Aliran Sesat Ahmadiyah 2

Aliran Sesat Ahmadiyah 2

Kembali ke soal kitabTazkirah yang diyakini sebagai kitab samawi oleh orang-orang tersesat ini. Kitab ini tiada lain isinya banyak meniru-meniru alias mambajak ayat-ayat yang terdapat dalam kitab samawi yang orisinil yakni kitab suci Al-Qur’an. Umpamanya, ketika mereka membicarakan kenabian dan kerasulan, nabi palsu mereka. Mereka akan mengutipnya dari Tazkirah, yang artinya, “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.” (Tazkirah hal. 621).

Berdasarkan "ayat" kitab suci Ahmadiyah "Tadzkirah," bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al-Qur'an, dibatalkan dan diganti oleh "nabi" orang Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad.

Beberapa contoh ayat-ayat lain yang dibajak adalah:


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab suci "Tadzkirah" ini dekat dengan Qodian-India. Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun." (hal. 637)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Katakanlah wahai Mirza Ghulam Ahmad-"Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku." (hal. 630)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Dan kami tidak mengutus engkau wahai Mirza Ghulam Ahmad kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (hal. 634)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad "- Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, hanya diberi wahyu kepadaku." (hal. 633)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu "wahai Mirza Ghulam Ahmad"- kebaikan yang banyak." (hal. 652)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Sesungguhnya kami telah menjadikan engkau -wahai Mirza Ghulam Ahmad -imam bagi seluruh umat manusia." (hal.630)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Oh, Pemimpin sempurna, engkau wahai Mirza Ghulam Ahmad- seorang dari rasul-rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh yang maha kuasa, yang rahim."(hal. 658-659)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam lailatur qodar."(hal.519)


Firman "tuhan" dalam kitab suci "Tadzikrah":
"Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allahlah yang melempar. (Tuhan yang maha pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur'an."(hal.620)


Itulah sebagian kecil contoh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibajak. Dan si pendusta – nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad mengatakan kepada pengikutnya bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu yang diterima dari “tuhannya” di India.

Pandangan Dunia Islam terhadap Aliran Ahmadiyah


Mayoritas Umat Islam di berbagai negara Islam dan non Islam beraggapan bahwa aliran Ahmadiyah merupakan alirat sesat, menyimpang dan keluar dari Islam. Demikian pula halnya dengan umat Islam di negara Indonesia tercinta, menghukumi mereka (Ahmadiyah) sesat dan kafir. Coba perhatikan KUHP di bawah ini.

Pada kitab Undang-Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb: PASAL 56 a:
Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099 /84 tanggal 20 September 1984, a.l. :

- Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak 18 Juni 1975.
- Brunai Darus Salam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunai Darus Salam.
- Rabithah 'Alam Islamy yang berkedudukan di Makkah (organisasi keagamaan Islam Internasional) telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan keluar dari Islam.
- Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan tidak boleh pergi haji ke Makkah.
- Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah golongan minoritas non muslim.

Demikian pula pernyataan yang dikeluarkan oleh BALITBANG DEPAG RI, Jakarta, 1995 hal. 19, 20, 21 : Mirza Ghulam Ahmad mengaku telah menerima wahyu, dan dengan wahyu itu dia diangkat sebagai nabi, rasul, al masih mau'ud dan imam mahdi. Ajaran dan faham yang dikembangkan oleh pengikut jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits yang menjadi keyakinan umat Islam umumnya, antara lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad sesudah Rasulullah saw.
Kesimpulan dan penutup

Aliran Ahmadiyah dan para pendukung dan pengikutnya adalah aliran sesat dan menyesatkan yang secara nyata keluar dari ajaran dan akidah Islam yang sebenarnya. Paham sesat ini diajarkan dan didirikan oleh nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad dan mengaku mendapat wahyu dan “kitab suci” Tazkirah dari tuhannya. Jamaatnya mengakui dia sebagai nabi dan rasul terakhir (ke-26 setelah Rasulullah shallallahu alahi wa sallam) yang harus mereka imani.

Dan untuk mengakhiri tulisan ini mari kita kutip firman Allah Ta’ala dalam kitab suci Alqur’an Surat Al-Baqarah : 79, yang artinya, “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikatakannya: "Ini dari Allah,"(dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan."

Demikianlah semoga tulisan atau postingan tentang aliran sesat Ahmadiyah ini, dapat menambah khazanah pengetahuan kita, sehingga kita dapat menghindari diri dan keluarga kita dari aliran ini dan aliran-aliran sesat lainnya. Amin ya rabbi.


Baca Artikel Sebelumnya: Aliran Sesat Ahmadiyah 1

Tulisan saya ini, tapi dengan gaya dan susunan penulisan yang berbeda dengan aslinya, bersumber dari:

Laporan: LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Read more

Aliran Sesat Ahmadiiyah 1

Aliran Sesat Ahmadiyah


Ahmadiyah sebagai perkumpulan atau Jema'at didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qodiyan, India (sekarang Pakistan) tahun 1889, yang karena perbedaan pandangan tentang penerus kepemimpinan dalam Ahmadiyah dan ketokohan pendirinya berkembang dua aliran, yaitu Anjuman Ahmadiyah (Ahmadiyah Qodiyan) dan Anjuman Ishaat Islam Lahore (Ahmadiyah Lahore). Kedua aliran tersebut mengakui kepemimpinan dan mengakui ajaran serta faham yang bersumber pada ajaran Mirza Ghulam Ahmad. 

Jema'at Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1920-an dengan menamakan diri Anjuman Ahmadiyah Qodiyan Departemen Indonesia dan kemudian dinamakan Jema'at Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dikenal dengan Ahmadiyah Qodiyan, dan gerakan Ahmadiyah Lahore (GIA) yang dikenal dengan Ahmadiyah Lahore. 

Ahmadiyah merupakan aliran sesat yang menyusup sebagai duri di tubuh Islam, sebabnya Ahmadiyah menganggap dirinya sebagai bagian dari Islam, padahal antara keduanya jauh api dengan panggang. Cukuplah satu dalil saja sebagai pembuktian bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari agama Islam yaitu pengakuan mereka tentang adanya nabi setelah penutup para nabi dan rasul, Nabi Muhammad saw. Jadi jika Islam wajib percaya kepada 25 Nabi dan Rasul, Ahmadiyah percaya 26 orang.

Aliran Ahmadiyah Qodiyan menyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul yang ke-26 setelah Rasulullah saw. Dan mengimami pula Tazkirah sebagai kitab suci bagi mereka. Hayal mereka digiring oleh Mirza untuk menyakini Tazkirah sebagai kitab suci yang diwahyukan oleh Allah kepadanya dan harus disampaikan kepada mereka, sehingga mereka tersesat dan menyimpang jauh dari kemurnian akidah Islam yang sebenarnya. Tazkirah oleh mereka dipandang memiliki kesucian yang sebanding dengan Al-Qur’an, bahkan kitab suci palsu ini ternyata lebih tebal dari kitab suci Al-Qur’an sendiri. Tazkirah merupakan “kitab suci” yang ke-5 yang harus diyakini dalam ajaran Ahmadiyah Qodiyan ini, disamping Zabur, Taurat, Injil, dan Alqur’an.

Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qodiyan di India. Mereka mengatakan, "Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji Akbar ke Qodiyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qodiyan adalah haji yang kering lagi kasar." Selama hidupnya, nabi palsu Mirza tidak pernah pergi haji ke Makkah. 

Kelompok Ahmadiyah ini memiliki juga sistem penanggalan tersendiri selain kalender Hijriah dan Masehi. Kalender mereka itu, mereka namakan Hijri Syamsi yang disingkat HS. Nama bulan dalam kalender HS ini, yakni:  1. Suluh; 2. Tabligh; 3. Aman; 4. Syahadah; 5. Hijrah; 6. Ihsan; 7. Wafa;  8. Zuhur; 9. Tabuk; 10. Ikha’; 11. Nubuwah; dan 12. Fatah. Tahun Ahmadiyah saat ini adalah th 1395 HS (2016 atau 1437 H). Kewajiban menggunakan tanggal, bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut atas perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu: Basyiruddin Mahmud Ahmad

Bersambung... Insya Allah

Tulisan saya ini, tapi dengan gaya dan susunan penulisan yang berbeda dengan aslinya, bersumber dari:
Laporan: LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
 
Read more

Situs Sejarah Islam di Makkah Punah

Beberapa situs paling suci bagi umat Islam, Mekkah, di Arab Saudi terancam punah. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi terancam punah. Pemerintah Kerajaan di Riyadh setuju dengan pembangunan Masjidil Haram menjadi kawasan megapolitan. Akibatnya, beberapa peninggalan sejarah Rasul Muhammad saw dinyatakan hilang.

The Independent baru-baru ini mengatakan upaya penyulapan kawasan Masjidil Haram menjadi kawasan elitis telah berlangsung sejak sepekan lalu.

Sebuah dokumentasi yang dilansir beberapa media internasional menunjukkan aktivitas pengerukan tanah di sebelah timur Ka'bah. Jejeran eskavator melubangi lahan dan membumihanguskan beberapa situs bersejarah Islam.

Dikatakan, situs yang telah hancur adalah tempat Rasul Muhammad mengawali perjalanan Isra' Mi'raj (620 M). Situs lain yang ikut dihancurkan adalah kolom peninggalan Dinasti Ottoman dan Dinasti Abbasiyah.(Sumber Buletin Jumat Masjid Attaqwa Pancor)
Read more

5 CARA AMAN MENGHADAPI WAHABI / SALAFI

5 CARA AMAN MENGHADAPI WAHABI / SALAFI


Sudah bukan rahasia lagi sebagian kalangan yang berpaham Wahabi/Salafi memiliki mulut usil karena sering mempermasalahkan kebiasaan masyarakat Islam di mana saja, seperti peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ziarah kubur, qunut subuh, tahlilah, ratiban, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do’a berjamaah, zikir keras berjamaah, bersalaman sesudah salat, tawasul, dan lain sebagainy. Hal itu mereka lakukan dalam rangka menyebar pengaruh dan paham di masyarakat yang mereka sering anggap “tersesat” atu “musyrik” dengan sebab melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Dalam hal ini, mereka bersikap seorang da’i yang ingin mengembalikan masyarakat yang tersesat kepada jalan agama yang benar (menurut mereka), walaupun anehnya, yang sering mereka dakwahi adalah orang-orang awam yang tidak mengerti. Padahal, mereka seharusnya memperioritaskan kalangan orang alim yang lebih patut “dikasihani” dan didakwahi karena sudah terjerumus sangat jauh dalam “keyakinan sesat”. Ternyata, itu tidak berani mereka lakukan, karena tentunya mempengaruhi orang awam jauh lebih mudah daripada orang alim. Berarti dakwah mereka tidak bisa disebut “mengembalikan orang sesat kepada jalan yang benar”, lebih tepat disebut “Merekrut pengikut dangan memanfaatkan keawaman dan ketidakmengertian orang”.

Ya! Serigala hanya menyerang kambing gembala yang terpisah dari rombongannya! Ia tidak akan mendekati kambing-kambing yang diawasi oleh penggembalanya, apalagi menyerang penggembala yang sedang memegang senapan. Karena itu, bila keusilan ini terjadi, maka lakukanlah langkah-langkah berikut ini secara berurutan:

1. Hindari pembahasan agama dengan Wahabi/Salafi


Langkah ini ditujukan untuk menghindari perdebatan yang dapat memancing emosi yang bisa berakibat percekcokan dan rusaknya silaturrahmi. Sebab, tidak jarang mereka yang usil ini masih memiliki hubungan keluarga, nasab, atau kekerabatan dengan anda. Menjaga hubungan baik jauh lebih utama daripada mendengarkan penjelasan atau dakwah yang berpotensi merusak hubungan baik itu.

Misalnya, ketika ia mulai berkata, “Dalam beragama kita harus sesuai dengan al-Qaur’an dan hadis-hadis yang shahih”, atau “Tahlilan dan maulid tidak diperintahkan di dalam agama dan tidak ada dasar atau dalilnyadari al-Qur’an dan hadis”, atau “Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah-tambah”, atau “Kalau ada waktu, saya harap anda hadir di pengajian rutin tempat saya”, dan lain sebagainya.

Maka jawablah dengan kalimat penghindaran atau pengalihan topik pembicaraan seperti: “Maaf, saya tidak begitu tahu soal dalil atau dasar. Saya cuma mengikuti apa yang diajarkan oleh para orang tua, para guru, dan para ulama. Dan saya yakin mereka punya dalil atau alasan yang kuat.”

“Maaf saya sedang tidak ingin membahas masalah agama. Jadi kita bahas masalah lain saja.”

“Sudahlah, tentang pengamalan agama, masing-masing kita punya alasan. Lebih baik ita bicarakan peluang bisnis apa yang bisa kita garap.”

“Sayang sekali, saya tidak bisa menyempatkan diri hadir di pengajian anda. Lagipula, pengajian kan bukan di tempat anda saja.”

“Maaf, saya sudah punya jadwal pengajian sendiri.”

“Maaf, saya harus pergi karena ada urusan.” (Ini apabila dia terus memaksa anda untuk membahas agama).

2. Pinjamkan Buku-Buku yang Ditulis Ulama Aswaja


Biasanya, sikap seseorang membenci suatu perkara adalah akibat dari ketidaktahuannya tentang alasan-alasan yang ada dibalik perkara tersebut. Jadi, bila mereka tidak berhenti mengajak anda  untuk membahas masalah maulid, tahlilan, atau yang lainnya, maka pinjamkanlah kepadanya buku-buku yang anda punya yang membahas tentang hal-hal tersebut secara detail (tentunya anda harus punya, dan pernah membacanya). Suruhlah ia membacanya dengan pikiran terbuka, bukan dengan pandangan sinis. Dengan begitu anda telah memberinya jawaban tanpa harus berdebat dengannya. (Di antara buku yang sangat gamblang membahas hal-hal tersebut yang harus anda miliki adalah “I’tiqad Ahlus-Sunnah wal Jama’ah” dan “40 Masalah Agama” yang ditulis oleh KH. Siradjuddin Abbas, juga buku “Kupas Tuntas Ibadah-ibadah Diperselisihkan” yang ditulis oleh Syekh Ali Jum’ah seorang Mufti di Mesir). Dan ingat, jangan baca buku-buku Wahabi tanpa didampingi oleh orang alim.

3. Ajak Orang Wahabi dan Salafi Itu Kepada Guru, Ustadz, Kiyai, atau Habib


Bila keusialn itu berlanjut diberbagai kesempatan atau pertemuan di kemudian hari, dan orang usil itu terus-menerus berupaya mempengaruhi atau membuka peluang perdebatan tentang urusan agama, maka ajaklah dia untuk membahasnya bersama guru atau ustadz anda, atau orang alim yang anda kenal. Dan jangan biarkan dia yang membawa anda kepada gurunya, sebab dengan begitu anda dikhawatirkan terkena pengaruh buruknya.

Misalnya, dalam kesempatan-kesempatan lain orang usil ini mengajak anda untuk kembali membahas urusan agama, maka katakanlah:

“Untuk lebih jelas mari kita bahas masalah ini bersama guru/ustadz saya.”

“Sebaiknya kita bahas masalah itu di rumah atau di majlis pengajian guru saya.”

“Ustadz saya lebih mengerti tentang itu, kalau anda mau, saya antar anda untuk menemuinya.”

Dalil sikap ini adalah firman Allah dalam surat an-Nahl : 43 : “…..maka bertanyanlah kepada orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahuinya.”

4. Tunjukkan Penolakan yang Tegas


Bila ternyata, langkah 1-3 tidak berhasil, maka tunjukkan penolakan yang tegas kepada orang usil itu dengan mengatakan: “Kalau anda ingin hubungan kita tetap baik, tolong berhenti membahas agama dengan saya.”

“Saya tidak suka membahasa keyakinan saya. Cukuplah sampai di sini, jangan anda lanjutkan.”

“saya berhak melakukan apa yang saya yakini, tolong jangan permasalahkan lagi.”

“Bila anda tidak berhenti membahas, berarti anda sudah tidak menghargai saya. Dan saya tidak perlu mendengarkan anda lagi.”

5. Ancaman Perlawanan Secara Kasar


Bila langkah tersebut juga belum berhasil, maka tunjukkan ancaman perlawanan terlebih dahulu, mengingat orang usil ini sudah sampai pada tingkat memaksakan kehendak, dan itu melanggar undang-undang agama sekaligus undang-undang negara. Maka nyatakan perlawanan anda dengan agak keras, dengan mengatakan: “Diam, atau anda akan saya laporkan kepada yang berwajib.”

“Cukup, atau anda akan saya tindak tegas!”

“Kesabaran saya sudah habis, lebih baik anda pergi sebelum emosi saya tidak terkendali!”

“Jangan paksa saya, atau saya akan perangi anda!”

Dalil sikap ini adalah sabda Rasulullah Saw: “Akan keluar suatu kaum di akhir zaman, orang-orang muda usia, pendek akal, mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan manusia (al-Qur’an, atau hadis, atau perkataan baik yang bertolak belakang pengertiannya) yang tidak melampaui kerongkongan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka). Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Maka, di mana saja kamu jumpai mereka, perangilah, karena di dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi yang melakukannya.” (HR. Bukhari)

Ulama menafsirkan, “orang-orang muda usia yang pendek akal” itu adalah kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang sakit hati kepada Ali bin Abi Thalib Ra. dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra. beserta para pendukung keduanya. Ciri mereka kemudian dikenal dengan sikap bermudah-mudah menganggap sesat orang lain. Dan seorang ulama besar bernama Syekh Ibnu Abidin menyatakan, bahwa Khawarij di zaman kita ini adalah golongan Wahabi (lihat al-Maqaalaat as-Sunniyah, hal 51).

Semoga langkah terakhir ini tidak perlu terlaksana, apalagi implementasinya, dan semoga mereka mengerti dengan langkah yang pertama saja sehingga tidak melanjutkan keusilan mereka terhadap orang-orang yang gemar Maulid, qunut Shubuh, ziarah ke makam wali, atau tahlilan. (Buletin Jum’at MB. Attaqwa, Pancor)
Read more

Tiga Kelompok yang Dibenci Rasulullah

Tiga Kelompok yang Dibenci Rasulullah - Dalam kitab Riyadhush Shalihin, Imam Nawawi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Imam At- Turmudzi dari Jabir RA. Pada suatu kesempatan, Nabi SAW berkumpul dengan sahabatnya, lalu memberi petuah yang menggetarkan hati.

"Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya dengan aku di Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, sungguh yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh duduknya dengan aku di Hari Kiamat adalah al-tsartsaruun dan al-mutasyaddiquun serta al-mutafaihiquun," sabda Rasulullah SAW.

Lalu para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, kami mengerti al-tsartsaruun dan al-mutasyaddiquun. Tapi, siapakah al-mutafaihiquun itu?" Beliau SAW menjawab, "al-mutakabbiruun."

Melalui hadis ini, Nabi SAW hendak mengingatkan umatnya akan tiga perkara yang paling dibenci-nya karena termasuk akhlak al-mazmumah (perilaku buruk) yakni:

1. Al-Tsartsaruun 


Al-tsartsaruun adalah orang yang banyak celoteh dan suka membual. Golongan pertama yang dibenci Nabi SAW adalah pembual atau pendusta yang banyak cakap dan lagunya, serta pandai pula bersilat lidah. Kadang disertai argumen logis dan yuridis, namun mengandung kebohongan dan tipuan. Kalau bicara seenaknya, kurang menjaga adab dan menyela pembicaraan.

Nabi SAW berpesan, "Katakanlah yang baik atau diam." (HR. Bukhari). Banyak kata tapi sedikit makna dan tidak sesuai fakta. Mereka itulah orang-orang munafik yang apabila ia berkata ia dusta, bila berjanji ia ingkari dan bila dipercaya dikhianati. (HR. Bukhari). Jangan percaya kepada orang yang banyak cakap, tapi minim amal atau tidak sesuai dengan lakunya (QS [61]: 2-3).

2. Al-Mutasyaddiquun


Al-Mutasyaddiqun adalah orang yang suka bicara berlebihan kepada orang lain. Golongan kedua yang dibenci Nabi SAW adalah orang yang berlagak fasih dengan tata bahasa yang menakjubkan. Jika bicara, bumbunya berlebihan hingga tak sesuai kenyataan.

lihai dalam bertutur kata, tapi hanya ingin dapat pujian. Tidak jarang pula, bahasanya indah namun berbisa (menghinakan). Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.

Dalam diri manusia ada hati (wadah), akal (pengendali) dan hawa nafsu (keinginan). Jika hati kotor maka yang keluar dari lisan pun kotor. Jika baik maka yang keluar dari ucapan juga baik (QS [91]: 8-10). Alquran menyindir manusia yang perkataannya menarik, tetapi palsu belaka (QS [2]: 204, [22]: 30).

3. Al-Mutafaihiquun


Al-Mutafaihiquun adalah orang yang suka membesarkan diri. Golongan ketiga yang sangat dibenci Nabi SAW yakni orang yang sombong atau angkuh. Kesombongan pertama adalah ketika Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam AS, lalu ia pun dikeluarkan dari surga (QS [5]: 29-35).

Fir'aun yang mengaku Tuhan (QS [79]: 23-25, [28]: 38), akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah. Qarun yang pongah karena harta kekayaannya (QS [28]: 76-82), dilenyapkan ke perut bumi. Raja Namrudz yang menyetarakan diri dengan Allah SWT. (QS [2]: 258), justeru dimatikan oleh seekor nyamuk.

Nasihat Imam Abu Athaillah dalam Hikam perlu kita renungi, "Kemaksiatan yang menimbulkan rasa hina dan penyesalan, lebih baik dari ketaatan yang melahirkan bangga dan kesombongan."

Tetaplah rendah hati, karena keangkuhan adalah awal dari semua kejatuhan. Jangan sombong di depan orang tawadhu, nanti kau dipermalukan. Jangan pula rendah hati di depan orang sombong, nanti kau dihinakan. Allahu a'lam bish-shawab. (Oleh: Dr. Hasan Basri Tanjung. Buletin Jumat MB. Attaqwa Pancor).
Demikian Tiga Kelompok yang Dibenci Rasulullah, semoga ilmu dan nasehat yang terkandung dalam artikel ini dapat kita renungkan dan fahami dan kemudian dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Amin Ya Mujibbasaa'ilin.
Read more

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta - Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui dibagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak.

Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya dusta.

Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah  Swt. dalam firman-Nya. Bagian otak tersebut disebut Alquran dengan nama ‘nashihah’ atau ubun-ubun.

Yang mengagumkan adalah bahwa Alquran sejak berabad-abad yang telah lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:

Allah Swt telah berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16: “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. (Yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.

Maksudnya: memasukkan ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.

Al-Qur’an memberikan sifat 'mendustakan lagi durhaka'. Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.

Maha Suci Allah yag telah menyatakan fakta ini - Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta -  yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang. (MB. Attaqwa Pancor)

Saran untuk Anda baca: 10 KESEMPATAN PENEBUS DOSA
Read more

'Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Shaffar bercerita

'Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Shaffar bercerita, "suatu malam aku mendatangi Aswad ibn Salim. Kudapati dia sedang menangis dan berulang-ulang melantunkan dua bait syair:

Kelak aku berada d ihadapan Tuhan
Yang menanyaiku dan menyingkap segala
Cukuplah aku melintasi jembatan mata pedang dengan api
Berkobar-kobar di bawahnya.

Tiba-tiba ia berteriak dan pingsan sampai subuh."

Diceritakan bahwa al-Dhahhak ibn Muzahim bertutur:

Suatu malamaku pergi ke masjid Kuffah. Aku melihat seorang pemuda yang bersujud seraya menangis di halaman masjid. Aku yakin, ia seorang wali Allah. Aku pun mendekatinya. Kudengar ia berucap:

Kepada-Mu, wahai Zat Yang Mahaagung, aku bersandar
Berbagialah manusia yang bertuhankan Engkau
Berbahagialah orang yang melewati malam dengan
tangisan mengadukan musibahnya kepada Zat Yang Mahabesar
Tidak ada rasa sakit dan derita pada dirinya kecuali cinta kepada
Tuhan dan rindu
Kala menyendiri bermunajat dalam kegelapan malam
Allah menjawab dan menyambutnya dengan mesra
Hamba Allah menerima karunia Tuhannya telah dekat
sehingga tenteramlah jiwanya

Ia terus menangis seraya mengulang--ulang syair tersebut. Aku kemudian turut menangis. Tiba-tiba muncul cahaya laksana kilat yang menyambar. Aku segera menutup mata. Kudengar suara yang enak didengar, tidak seperti ucapan manusia, menyeru dari atas kepala sang pemuda:

Kusambut engkau, wahai hamba-Ku, dan Ku lindungi dirimu
Telah Kuterima semua ucapanmu
Suaramu dirindukan oleh para malaikat-Ku
Kami telah mendengarnya dan cukuplah itu bagimu
Walau angin berembus dari berbagai arah ia selalu
menyungkur di hadapan-Ku
Itulah hamba-Ku yang berjalan dalam hijab-Ku
Saat ini telah Kami ampuni dosa-dosamu.

Al-Dhahhak melanjutkan:

Demi Tuhan, itu adalah munajat sang pencinta kepada kekasihnya. Aku jatuh pingsan karena melihat keagungan-Nya. Saat sadar, aku mendengar suara gaduh para malaikat di angkasa serta gemuruh kepakan sayap mereka di antara langit dan bumi. Sepertinya langit amat dekat dengan bumi. Kulihat cahaya yang mengalahkan terangnya bulan.Malam itu begitu terang berlimpah cahaya. Aku lalu menghampirinya dan memberi salam. Ia menjawab salamku. Aku berujar, "Semoga Allah memberimu keberkahan. Siapakah gerangan engkau?" Jawabnya, "Aku Rasyid ibn Sulayman." Nama itu kukenal karena pernah mendengarnya. Aku berkata, "Semoga Allah memberimu rahmat. Andaikan engkau mengizinkanku untuk menemanimu, tentu aku sangat senang." "Tidak, Tidak. Mungkinkah orang yang menikmati munajat dengan Tuhan senang bersama makhluk?" timpalnya. Ia lalu pergi. Semoga Allah meridhainya.

Baca artikel sebelumnya: Mengapa Mengantuk Padahal Kalian Terjaga.
Read more