (dhuhurkah atau asarkah) maka kalau teringatnya itu belum sampai mengerjakan sesuatu dalam shalat atau belum sampai memasuki rukun (bacaan Al-Fatihah), maka shalatnya tetap sah.

Jika orang yang sedang melakukan salat memutuskan niat salatnya di tengah-tengah pelaksanaan salat, yakni dia bermaksud sungguh-sungguh ('azam) untuk keluar dari salatnya, maka batallah salatnya meski dia tidak jadi keluar sebab dia telah membatalkan niatnya.

Demikian pula, jika seseorang yang sedang melaksanakan shalat itu ragu-ragu antara keluar dan melanjutkan salatnya, maka batal pula salatnya, meski dia tidak jadi keluar sebab dia pun telah membatalkan niatnya. Hal ini terjadi karena ada seorang tamu datang mengetuk pintu sementara dia sedang salat, atau sebab lainnya.

Jika seorang teman berjanji akan datang ke rumah kita pada waktu tertentu, lalu kita berkata dalam hati, "Jika dia datang ketika aku sedanga shalat, maka aku akan memutuskan salatku dan dia akan kusuruh masuk. Tapi jika dia tidak datang, maka aku akan menyempurnakan salatku.

Sebenarnya pelaksanaan cara salat seperti itu tidak sah karena tidak mempunyai niat yang pasti. Bahkan kita mempunyai maksud untuk memutuskannya. Karena itu, tetapkanlah hati untuk betul-betul berniat untuk mengerjakan salat.

Sikap ragu-ragu di tengah-tengah shalat - akan keluar atau tidak dari pelaksanaan shalat - dapat membatalkan salat. Allah berfirman, Dan janganlah kamu membatalkan ama-amal kalian (QS. Muhammad: 33).

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., "Jika kamu melaksanakan shalat fardu, maka jangan keluar darinya (untuk menuju) kepada (pekerjaan) lain." (HR. Thabrany).

Para ulama mengatakan bahwa Ibn Mas'ud r.a. tersebut berhubungan dengan ayat di atas. Dengan itu para ulama berkesimpulan atas haramnya memutuskan segala ibadah yang fardu, seperti shalat fardu, shaum fardu, serta lainnya.

Tapi para ulama membolehkan - meskipun dinilai makruh - untuk membatalkan ibadah sunat dengan berbagai dalil atau alasan.

Dalam sebuah hadis, Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa suatu hari Rasulullah saw. mendatanginya. Dia berkata, "Wahai Rasulullah, kita dihadiahi hais (semacam makanan). Lalu Rasulullah saw. bersabda, Berikanlah makanan itu padaku, meskipun tadi pagi aku telah berniat shaum - puasa sunat," lalu beliau saw. pun memakan makanan tersebut. (HR. Imam Muslim dan lain-lainnya).

Tidak sah pula shalat seseorang yang melaksanakan salat sebelum waktunya. Kalau dia ingat kemudian bahwa dia melakukan shalat tidak memenuhi waktunya, maka shalatnya tersebut (terutama fardu) wajib diulang. Berbeda jika seorang yang awam melaksanakan shalat sebelum waktunya itu maka sah salatnya, kalau itu salat sunat, tapi tetap batal kalau yang dilakukannya itu fardu.

Demikian pula, jika dia mengetahuinya ketika bertakbiratul ihram, maka batal pula shalatnya karena syarat (untuk sah) shalat adalah tepat pada waktunya.

Baca Cara Mencapai Khusuk Dalam Shalat.

Buku sumber:

Al-Umm
Fathul Mu'n
Shahih Shifat Shalaat an-Nabiy : Hasan bin 'Ali As-Saqqaf

Semoga para ulama yang menulis kitab-kitab di atas mendapat ampunan, ridha dan kasih sayang dari Allah SWT begitu pula bagi para penerjemah yang telah bersusah payah menerjemahkan kitab-kitab tadi. Amiin.

Ciri-ciri Orang Yang Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Ciri-ciri Orang Yang Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Apa saja ciri-ciri perilaku orang yang beriman kapada qada dan qadar ? Berikut adalah jawabannya.

1. Senantiasa melakukan ikhtiar untuk meraih keberhasilan

Ikhtiar adalah segala upaya seseorang untuk meraih atau menggapai sesuati, atau ke arah hidup yang lebih baik.

Adanya takdir tidak membuat mereka malas berusaha, justeru membuat mereka semakin bersemangat.

Memang ada takdir yang sifatnya tetap dan sudah pasti, seperti kematian seseorang, namun ada pula takdir yang dapat diubah dengan cara ikhtiar dan doa , seperti prestasi dan kekayaan.

2. Senantiasa tawakkal kepada Allah swt.

Tawakkal setelah ikhtiar dilakukan dengan baik atau semaksimal mungkin.

Sikap tawakkal merupakan kesadaran diri bahwa apapun upaya yang kita lakukan maka hasilnya adalah terserah kepada keputusan Allah swt.

Manusia harus betul-betul sadar akan kelemahan dan keterbatasan dirinya dan adalah dia harus yakin bahwa apa pun hasilnya semata-mata atas kehendak Allah SWT.

Artinya: "...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (al-Imran ayat 159).

3. Ridha dan Ikhlas terhadap segala keputusan Allah swt.

Ridha dan ikhlas menerima segala apapun bentuk keputusan Allah yang diberikan kepada kita. Bahwa pemberian itulah yang terbaik bagi kita. 

Kalau kita mendapatkan yang terbaik tidak lantas membuat hati menjadi sombong dan membangga-banggakan diri. Dan kalau apa yang kita usahakan dan minta belum ada hasilnya maka tidak akan pernah dihinggapi rasa putus asa.

Bersyukurlah yang banyak atas nikmat yang telah engkau terima, niscaya Allah swt. akan menambah dan melipat gandakan nikmat yang diberikan-Nya kepadamu.

Sesungguh Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (al-Kahfi ayat 7).

Perhatikanlah Surat al-Kahfi ayat 7 di atas. Orang yang percaya terhadap takdir pasti yakin sepenuhnya bahwa segala macam bentuk, baik itu kesenangan dunia seperti harta, keturunan, dan kedudukan maupun penderitaan serta kemalangan semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT dan itu semua adalah alat penguji kualitas keimanan dari hamba-hamba-Nya.

Orang-orang yang ridha terhadap semua ketentuan dan kehendak Allah Swt adalah wajib hukumnya dan merupakan tanda keimanan yang sempurna pada diri seseorang. Dengan memiliki sikap seperti ini maka akan melahirkan akhlak-akhlak mulia dan terpuji lainnya. Hilanglah sikap congkak dan sombong yang ada pada dirinya kemudian muncullah sifat yang selalu ingin menghargai orang lain.

4. Tabah hati dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar Allah, tidak akan pernah atau tidak akan mudah untuk mengeluh dan menyesali nasib sulit yang telah menimpanya dan tidak terlalu merasa bersedih dalam menghadapi cobaan dan takdir Allah swt. Ketabahan itu selalu diperkuat dalam hatinya untuk menghadapi semua musibah yang menimpanya, karena dia yakin bahwa kesabaran dan ketabahannya itu akan membuahkan hasil yang lebih baik di sisi Allah swt dari apa yang diinginkannya di dunia ini.

Buah dari ketabahan dan kesabarannya di dunia adalah dia tidak akan menyerah dan putus asa. Dia akan merasa wajar saja menghadapi semuanya. Dia akan tetap menghadapi hidup dengan semangat dan bergairah walaupun kesulitan mendera dirinya. Karena sekali lagi dia sangat menyakini semua cobaan itu datang dari Allah swt untuk mengujinya, apakah dia pantas menjadi salah satu hamba yang ditinggikan derajatnya di antara hamba-hamba-Nya yang shalih.

Setiap kesedihan dan benih putus asa menyusup ke hatinya, dia akan selalu mengingat firman Allah swt Surah Al Hadid ayat 22-23 di bawah ini.

Artikel Terkait: Pengertian Qada dan Qadar.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ikatlah Jiwa dengan Kendali

Ikatlah Jiwa dengan Kendali
Wahai saudaraku, ikatlah jiwa dengan kendali, jauhkan hati dari dosa, dan bacalah lembar pelajaran dengan lisan pemahaman! Wahai pengabai ajal dan pengedepan angan, wahai pemberani dalam berbuat jahat! Sadarlah , wahai pelelap! 

Betapa banyak tahun yang kausia-siakan. Seluruh mimpi yang tak nyata. Tua, tetapo akalmu seperti anak kecil. Tidakkah kau mengerti, penakluk nafsulah pemberani sejati. Kelalaian telah memuncak dan bencana semakin dekat. Inna lillah wa inna raji’un.

Suatu ketika Nabi Isa a.s. melewati sebuah kampung dan mendapati semua penduduknya mati berserakan di tanah. Ia terkejut lalu berkata, “Wahai para hawari, mereka mati dalam kondisi marah dan murka. Seandainya mereka mati dalam keadaan rida kepada Allah, tentu mereka saling menguburkan.” 

Para hawari bertanya, “Wahai Ruhullah, kami ingin mengetahui kabar dan keadaan mereka.” Nabi Isa a.s. lalu berdoa kepada Allah Swt. dan mendapat wahyu: “Bila malam telah tiba, panggillah mereka! Mereka akan menjawab panggillanmu.”

Kala malam tiba, Nabi Isa a.s. naik ke sebuah tempat tinggi dan berseru, “Wahai penduduk kampung!” Ternyata seseorang di antara mereka menjawab, “Ya, kami terima panggilanmu, wahai Ruhullah.” Isa a.s. bertanya, “Bagaimana kabar kalian.” Orang itu menjawab, “Wahai Ruhullah, sebelumnya kami baik-baik saja, namun kemudian kami mendapat bencana.”

“Bagaimana bisa terjadi?”

“Kami terlalu cinta dunia, taat kepada ahli maksiat, tidak memerintahkan kebaikan , dan tidak mencegah kemungkaran.”

“Bagaimana cinta kalian terhadap dunia?”

“Seperti anak kecil yang mencinta ibunya. Jika sang ibu datang, anak sangat gembira, dan jika pergi, ia sedih dan menangis.”

“Wahai fulan, mengapa yang lain tidak memenuhi panggilanku?”

“Mereka diikat dengan kekang neraka oleh para malaikat yang keras dan kasar.”

“Lalu, bagaimana engkau bisa memenuhi panggilanku?”

“Aku tidak termasuk di antara mereka tetapi berada di tengah-tengah mereka. Ketika azab menimpa mereka, aku pun ikut tertimpa. Sekarang aku tergantung di tepi jurang neraka. Aku tidak tahu apakah akan selamat atau jatuh.”

Semoga Allah Swt. melindungi kita dari neraka.

Wahai penghabis umur dengan melanggar batas, tangisilah musibah yang menimpamu! Bisa jadi engkau tertolak. Wahai yang usianya telah berlalu-sementara masa lalu tidak kembali, sejumlah nasihat sebagai petunjuk telah kau terima, uban sudah memberitahumu bahwa engkau akan mati, dan lisan pelajaran menyeru, “Wahai manusia, engkau betul-betul bersusah payah menuju Tuhan.”

Ketika masa hubungan dan keridaan telah lewat engkau
meminta yang sudah berlalu kembali
Bukankah sudah Kudatangi dan Kutawarkan jalinan?
Uban putihmu pun begitu terang dari berbagai sisi.

Wahai saudaraku, inilah saatnya kembali, meminta ampun, dan meninggalkan dosa.

“Barangsiapa mencapai usia empat puluh tahun, sementara kebaikan tidak mengalahkan keburukannya, bersiap-siaplah ke neraka.”

Kudatangi Engkau dengan penuh harap, wahai Tuhan
Lepaskanlah, seperti yang kau lihat, buruknya keadaanku
Aku telah mendurhakai-Mu dengan kebodohanku
Aibnya dosa tidak pernah terlintas dalam benakku
Kepada siapa lagi hamba mengadu selain Engkau Sang
Penguasa seluruh alam, Tuhanku?
Celakanya diriku! Andai saja ibu tidak melahirkanku dan di
kegelapan malam aku tidak mendurhakai-Mu
Inilah aku, hamba-Mu yang bersalah wahai Tuhan Yang
Mahaagung, berdiri di pintu-Mu
Jika Engkau menghukumku, wahai Tuhan azab dan siksa
memang pantas untukku
Jika Kaumaafkan aku, ampunan-Mu sungguh kuharapkan
Dengan maaf-Mu, menjadi baiklah buruknya keadaanku.

Allah Swt. berfirman, “Wahai hamba-Ku, tidakkah engkau tahu bahwa Akun menciptakan dunia sebagai tempat beban dan ujian? 

Bukankah engkau tahu bahwa Aku hanya memberikan kedudukan baik dan mulia kepada orang yang bertobat kepada-Ku dari dosa dan kesalahan? 

Mengapa engkau tidak mendatangi pintu-Ku, Tidak mengharap limpahan karunia dan pahala-Ku, serta tidak takut akan siksa dan hukuman-Ku?”

Wahai yang begitu lalai dan alpa, perhatikanlah kasih dan karunia Tuhan kepadamu!

Lenyapkanlah beban dosa di punggungmu dengan tobat! Datanglah dengan hatimu kepada Yang Maha Mengetahui segala hal tersembunyi! 

Cucilah wajahmu dengan linangan air mata! 

Pakailah busana kerendahan dan ketundukan!

Kulakukan berbagai dosa hingga memenuhi kehinaan
Air mataku pun mengalir dengan begitu derasnya
Aku mengecam hati yang telah sadar
Kepada siapa hamba akan mengadu bila tidak kepada
Tuannya, Sang Penguasa seluruh hamba?

Kemurahan-Mu, wahai Pemelihara arasy, tentu lebih utama.

Artikel sebelumnnya: Wahai saudara-saudaraku yang lalai.

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram

Takdir Mubram yaitu ketentuan Allah yang sudah pasti dan tidak dapat diubah.

Contoh: kematian seseorang, datangnya Hari Kiamat, jodoh dan jenis kelamin.

Dalam masalah hidup dan mati manusia sama sekali tidak bisa merencanakan. Umur tidak dapat diperpanjang maupun di perpendek, apalagi sampai menolak kematian.

Dalam Alqur'an Allah SWT telah menjelaskan:

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram

"Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.

Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka menyatakan ini, dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan "ini dari engkau (Muhammad)."

Katakanlah, semuanya datang dari sisi Allah."

Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun) ?" (Q.S. an-Nisa [4] : 78).

Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan:

Pengertian dan Penjelasan Takdir Mubram


"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang dikehendaki Allah." "Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (Q.S. Yunus [10] : 49).

Jadi takdir mubram itu pasti terjadi. Tidak ada kekuatan yang dapat menolaknya.

Setinggi apa pun ilmu manusia tidak mengalahkan ilmu Allah SWT,

secanggih apa pun teknologi manusia tidak mengalahkan teknologi Allah,

dan setinggi apa pun kekuasaan manusia tidak bisa mengalahkan kekuasaan Allah SWT.

Baca: Pengertian Qada dan Qadar.