Zikir dengan Hati dan Lisan

Zikir dengan Hati dan Lisan


Zikir kepada Allah Swt. itu boleh dengan hati dan boleh juga dengan lisan. dan yang paling utama adalah zikir dengan hati dan lisan, artinya zikir tersebut diucapkan dengan lisan lalu dibarengi dengan hati.
Zikir dengan Hati dan Lisan
Kalau sekiranya, seseorang mau memilih di antara keduanya, lisan dan hati, maka yang lebih afdal di antara keduanya adalah berzikir dengan hati.

Tidak boleh orang meninggalkan zikir lisan dan zikir hati karena takut disangka riya oleh orang lain. Karena zikir itu dilaksanakan niatnya hanya semata-mata karena Allah Swt. Kalau sudah berniat hanya karena Allah, maka janganlah peduli sangkaan seperti itu, toh itu dilakukan bukan karena pamer atau riya, tapi itu menunjukkan kerendahan kita di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Justeru ditakutkan orang yang meninggalkan beramal karena manusia, malah terperosok ke dalam riya itu. Seperti yang dikatakan oleh Abu Fudhail bi ‘Iyadh, sebagai berikut:

“Tidak beramal lagi karena manusia adalah riya. Beramal karena manusia adalah syirik. Apabila kamu beruntung mendapatkan pemeliharaan Allah dari keduanya, itulah namanya Ikhlas.”

Itulah sebabnya tidak sepatutnya manusia meninggalkan zikir hanya karena takut disangka riya oleh orang lain. Lain halnya, jika dia berzikir itu karena niat awalnya supaya mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, bukan hanya riya saja yang akan melekat, tapi bisa jatuh ke dalam syirik karena mengharapkan faedah atau manfaat dari sesama makhluk.

Bukankah riya itu adalah syirik kecil?

Imam An-Nawawi juga berkata:

“Seandainya dibukakan kepada mereka pintu kesempatan untuk mengamat-ngamati perbuatan orang lain maka setiap orang akan menghindar dari sangka-sangka orang lain yang tidak benar kepada dirinya dan niscaya tertutuplah baginya kebanyakan dari pintu kebaikan dan tersia-sialah darinya sesuatu yang besar dari urusan agamanya yang lebih penting. Cara ini bukanlah jalan yang ditempuh oleh para arifin (orang-orang yang selalu dekat kepada Allah)."

Diriwayatkan di dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim dari Aisyah r.a., ia berkata:
Turunlah ayat, “…..Jangan kamu menyaringkan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula kamu merendahkannya…..” (QS. Al-Isra’: 110).

maksudnya pada doa di dalam shalat. (Imam An-Nawawi).

Berkata Ibnu ‘Abbas r.a., “Artinya: Iangatlah Allah pada malam dan siang, di darat dan di laut, dalam perjalanan dan di tempat tinggal, waktu kaya dan miskin, waktu sakit dan sehat, secara berbisik dan dengan terang-terangan”.

Baca artikel sebelumnya Membaca Alfatihah, Zikir dan Doa Untuk Orang yang Meninggal.

Demikianlah keterangan tentang bolehnya ber-zikir dengan hati dan lisan yang dapat kami ketengahan kepada para pembaca yang budiman sekalian. Marilah kita terus dan biasakan diri kita berzikir kepada Allah Swt dengan demikian Dia juga akan senantiasa mengingat kita.


Komentar